Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 82 - Antara Hidup dan Mati


__ADS_3

Kemudian esok paginya, seperti biasa Rambo pukul 7.00 sudah siap berangkat ke kantor dan Marwah masih berpura-pura tidur.


Saat suaminya itu pergi, sontak ia terbangun. Mata jernih Marwah perih menatap kosong semua yang ada di hadapannya sekarang, semalam rasanya masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


"Aahh, perutku sakit! Nak, kamu kenapa? jangan begini sayang, kamu dan mama harus kuat sampai kamu lahir lihat dunia." Marwah meringis sambil memegangi perut.


Namun sakit yang kali ini terasa lebih berbeda, sakit sekali, seperti arus kehidupan Marwah tersedot paksa keluar. Saat ini usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke 7, apakah akan pendarahan lagi? siapa yang tahu, hanya yang pasti kali ini sakit sekali hingga jantung Marwah melambai tidak kuat, dia memutuskan untuk memanggil Bi Inah.


"Bi, bi Inah tolong aku bi...." pekiknya dan terus berusaha teriak sekencang mungkin sampai tidak lama, Bi Inah dan suaminya, Mang Abu masuk ke kamar, mereka terengah-engah, dan Marwah menangis kesakitan.


"Nyonya anda kenapa? Apakah perut anda sakit kembali?" ucap bi Inah di ambang pintu, kemudian langsung berjalan dengan raut masygul hendak menghampiri Marwah.


"Oh Tuhan, nyonya!" Pekiknya histeris, "darah, anda pendarahan lagi nyonya. Abah, mari bantu saya, angkat nyonya, kita antar nyonya ke rumah sakit." Lanjutnya kembali.


Saat Bi Inah berteriak begitu, kepala Marwah terasa ringan, dan ia kembali kehilangan kesadaran.


Demikianlah tragedi dramatis itu terjadi, kini Dokter Rani telah menyambutnya di depan pintu masuk rumah sakit.


"Bi Inah, Mang Abu. bagaimana Marwah?" ucap Rambo sambil mengatur napas, begitu bi Inah mengabari tentang Marwah, ia langsung cepat.


"Nyonya di dalam masih diperiksa sama dokter Rani" jawab Mang Abu, mengusap punggung majikannya itu berharap sentuhan itu dapat memberinya dukungan.


Kemudian tidak lama, pintu kamar rawat terbuka, kakak Rambo, Dokter Rani keluar dengan raut wajah yang memancarkan kesedihan teramat jelas.


"Mbak, katakan bagaimana keadaan Marwah, dia baik-baik saja kan?"


"Rambo, maafkan aku harus mengatakan ini, tapi kita tidak bisa menunggu lama lagi Marwah mau tidak mau harus melahirkan sekarang, karna untuk menggugurkan kandungannya sekarang pun sudah terlambat. Hanya bisa melahirkan secepatnya." Jawab dokter Rani dengan nada pelan.

__ADS_1


"Jika memang itu yang bisa menyelamatkannya, lakukan cepat, Mbak." timpal sang adik.


"Tapi Rambo, sekali lagi aku tegaskan dengan berat hati ku katakan bahwa aku tidak bisa menjamin keduanya selamat, kemungkinan nya adalah 50 : 50, aku tidak bisa memberi harapan untukmu, bayinya mungkin bisa selamat, tapi Marwah, kemungkinannya hanya 20 - 30 % tuan."


"Sial," Rambo mengertakkan giginya tegang, "kamu mau bilang Marwah akan meninggal begitu,Mbak? Kamu jangan macam macam, kalau memang tidak sanggup aku bisa cari dokter yang sanggup untuk kedua orang terpenting di hidupku ini." Sahut Rambo marah. Dia mengepalkan tangan dengan kasar.


"Maaf Rambo tapi aku benar-benar tidak berani, aku telah mengatakan yang sebenarnya, jika tidak dilakukan operasi sekarang, maka keduanya tidak akan selamat."


Rambo kembali dicambuk emosi, dia sudah mengepal tangannya kuat, dan siap melayangkan pukulan ditembok rumah sakit yang putih, namun tangan itu langsung ditahan oleh Anta Reza yang menemaninya datang.


"Ram, kamu jangan bodoh. Mbak Rani tahu dengan jelas keadaan yang terbaik untuk Marwah dan bayi kalian. Kamu sekarang hanya bisa pasrah saja. Jangan berbuat onar, ingatlah pesan Marwah untuk mempertahankan anak kalian." kata Anta Reza sambil menahan lengan lelaki gondrong itu.


"Betul tuan, anda harus tenang, dan percayakan semuanya pada dokter. Beliau pasti akan melakukan yang terbaik untuk nyonya dan calon bayi." Bi Inah berkata selagi Rambo frustasi.


Rambo kemudian melepaskan kepalan tangannya dan mulai meregangkan badan, dia melemas lalu berkata; "Maaf, tolong selamatkan mereka berdua. Aku tidak bisa kehilangan mereka." ucapnya pelan.


Sementara dari dalam ruang rawat, Marwah telah sadar tanpa diketahui dan disadari siapapun. Perdebatan di depan sedari tadi telah merasuk menyiksa pikirannya.


Dia telah sadar dan mendengar keributan di luar, dan Marwah bisa dengar saat iparnya mengatakan ada kemungkinan tidak selamat dan Rambo marah-marah seperti anak kecil yang direbut permennya.


Air mata ini begitu tidak tahu aturan, dia keluar sembarangan tanpa persetujuan ku. kenapa kamu malah sedih, ini adalah keinginan kamu sendiri Marwah, jadi harus siap dengan konsekuensinya. Maaf aku hanya tidak siap meninggalkan mereka semua, masih banyak yang ingin aku cerita kan pada mereka. Marwah menggumam sambil berusaha keras menahan manik bening itu membentuk jejak kilauan di kedua pipinya.


Kemudian, dokter Rani dan beberapa suster masuk ke ruangan. Mereka akan membawa Marwah bersiap pindah ruangan untuk persiapan operasi.


"Mbak, sebelum aku dioperasi. Aku boleh minta sesuatu?" Marwah berkata tiba-tiba sambil menghentikan gerakan tangan dokter Rani.


"Marwah, kamu sudah sadar? sejak kapan? apa yang bisa kubantu?"

__ADS_1


"Mbak, aku sudah sadar dari tadi, dan sudah mendengar semuanya. Mbak boleh aku mengatakan sesuatu, dan jika nanti terjadi sesuatu maka anggaplah ini adalah pesan terakhir dariku." Marwah kembali bicara sambil tersenyum.


"Ah, Marwah aku sungguh minta maaf, seharusnya aku mengatakan hal seperti itu di ruanganku. namun adikku itu... seperti biasa"


"Ehm, tidak masalah Mbak, aku tahu, Mas Rambo memang orang yang tidak sabaran. Soal tadi, boleh aku mengatakannya Mbak?" sambung ku.


Meski sempat tertegun dokter Rani akhirnya mendekatkan telinganya di bibir Marwah, berjuta maaf ingin sekali ia lontarkan saat itu. Ketika Marwah membisikkan kata, yang menurutnya mungkin bisa menjadi pesan terakhir darinya


Hanya ini, ini saja yang mampu aku lakukan untuk terakhir kalinya Mas, jika nanti aku sungguh tidak selamat, aku akan menyesal karna belum sempat mengatakan apa-apa untukmu.


"Mbak terima kasih ya, saat operasinya selesai, entah saat itu aku meninggal atau apa, tolong katakan padanya, aku Cantika Marwah selalu mencintai dia."


"Marwah...Maafkan kesalahan kami padamu! aku mohon maafkan kami!" Dokter Rani merintih, agaknya kali ini terlalu sulit baginya untuk tak mengekspresikan diri. "Tolong jangan mengatakan ini pesan terakhir. Aku janji kamu akan merawat anak ini bersama Rambo, aku akan berusaha sebaik mungkin."


"Mbak ayo semangat, tidak boleh bersedih. Aku sudah siap ayo semuanya semangat." katanya berani atau mungkin hanya berpura-pura berani.


Namun dia justru melihat pemandangan dokter Ranu dan para suster menangis saat ia mengatakan itu, memangnya kenapa? rasanya terlalu pedih hingga pikiran Marwah bercabang membayangkan bagaimana jika Rambo yang begini? bagaimana jika anak mereka yang begini? apa nanti dia akan dibully oleh teman-temannya karna tidak memiliki ibu?


"Semuanya ayo semangat, pasien kita sudah begitu siap dan semangat, maka kita juga harus berjuang, ayo!" ucap dokter Rani tegas, dia menaruh tangannya di depan Marwah, dan para suster langsung menghampiri, menaruh tangan mereka di atas, bertumpuk dan saling menindih, dan Marwah menyadari, mereka menunggu tangan kecilnya untuk bergabung. Hingga kemudian dengan cepat ia menaruh tangannya juga.


"Tanpa ada kesedihan, semangat, kita berjuang semuanya." ucap dokter Rani.


"Ya!" jawab yang lain serempak dan mendorong tangan mereka ke atas.


Kamu harus lahir bayi kecil, lihatlah perjuangan orang tuamu...


...****************...

__ADS_1


Hari ini terakhir perhitungan r3tensi, semoga Om gondrong semakin jaya kaya jaya!!! Huaaaaaa deg-deg an, Yok bisa Yok kita capai like nya 100 di BAB-BAB sebelumnya juga ಥ_ಥ. Kalau rame, author cukur rambut si gondrong! Biar fresh wkakakak.


Tatata... jangan lupa vote, besok hari senin!


__ADS_2