Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 14 - Temui Mertua, Aku Ingin Pisah


__ADS_3

Setelah semua keributan itu, Rambo memutuskan pergi ke luar rumah, mencari ketenangan sembari menikmati matahari terbit di pantai paling timur kota.


Rambo menggeleng dan menghirup udara laut dalam-dalam, ia mulai muak dengan semua suratan takdir ini. Udara lembab dan dingin menusuk tulangnya. Wisatawan mulai berdatangan, semakin langit terang semakin banyak pula kerumunan yang membuatnya semakin tercekik. Deretan muda mudi dan mobil membuatnya kesal. Ia merindukan kehidupannya dulu sebelum mengenal perjodohan dan kehilangan Marwah dulu.


Walaupun kini ia telah memiliki keluarga, dan berbakti untuk terakhir kalinya pada orang tua, terutama pada mendiang bapaknya yang baru meninggal dua bulan lalu. Rambo tetap yakin, darahnya lahir dan tercipta untuk seorang perempuan bernama Marwah. Segala kebaikan, perhatian, dan karakter sederhana Marwah membuatnya tidak kerasan dengan rumah tangganya sekarang.


Rambo mengalihkan pandangan pada bayangan matahari yang mulai naik, dan fajar berganti menjadi pagi. Erin mungkin dianggap sempurna untuk jadi wanita pendamping bagi sebagian orang yang melihatnya nampak luar. Tapi bagi Rambo, yang sudah tahu seluk beluk istrinya itu, Erin sama saja seperti perempuan manja hasil kasih sayang yang berkepanjangan, sehingga emosinya gagal terbentuk, tempramen, egois, hanya peduli pada dirinya sendiri.


"Sedangkan Marwah, dia itu seperti matahari pagi ini.... hangat dan membuat tenang. Sinarnya terlalu bening, jadi penerang jiwa untuk orang yang gelap, kehilangan arah." Rambo tersenyum kecil, seperti itu terus saat mendapati masalah dan mengingat Marwah, maka suasana hatinya akan kembali tenteram.


Mata cokelatnya bersinar selagi mengawasi kerumunan orang di dekatnya. Mencari detak lembut energi berwarna yang akan menggiringnya pada Marwah.


Akhirnya, Rambo melihat kilatan pucat kemerahan membentang di ujung garis pantai. Rambo berjalan memutar kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas ke jalanan, tidak memperlambat laju mobilnya sedikitpun meskipun kendaraan mulai berlalu-lalang. Hari ini ia memutuskan untuk izin dari kantor, dan memutuskan untuk segera ke rumah orang tua Erin, mertuanya.


Darah Rambo mengalir lebih deras, detak jantungnya bergemuruh mengantisipasi perdebatan yang akan terjadi di rumah mertuanya nanti setelah ia menyampaikan niatan untuk bercerai dan mengembalikan Erin pada mereka. Inilah yang membuat perjuangannya layak dihormati segala insan pejuang cinta. Mengabadikan kekuatannya melawan segala garis takdir, satu demi satu. Hanya Marwah lah yang membuatnya terus menjalani kehidupan yang dilepas kebanyakan pria karena merasa hampa dan kalah dari rasa cinta.


"Rambo?"

__ADS_1


Perempuan tua yang hampir keriputan di seluruh wajah itu menyambut Rambo di pintu depan. Dia adalah Santi Merida, mama mertuanya.


"Pagi Ma---" Sahut Rambo pelan.


"Pagi, ayo masuk. Kamu datang sendiri? Erin di mana?"


"Aku sendiri ke sini, Ma. Erin tinggal di rumah." Jawab Rambo, langkahnya pelan mengikuti sang mertua ke dalam rumah.


Suara paduan halus antara sendok dan piring beling menyambut Rambo di ruang makan, Rambo pun berhenti. Kepalanya diangkat mengendus angin, dan tersenyum. Ia mendongak untuk mencari sorot mata Papa mertuanya di depan, kemudian menundukkan kepala selagi memutar meja makan hingga tiba di ujung meja.


Makan-makanan berat serupa nasi goreng dan buah-buahan mengkilap tersusun rapi di tengah-tengah meja, tapi Rambo tak tertarik pada semua itu. Ia hanya tertarik pada apa yang akan disampaikannya setelah makanan itu lenyap atau paling tidak setelah mertuanya selesai sarapan.


"Aku memang ada tujuan khusus pagi ini, Pa." Rambo kembali mendongak, seakan-akan ia tak ingin membenamkan diri lebih dalam. Seakan-akan tindakan itu membuatnya sama derajatnya dengan Hendro. "Aku tidak akan mengaku lelaki, jika tidak berani ke sini secara jantan dan baik-baik."


Semua diam, termasuk Mama Santi dan Papa Hendro. Tapi Papa mertua Rambo itu terlalu serius untuk menanggapi kata barusan, ia tahu bahwa Rambo akan menyampaikan suatu kabar yang kurang menyenangkan.


"Kau terlalu kaku sebagai menantu, memangnya datang ke rumah mertua harus ada tujuan khusus dulu? harus jadi jantan dulu? Aku memang agak seram tapi kamu tidak usah kerasan begitu, santai saja." Itu sambutan yang cukup pedas sebenarnya, terutama dari nada bicara Papa Hendro yang kurang ramah. "Ini masih pagi, pasti kamu belum makan, nikmatilah, Mama mertua mu buat nasi goreng ayam. Ambil lah mumpung masih panas." Lanjutnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pa. Tapi, aku belum lapar, aku sudah biasa tidak sarapan." Jawab Rambo sedikit menyindir. "Aku minta maaf datang ke sini tiba-tiba, atau mungkin apa yang akan ku sampaikan ini kurang menyenangkan."


Papa Hendro menatap Rambo dengan mata menyipit, Koran pagi ditanggalkannya sudah. "Apa ini tentang putriku?"


"Ya," jawab Rambo.


"Kalau begitu, katakanlah."


"Berat hati harus ku sampaikan ini, Pa. Tapi aku merasa sudah cukup lama menahan ini, Erina Widya Karisma, putri kandung Papa dan Mama yang kunikahi tiga bulan lalu, agaknya sudah tak sanggup lagi ku rengkuh. Aku minta maaf, aku berencana untuk bercerai dengannya." Jawab Rambo langsung ke inti. Memang, Rambo orang yang gemar bercanda dulunya, tapi bila serius, bahkan Anta Reza, sahabatnya pun tak berkutik.


"Apa masalahnya?" Sahut Papa mertua Rambo segera. "Orang ketiga atau KDRT? atau karena kalian belum dikaruniai anak?"


"Masalah ada pada pribadi kami masing-masing. Tidak sejalan, dan saling bertubrukan. Aku yakin Papa memang jauh lebih lama mengenal Erin, tapi bagiku selama 3 bulan hidup bersama dengannya, aku lebih paham bagaimana sifat Erin secara detail. Sebagai suami, aku masih banyak belum mendapatkan hak ku dari Erin, dan aku sangat memaklumi bila Erin belum pandai mengurus keluarga. Dan Erin sendiri, ku akui dia adalah anak yang sangat berbakti, tapi karena kelebihan itu aku menyadari ia belum siap dengan status barunya sebagai seorang istri. Sifatnya masih sangat labil, dan emosi masih belum terbentuk, selalu membara panas tanpa tujuan, persis anak gadis 20 tahunan yang beranjak dewasa. 3 bulan aku bertahan, sayangnya, sifat dan karakter itu kurang bisa ku taklukkan. Aku terlalu tua untuk terus memahami, Pa."


Papa Hendro menarik napas, kemudian mendengus dengan suara yang dapat didengar semua orang. "Itu kan masalah standar. Toh wajar, masih 3 bulan menikah. Kamu pun harus banyak sabar, Erin itu anak gadis satu-satunya wajar kalau sifatnya manja, aleman. Sebagai kepala keluarga, apalagi kamu sendiri bilang sudah tua, masa gamblang sekali ambil keputusan, cerai.. cerai.. cerai... itu kan kurang pantas. Masalah kurang cocok sifat dan lain-lain, itu masalah kecil. Kalian kan belum kenal satu sama lain, tinggal penyesuaian saja."


"Papa mu benar. Asal kamu tahu Rambo, Papa Mama, bahkan ibu bapak mu pun, pasti ada ketidakcocokan. Tapi kami toh saling terima, saling memaklumi. Coba evaluasi kekurangan dan jadikan itu kekuatan bersama. Lihat toh buktinya, langgeng sampai tua begini. Kamu juga seharusnya begitu dengan Erin, ini contoh anak muda sekarang ada masalah dikit langsung mau pisah." Timpal Mama mertua Rambo kemudian.

__ADS_1


Semua nampak santai, seakan menusuk ruang hati Rambo yang terdalam. Semua ini jauh dari bayangan pikirannya tadi, mengapa bisa keluarga Erin bicara demikian? Apakah dengan demikian perpisahan ini akan sulit? Sungguh sial! Rambo makin tertekan.


__ADS_2