
"Ambil dan kemasi semua barang-barang mu ya, kamu jangan tinggal di kampung ini lagi."
Suara yang ramah dan pelan terdengar dari samping, dan Marwah tahu ia seharusnya membuka mata dan memandang pria itu. Tapi kenapa matanya sulit sekali untuk menoleh dan sekedar menatap Rambo sekilas.
"Ba-baik Om," kata Marwah ada sedikit segan dalam nada suaranya. "Aku sedang mengumpulkan pakaian dulu."
Jantung Marwah berdetak tak keruan, berdegup kencang dan cepat ketika rasa takut menggelayut dan menyuntikkan adrenalin ke tubuhnya. Rasa takut, terhadap Rambo. Ya, ada yang lain pada Rambo, sisi dingin yang selama ini belum pernah ia lihat. Rambo memiliki sisi membunuh yang kuat kalau sudah marah.
Ia sudah lama kenal dengan Rambo, namun 'Om gondrong' yang ini terasa asing. Matanya bisa tajam dan dingin, tangannya yang selalu hangat kini membentuk kepalan kuat yang memancarkan kemarahan dan kebencian.
Tidak, kata Marwah dalam hati, kemudian mengangkat kepalanya dengan tekad luar biasa. Matanya yang lebam karena tinju Norman tadi akhirnya membuka sedikit dan mulai mencari pertemuan pada sosok Rambo di muka pintu kamarnya. Om gondrong tetaplah Om gondrong, apa pun yang ada pada dirinya, semua itu karena untuk melindungi aku. Lanjutnya, kini pikirannya di penuhi oleh gumaman tentang diri Rambo.
"Ada apa?" Kata Rambo, "Apa ada yang salah padaku? Sejak dari perjalanan ke sini tadi, kamu terlihat sangat menghindari kontak mata denganku. Setiap aku bicara, kamu hanya menjawab seadanya. Aku tak bisa melihatmu begini, jujur saja pikiranku melayang-layang, aku takut kamu sengaja menghindar dariku. Bicaralah dan coba katakan apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku menghindar darimu?" Marwah membisikkan kata itu, bertingkah dan mengira dirinya sedang berteriak. "Kamu merasa aku begitu Om? Sejak dalam perjalanan tadi?"
"Tentu saja aku tahu, sayang. Tentu aku sadar betul," kata Rambo, sambil tersenyum simpul. Sehingga bayangan wajah seramnya tadi seperti dalam bayangan Marwah langsung lenyap seketika. "Aku tahu semua yang harus kusadari. Dan aku menjadikan itu urusanku, bila itu tentang kamu. Sekarang coba tenang dan katakanlah. Aku tak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi percayalah, aku sedang melakukan apa yang terbaik untukmu."
Sayang? benarkah kata yang didengar oleh telinga Marwah ini? Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Marwah mendapat panggilan mesra dari seorang lelaki yang amat dia cintai. Apa yang merasuki Rambo? Oh sial! sulit sekali Marwah menyimpan perasaan malu-malu itu.
__ADS_1
"Maaf, Om. Aku hanya terkejut dengan kemarahan mu tadi. Jadi aku merasa takut, melihat caramu memukul mengingatkan ku pada perlakuan yang kuterima dari Norman selama ini. Entahlah, aku takut melihat lelaki main tangan, aku merasa melihat bayangan Norman, trauma." Jawab Marwah pelan.
Histeria Rambo memuncak dan ia mengatupkan bibir rapat-rapat, tak sanggup menjawab sepatah kata pun.
Marwah telah mengalami trauma berat pada tangan lelaki, pikir Rambo. Ini trauma yang begitu hebat. Ia ingin sekali memberi pengertian pada Marwah, tapi tubuhnya berkata lain, ia ingin memberikan perlindungan yang hanya bisa dijelaskan dengan bahasa tubuhnya sendiri. Dia melangkah masuk, ke arah Marwah yang duduk jongkok depan lemari.
Rambo mengambil posisi jongkok, lengannya begitu lembut meraih punggung Marwah dan memeluknya erat penuh penyesalan dan kehangatan.
"Om---" Mata Marwah membulat saat ia kembali dalam dekapan dada pria besar dan gondrong itu.
"Matamu memang terlalu indah untuk memandang hal seperti itu." Rambo berbisik, "Tapi bersamaku, ku pastikan matamu ini hanya melihat pada keindahan, dan ingatanmu hanya ada pada hal-hal baik yang belum pernah kamu bayangkan. Aku janji... "
"Baiklah, ayo cepat selesaikan berkemas agar aku bisa cepat mengantarmu beristirahat dan dokter bisa segera periksa keadaanmu."
Marwah mengangguk kemudian berputar lagi menghadap lemari, saat ini sosok wanita yang ketakutan karena trauma itu sudah hilang sepenuhnya, tertelan kenyamanan yang memancar di mata dan keluar dari mulutnya.
"Jangan bunuh Norman, ya Om. Apa pun yang akan kamu lakukan, tolong jangan bunuh dia seperti yang akan kamu lakukan tadi."
Rambo menghembuskan napas, kelegaan membanjiri tubuhnya. Kepalanya berputar di bawah langit-langit kamar Marwah yang sudah buruk, dan tatapannya kembali terpaku pada sosok perempuan lembut penuh maaf itu.
__ADS_1
Rambut panjang Rambo tergerai, berkibar di bahunya tertiup angin dari jendela kayu yang mulai lapuk. Kaus hitam menempel di dada bidangnya, dilapisi jas warna sepadan yang sama gelapnya. Setelah ini, tinggal mengintrogasi preman itu. Lalu bantu Marwah mendaftarkan perceraian. Pikir Rambo.
Setelah merasa lumayan beres, Marwah ditemani Rambo segera melangkah ke luar rumah. Saat kendaraan memasuki jalan raya, pemandangan kota begitu ramai oleh hiruk-pikuk mobil dan motor, dan orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan, sebuah suasana yang berbeda dengan suasana senyap di rumah Norman dan kampung gila yang aktif beraktivitas waktu malam.
Kota ini memang sangat indah, dan memiliki memori tersendiri baik bagi Rambo ataupun Marwah. Di tengah-tengah itu semua, perasaan Marwah di serbu Melankolia, melihat keadaannya sekarang, ingin rasanya ia menyesali takdir mengapa ia malah bertemu dan menikah dengan Norman. Namun, jauh di lubuk hatinya pula ia sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya kembali pada Rambo dengan perasaan yang jauh lebih berani dan matang dari dulu.
Ia hampir tak percaya, mereka telah melangkah sejauh ini. Demikian setelah puas melamun sambil memandangi aspal, Marwah baru teringat sesuatu. Tentang 'Orang jahat' yang menyuruh Norman selama satu tahun lebih ini.
"Om, aku lupa mengatakan ini padamu!" Katanya.
"Apa?"
"Pak Norman sebenarnya disuruh seseorang untuk menjebak ku. Dia yang memerintah suamiku untuk menyiksa dan mengurung ku di rumah. Jika Norman menuruti perintahnya, dia akan diberikan imbalan uang. Aku tak tahu apa yang orang itu inginkan, dan mengapa begitu tega melakukan itu. Aku sempat menanyakannya langsung, dan Norman langsung marah besar."
Rambo kembali berdesau, sampai terkejut dan menginjak rem tiba-tiba sehingga badan mereka terhempas ke depan. "Br3ngsek!" Katanya mengumpat.
"Tapi tenang saja Om, aku sempat mencari informasi tentang dia, dan ini.... " Marwah menarik secarik kertas dari tas pakaiannya, kemudian menyerahkannya pada Rambo. "Aku mengambil nomor telepon ini dari ponsel Pak Norman, aku tak tahu apakah benar ini nomor telepon orang itu. Tapi aku yakin, karena hari itu, Pak Norman hanya menelpon orang yang menyuruhnya terakhir kali."
Rambo mengambil kertas itu dari tangan Marwah kemudian memandanginya sejenak, lalu menyimpannya dalam saku jasnya.
__ADS_1
"Setelah sampai rumah nanti, aku akan hubungi pemilik nomor ini. Siapa pun dia, tak akan pernah ku biarkan hidup tenang! Dia sudah menjadi musuhku detik ini juga!" Kata Rambo.