Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 71 - Meleburkan Perasaan dan Bahaya


__ADS_3

Marwah mendongak, memandang pada meja restoran yang besar dan lebar. Meski sedikit berdebar, ditemani Rambo ia duduk menanti mertua dan kakak iparnya datang, makan siang bersama.


"Tenanglah, niatmu baik pasti Tuhan akan membantu melancarkan." Rambo tersenyum sambil menggenggam tangannya.


"Iya Mas."


"Roti gorengnya sudah disiapkan?"


Marwah menunduk dan mengambil keranjang kecil di sampingnya, lalu menaruhnya ke atas meja. "Sudah Mas, aku minta diajari Kania sebelum kita menikah. Semoga Mbak Rani suka, ya?!"


"Pasti!"


Sinar matahari siang memancar di sekeliling mereka, menambah kesan asri dalam tempat makan keluarga itu. Sementara menunggu keluarganya datang, Rambo berpamitan ke kamar mandi sebentar.


"Rambo tidak mengatakan bahwa kamu datang sendirian," sahut bu Amy yang datang menarik kursi tiba-tiba.


Langsung Marwah mengangkat kepala dan berdiri untuk memberi hormat pada mertua dan iparnya yang baru sampai.


"Aku ke sini dengan Mas Rambo kok bu, tapi Mas ke kamar mandi barusan." Kata Marwah, senyum tak pernah lepas dari raut wajahnya sehingga ibu Amy tak berkutik untuk menindasnya. "Ibu dan Mbak Rani apa kabar? Mas Erwin kenapa belum datang?"


"Mas Erwin ada rapat di kantor jadi belum bisa membersamai undanganmu." Dokter Rani menjawab dengan nada datar tanpa melakukan kontak mata sedikitpun dengan Marwah.


"Oh, baiklah aku mengerti. Bagaimana kabar ibu dan Mbak Rani?" Marwah mengulangi kata-katanya.


"Kamu ini memang suka bicara yang tidak penting. Kamu sendiri bisa lihat dengan mata kepalamu bagaimana kondisi kami sekarang, kalau kami datang ke sini, badan masih lengkap, muka cerah, sudah sangat jelas kabarnya. Ibu tidak suka obrolan tidak penting seperti ini. Membuang waktu!"

__ADS_1


"Aku senang sekali bisa bertemu ibu lagi, Mbak Rani juga. Jujur saja aku sedikit gugup, tapi aku sangat bersyukur karena Ibu juga Mbak Rani mau datang ke sini, makan bersama kami," Jawab Marwah. "Aku tahu Ibu dan Mbak Rani sehat, mataku melihatnya secara fisik. Tapi menanyakan kabar itu bukan hal yang tidak penting, kita tidak tahu seberapa banyak orang peduli tentang keadaan kita."


Dokter Rani merasakan sesuatu yang mengganjal pada perasaan Marwah saat mengatakan itu, ledakan rasa sentimentil membayangi pikirannya, tapi dokter Rani tetap memilih diam.


"Oh, ya Mbak. Aku punya sesuatu," tambah Marwah sambil menarik keranjang rotinya untuk memberikannya pada dokter Rani. "Tadi pagi aku buat roti goreng kismis, diajari Kania beberapa waktu lalu. Aku dengar Mbak Rani suka roti goreng, jadi aku coba buat."


Di saat itu, dokter Rani diam beberapa saat. Dia tidak menginginkan roti ini, entah mungkin karena masih merasa sungkan pada Marwah, juga tidak ingin terikat dengan wanita yang membuat keluarganya renggang. Namun... ia juga tidak bisa terus acuh, ini berlawanan dengan hati nuraninya. Marwah sudah susah payah menyiapkan ini, hanya untuknya. Dan ia sendiri memahami bahwa kini, adik iparnya itu tengah berusaha untuk dekat dan menghubungkan kembali keluarga mereka.


"Terima kasih, Marwah. Aku akan mencicipinya nanti setelah selesai makan siang."


Satu helaan napas lega datang dari Marwah, tanpa disadari senyumnya langsung mengambang ketika dokter Rani berkata demikian, "Aku yang berterima kasih Mbak, terima kasih sudah mau menerima roti buatanku. Kalau begitu, bagaimana kalau makanannya kita pesan sekarang. Tadi aku sudah minta buku menu, Mbak Rani mau makan apa, Ibu pesan apa?"


Melihat mata Marwah yang menyorotnya begitu bening, Dokter Rani merasakan panggilan naluriah itu. Marwah tulus dan niatnya baik, hingga detik itu pula ia berusaha meyakinkan diri; tujuan mereka sama, ingin rukun. Karena itu, Ia akan mendukung keinginan Marwah. Mengalahkan rasa ego dan kebenciannya dan mulai membebaskan keadaan, membiarkan Marwah memerankan perannya sebagai ipar di kehidupannya, dan seiring waktu berlalu, dokter Rani meyakini Marwah mungkin nantinya akan membawa warna baru di keluarga besar mereka nanti.


"Mbak mau makan gurame goreng dan tumis kangkung." Jawabnya sambil tersenyum, senyum pertama untuk Marwah. "Kalau Ibu mau pesan apa?"


Walaupun masih nampak kasar di pandangan orang lain, tapi ini sudah cukup menyenangkan untuk Marwah. Bisakah ini disebut angin segar? Bisakah Marwah menganggap ini sebagai permulaan yang baik? syukurlah...


"Bagaimana kuliahmu? Ibu dengar dari Rambo kamu ambil jurusan pendidikan." Ibu Amy menyahut dari seberang meja, selagi pelayan mencatat pesanan mereka. "Kenapa ambil jurusan itu? kamu ini bagaimana sih, seharusnya ambil jurusan yang bisa menunjang Rambo dan keluarga besar kita. Teknik, hukum, ekonomi... Itu bagus." Tambahnya.


Lalu Marwah sambil mengecap ludah, mulai bersiap memberikan penjelasannya. "Jurusan yang ibu sebutkan tadi memang sangat bagus bu, Marwah pun sangat mengaguminya. Tapi, bagi Marwah, sebagai seorang istri yang juga suatu saat akan menjadi ibu, perempuan memiliki peran penting sebagai madrasah pertama untuk anak. Mas menjalankan perannya sebagai suami sebaik dan semaksimal mungkin, karena itu Marwah pun ingin menunjang hidupnya dan keluarga besar kita dengan menjadi rumah yang baik untuk mereka. Menjalankan peran seorang istri, menantu, ipar, sekaligus Ibu yang mencetak generasi beradab dan berilmu. Itu semua lebih dari cukup untuk melengkapi dan membantu Mas Rambo di dalam keluarga."


Marwah meyakinkan diri, bersikap apa adanya seperti yang dinasihatkan Rambo sebelumnya. Percuma jika orang menyukai kamu, tapi kamu kesulitan untuk bertingkah yang mereka inginkan. Itu tidak akan langgeng, karena kamu disukai sebagai orang lain dan suatu saat kamu pun akan merasa jenuh dengan peran itu. Lain hal, jika orang lain menyukaimu sebagai diri sendiri, kamu yang apa adanya... Pasti lebih menyenangkan. Rambo mengatakan itu padanya tadi pagi.


"Seperti ibu, Marwah sendiri awalnya sempat ragu untuk mengambil jurusan pendidikan. Tapi, Mas Rambo mencoba memberi pengertian, kalau apa pun yang ingin kita lakukan turutilah hati nurani, apa yang menjadi tujuan kita di awal. Pada intinya, Mas pernah berkata; semua jurusan itu sama, tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk, dan semua jurusan pun akan memberikan kita ilmu." Tambahnya, sembari kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas tentengnya di kursi sebelah.

__ADS_1


Ibu Amy sejenak tertegun dengan penjelasan Marwah, ini cukup berbeda dari yang ia bayangkan. Perempuan dengan latar belakang pendidikan Sekolah Menengah seperti Marwah bagaimana bisa memiliki pemikiran yang mendalam soal peran wanita dalam keluarga, bagaimana bisa Marwah memahami pendidikan dasar tapi tak semua orang paham. Ini cukup mengejutkan.


"Marwah juga bawakan ini untuk ibu," dia menyerahkan sebuah buku fiksi tua dan agak tebal pada mertuanya, "Judulnya Merpati musim dingin, Marwah dengar dari Mas Rambo, ibu suka baca buku fiksi kalau lagi senggang. Mas juga sering cerita perjalanan cinta Ibu dan Bapak dulu waktu muda, benar-benar menginspirasi... Menurut Marwah sangat mirip dengan buku itu, semoga Ibu ada kesempatan untuk membacanya. Pasti suka."


Ibu Amy memandangi sampul buku itu, berwarna putih dan agak lusuh, tapi dia tersenyum tipis, bahkan mata senjanya hampir berkaca. "Buku ini, Ibu pernah baca dulu, berdua dengan bapak. Tapi sudah lama sekali, bukunya tersimpan di gudang karena ibu sibuk kerja. Sekarang bisa melihatnya lagi... "


"Ibu sudah berusaha keras," sahut Marwah. "Sekarang waktunya meluangkan sedikit waktu untuk istirahat."


Dan tanpa disadari seorangpun dari mereka, Rambo menyimak dari balik dinding. Sengaja tak bergabung, memberi ruang untuk istrinya berjuang. "Sudah ku katakan, kamu bisa sayang." katanya pelan.


...****************...


"Saudara Norman, ada yang membesuk."


Norman berjalan pelan keluar sel, sambil diiringi polisi penjaga lapas. Dahinya mengernyit sepanjang jalan, nampak jelas bagaimana ia kebingungan. Siapa yang jenguk? Pikirnya.


"Man," sambut pria tinggi berkepala botak itu sambil merangkul Norman. "Aku terkejut dengar kabar kamu masuk penjara dari orang-orang kampung."


Mantan suami Marwah itu langsung kaku, "Robinson, sejak kapan kamu balik ke sini?"


"Kemarin," jawabnya. "Aku cari kamu, tapi kata orang masuk penjara. Sial! berani seret kamu ke sini! Orang bilang terakhir kamu bertengkar dengan pria gondrong, selingkuhan istrimu."


"Sudahlah, aku juga menikmati saja tinggal di sel."


"Diamlah man! ini cukup meremehkan geng kita, kamu masuk penjara, preman lain bertindak semaunya, makanya aku balik ke sini." Robinson mengayunkan tangannya, menyapu semua yang dikatakan Norman. "Aku tidak rela, sakit sekali hatiku lihat kamu di sini. Pasti kucari dan ku balas orang gondrong itu untukmu."

__ADS_1


Raut wajah Norman langsung berubah, seram dan sangat menakutkan. "Jangan sekali pun, satu senti saja kamu coba menyentuh dia. Kamu yang akan ku bunvh!"


__ADS_2