
Sekarang dokumen itu berada dalam genggamannya, Rambo merasa puas meski rintangan masih banyak menantinya setelah ini, tapi paling tidak sekarang ada secercah harapan untuknya bersatu dengan sang belahan jiwa. Bersama-sama si kuda besi hitam, dia berangkat ke kantor bekerja seperti biasanya. Meski belakangan ini, ia terus meminta izin datang terlambat karena urusannya dengan Marwah. Rambo selamat karena Anta Reza memaklumi.
Dan ketika malam tiba, dengan semangat tinggi seorang pejuang, Rambo cepat-cepat mengendarai mobilnya ke rumah ujung kota itu.
"Kamu sudah pulang, Om?"
Sambutan yang memang diharapkan Rambo selama tadi di perjalanan. Kata yang keluar dari bibir ranum kemerahan itu, begitu lembut seiring nada bicara Marwah yang halus.
Dulu kamu sangat berisik, sekarang sangat lembut dan penurut... Pikir Rambo.
"Maaf, malam-malam ganggu istirahat kamu. Tapi ada yang ingin kuberikan dan aku merasa tak bisa menundanya sampai besok pagi."
"Oh, ya?" Marwah memiringkan kepalanya sedikit. "Apa?"
Kilauan menakjubkan pada wajah kebingungan Marwah selalu mampu membangkitkan gairah Rambo yang tak pernah berhenti untuk terpesona. Seakan Marwah tak pernah memberikannya kesempatan satu kali pun untuk tak jatuh cinta padanya.
"Tutup dulu matamu."
Marwah mengikuti perintah dari Rambo, menutup kelopaknya yang jelita.
Rambo membalikkan badan dan mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Rasanya risih juga menyimpan benda petak tipis itu begitu lama, sampai beberapa kali perut Rambo tertusuk ujung kertasnya. Kini saatnya Rambo mengeluarkan benda rahasia itu, dikeluarkannya layaknya pesulap yang memberi kejutan kepada penonton.
"Bukalah matamu perlahan-lahan. Dan lihat."
__ADS_1
Marwah membuka matanya kembali, "Om---ini--" dia kemudian mendongak, mengubah pandangan pada Rambo, seakan ingin mendapatkan kebenaran tentang apa yang ia lihat sekarang.
Dan Rambo mengangguk untuk membenarkan.
Sebuah dokumen, seperti buku nikah berada di tangan Rambo.
"Ini buku nikahku?"
Rambo kembali mengangguk.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkannya Om?"
"Itu urusanku. Kamu cukup menunggu dan menerimanya saja." Jawab Rambo.
"Silahkan." Rambo tersenyum, entah sudah yang ke berapa kali. Seolah ia telah berada pada kebahagiaan yang sama, yang tengah dirasakan Marwah saat ini. Sebuah titik puncak perjuangan mereka untuk berpisah dari pasangan masing-masing.
"Sungguh milikku. Terima kasih, Om. Kamu selalu memberi harapan untukku, dan kamu selalu melakukan hal yang ku anggap tidak mungkin. Kamu melakukan segalanya secara tak terduga, dan aku sangat bersyukur untuk itu."
Jantung Rambo berdetak kencang tiba-tiba, saat kata-kata itu keluar dari mulut Marwah. Bukan karena kata-katanya yang terkesan berlebihan, tapi karena gambaran ekspresi Marwah yang begitu murni sampai membuat Rambo bergetar.
"Aku mendapatkan itu tidak gampang, ku harap kamu bisa mengambil langkah yang tepat setelah berkas itu berada di tanganmu sekarang." Kata Rambo memalingkan muka. "Maukah kamu mendaftarkannya secepat mungkin?"
"Aku akan mendaftarkan perceraiannya besok pagi." Sela Marwah, sesaat ketika Rambo menundukkan kepala.
__ADS_1
Malam yang begitu tenteram, bintang-bintang begitu meraja di atas cakrawala yang legam. Malam yang tenang, setenang bisikan jangkrik yang mulai datang. Rambo masih terhipnotis pada bayangan Marwah saat ini, kata yang begitu menggoda, dan tatapan mata yang begitu menggetarkan. Kecantikan yang tak pernah membuat Rambo jemu menikmatinya.
Wajar bila saat ini, hati Rambo jadi tak karuan---Ia akan segera tinggal berdua, bersama Marwah di satu tempat. Menikmati kebahagiaan yang sempat tertunda.
"Sama seperti kamu saat itu, Om; tolong tunggulah aku, sampai proses persidangan ku selesai," Lanjutnya, membuat Rambo semakin berdebar. "Sama seperti kamu juga, aku menantikan ini, lebih dari menantikan pelanggan kopi."
Dengan sekuat tenaga, Rambo berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Aku teramat malas menunggu, tapi karena kamu aku sampai terbiasa menanti bertahun-tahun. Jadi, tak masalah akan ku nantikan perpisahan mu."
Semakin malam, semakin panjang. Dan Rambo tak ingin menyangkal itu; ia ingin segera fajar datang. Namun sayang, ini bukanlah waktu yang tepat untuk menikmati fajar bersama, berdua di dalam kamar.
Rambo segera bangkit dari sofa, kemudian pamit kembali ke rumahnya sendiri. Menantikan pagi, dan melihat nama Marwah dalam daftar pengajuan gugat cerai. Meski bayangan ketakutan, jika rahasia tentang ibunya terbongkar, Rambo mencoba menepikan semua itu.
Demikianlah ketika pagi datang, Rambo dengan penuh semangat, mengantar Marwah menuju pengadilan. Tak butuh waktu lama, nama Marwah berhasil di registrasi...
"Pendaftarannya sudah selesai, untuk jadwal persidangan, segera kami kabari." Pegawai pengadilan yang mengurus daftar cerai itu, bahkan masih teringat jelas di pikiran Rambo.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanyanya pada Marwah.
"Aku berdebar, semoga persidangannya nanti berjalan lancar."
Dalam hati Rambo segera mengaminkan, inilah doa yang memang selalu ia panjatkan pada Tuhan. Persidangan yang seharusnya berjalan cepat dan mulus, seperti yang diharapkan Rambo.
Meski dengan begitu, ini akan sama artinya dengan; Ku tunggu jandamu...
__ADS_1