
Paginya, aroma yang merebak dari dapur sanggup membuat polisi terkuat sekalipun berlutut. Dan jika aroma berbagai rempah itu belum cukup, pikir Rambo, yang harus ia lakukan hanya melihat kokinya.
Di dapur, Marwah bergerak gemulai bagaikan penari, hilir mudik antara kompor dan meja makan. Selagi Rambo dan Mang Abu menunggu sarapan siap; Nyonya muda sekaligus koki pribadi mereka berkonsentrasi pada persiapan makanan.
"Bi Inah, biar sekalian aku bantu potong sayurnya ya." Ucap Marwah menghampiri istri Mang Abu, sopir pribadinya itu; selagi menunggu ayam di penggorengan.
"Nyonya anda jangan terlalu lelah, saya benar benar khawatir dengan kondisi anda nyonya. Biar saya yang lanjutkan semuanya." Jawab perempuan tua itu, dia memegang punggung Marwah dengan lembut dan mengantarnya ke tempat duduk di meja makan.
"Bi Inah, terima kasih ya. Tapi aku sama sekali tidak apa apa kok. Tak apa selagi menunggu ayam ini masak, aku akan istirahat."
"Nyonya anda benar benar malaikat, padahal saya bekerja di sini untuk urus rumah tangga, tapi nyonya masih mau bantu. Saya tidak bisa berkata apa apa lagi, tapi kalau nyonya sudah lelah, tolong katakan, biar bibi antar ke kamar."
"Haha... Bi Inah berlebihan, ini masih pagi bi, tenaga belum terpakai sama sekali. Jadi, tenang saja."
Hari ini tepat sudah tiga bulan Bi Inah bekerja di rumah klasik dua tingkat itu, perut Marwah juga sudah semakin membesar karna saat ini usia kandungannya sudah 6 bulan, benar benar tidak terasa.
Bi Inah sendiri adalah orang yang sangat baik, dia benar benar perhatian, tak jauh berbeda dari suaminya. Pantas saja bila Rambo sangat percaya pada sepasang suami istri itu untuk membantu ia dan Marwah.
"Baunya sangat nikmat nyonya," Bi Inah mengaku sambil menghela napas.
"Ya betul, masakan nyonya paling enak," Mang Abu menyetujui, sedikit mengernyit kesakitan ketika istrinya menyikut perutnya dengan siku.
"Apakah kamu menyindirku sebagai koki yang buruk?"
"Mana mungkin," Mang Abu meyakinkan istrinya. "Hanya saja, bau masakan ini... berbeda."
"Ini hanya ayam goreng Mang," kata Marwah.
"Tapi baunya sangat wangi, tidak seperti yang pernah kami makan sebelumnya." Mang Abu kembali menjawab.
"Aku memang menambahkan bumbu di ayam ini," kata Marwah, mengangkat satu persatu ayam yang sudah matang keemasan. "Ayam ini pakai ketumbar dan bawang putih." Ia melirik ke Mang Abu dan istrinya. "Mau coba?"
__ADS_1
"Mamang boleh ambil satu, Nya?"
Marwah mengangguk dan tersenyum ramah. Lalu dengan cepat supir pribadinya itu mengambil sepotong paha ayam, sementara istrinya malu-malu.
"Bi Inah, ayam gorengnya sudah masak, aku letakkan ke meja makan ya." Marwah memutar badan sambil membawa satu piring besar ayam goreng ketumbar, dan perlahan membelakangi suami istri itu.
Namun sungguh sial, belum sampai Marwah ke meja makan, badannya sudah hilang kendali dan terhempas ke lantai. Kepalanya pening dan matanya berat tiba-tiba.
Bi Inah dan Mang Abu langsung membalikkan badannya ke arah Marwah saat pecahan piring terdengar keras. Ayam kebanggaan itu terkocar-kacir di lantai, dan mereka mendapatkan Marwah terguling tak jauh dari ayam-ayam itu.
"Nyonya?! Bangun, kaki anda mengalir darah nyonya." ucap bi sri, dia berlari ke arahku.
"Ehm?" Marwah berusaha menaikkan kelopak matanya yang sayu, ekspresi kaget muncul ketika ia melihat kedua kakinya sendiri, ternyata benar ada darah, ia kemudian melihat ke belakang di lantai sudah bercecer darah. Dia kenapa?
"Nyonya, anda pendarahan, mari nyonya saya antar anda ke rumah sakit!" ucap Mang Abu, dia segera bergerak ke gantungan dekat kulkas, mengambil kunci Mobil.
Lalu Bi Inah berteriak sekuat tenaga memanggil suami Marwah. "Tuan!!! Tuan!! Tolong nyonya!"
Dari kamar, Rambo mengernyit saat mendengar keributan itu. Cepat-cepat ia memasang seragamnya agar bisa turun ke bawah segera.
"Marwah?!" Pekiknya penuh was-was saat melihat Marwah tergopoh dipapah Bi Inah dan Mang Abu.
"Tuan,"
"Apa yang terjadi bi?" Rambo cepat menuruni anak tangga terakhir, kemudian mengambil kaki Marwah dan mengalungkan tangan istrinya itu ke leher maskulinnya. Kini, Marwah aman dalam gendongannya.
"Nyonya tiba-tiba jatuh di dekat meja makan, tuan."
Sementara Bi Inah menjelaskan, Marwah masih berusaha terjaga dan membuat kesadarannya tetap ada. "Mas... " bisiknya lirih.
Mang Abu gesit menginjak pedal gas, dan membanting setir begitu lihai. Meski usianya tak lagi muda, namun kondisi genting acap kali membangkitkan jiwa muda mang Abu di balik ke was-was-an tak terbendung ini.
__ADS_1
Roda tempat tidur tandu berputar berisik saat Marwah disambut para suster di rumah sakit. Rambo, Mang Abu dan Bi Inah berlari menuju ruang periksa Marwah. Di sana Dokter Rani sudah siap dengan alat tempurnya, setelah sebelumnya Rambo menelpon saat di perjalanan.
"Mbak, apa yang terjadi dengan Marwah? Bagaimana keadaannya? Apa karena dia kelelahan lagi?" tanya Rambo setelah beberapa menit kemudian Dokter Rani keluar ruangan.
"Tuan maaf kan saya, tidak bisa menjaga nyonya. Nyonya begini karena membantu saya siapkan sarapan." Ucap Bi Inah dari belakang, dengan suara pelan penuh rasa bersalah.
"Rambo---" ucap Dokter Rani dengan suara berat.
"Iya mbak, bagaimana keadaan Marwah?" Rambo menatap Kakak kandungnya penuh harap, sementara ia berusaha mengalihkan pikiran buruk yang memenuhi kepalanya. "Kali ini tidak mungkin hanya kelelahan biasa kan?" Tambahnya.
"Rambo, maaf istrimu pendarahan... " jawab dokter Rani.
"Sial, bagaimana bisa dia pendarahan, bukan kah selama ini kamu bilang dia hanya kelelahan? 3 bulan terakhir ini dia tidak pernah menjalankan aktivitas berat, aku selalu memberinya vitamin, Bi Inah selalu membantunya urus rumah tangga, pak An juga mengawasi dia, kenapa bisa pendarahan? Memangnya aku harus melakukan apa biar Marwah sehat, seperti Ibu hamil yang lain." Jawab Rambo kembali, penuh frustasi. Dia memukul tembok kuat-kuat dan bergetar.
"Aku minta maaf Rambo, selama ini Marwah memintaku untuk menyembunyikan ini semua dan berbohong padamu, sebenarnya....."
Sekitar 5 menit dokter Rani menjelaskan semua yang dirahasiakan Marwah, selagi mendengar itu semua Rambo langsung mematung, dunianya langsung berputar hampa, kebahagiaan mereka selama ini, tentang menyambut anak pertama, menghabiskan waktu bersama ibu Amy, Marwah yang selalu bercerita kebahagiaan saat Ibu Amy datang mengurusnya setiap Rambo bekerja; Ternyata istrinya itu, juga menyimpan hal yang tak terduga. "Ini cuma kebahagiaan sesaat." Gumam Rambo.
Dia murka, entah pada siapa. Dia sangat termakan emosi dan marah, tapi entah ditujukan pada siapa.
"Brengsek! Sial! Kenapa kamu harus menuruti keinginannya, Mbak? kamu tidak tahu ini bisa membunuh dia, kenapa kamu tidak Mengatakan nya padaku?! Kenapa?! Memangnya aku ini patung sampai kalian asyik main rahasiaan begini." Ucap Rambo gila, satu pukulan melayang lagi di tembok rumah sakit.
Dia terhempas di lantai, namun aku tidak menghentikan kekesalannya. "Apa aku ini sangat bodoh sampai dibohongi berbulan-bulan?" Sial, Rambo kini bersujud memukuli lantai.
"Rambo, cukup, sadarlah ini di rumah sakit," ucap dokter Rani berusaha menahan tubuhnya.
Tapi Rambo menepis tangan itu dan masuk ke ruangan Marwah. Di dalam, nampak di penglihatannya Marwah tertidur, wajahnya begitu pucat, siapa sangka, 6 bulan dia menutupi ini semua. Tidakkah dia tahu itu sangat berbahaya.
"Sayang kenapa kamu harus berbohong, haruskah aku kehilangan kamu?" Ucapnya lirih sambil menunduk.
Aku tidak mau kembali merasakan kehilangan kamu, seperti saat bertahun-tahun yang lalu, apakah aku harus kembali merasakan itu Marwah? Tidakkah cukup bagimu menyiksaku begitu? Katanya kali ini, di dalam hati.
__ADS_1