Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 79 - (Mungkin) Detik-detik Terakhir


__ADS_3

"Marwah, aku pulang."


Rambo sampai di rumah, dan bergegas ke kamar. Setelah pengetahuannya tentang kehamilan Marwah, ia menjadi selalu khawatir dengan keadaan istrinya itu, meskipun dia tidak sering pingsan seperti dulu, tapi sekarang dia sangat pucat. Saat pendarahan, tubuhnya drop karna ia juga memiliki anemia.


Rambo membuka pintu kamar, dilihatnya Marwah sedang makan dan ada Bi Inah di sampingnya. Dia, duduk lemah di tempat tidur.


"Tuan, anda sudah pulang, kalau begitu saya permisi ke dapur dulu tuan" ucap Bi Inah langsung angkat badan dari kursi dan keluar kamar.


Setelah Bi Inah pergi keluar meninggalkan ia dan Marwah berduaan, Rambo langsung menghampiri Marwah, menarik kursi dan duduk di sampingnya.


"Mas, kamu belakangan ini pulang cepat terus, pekerjaanmu kantor bagaimana? Kamu juga tidak pernah patroli lagi." Ucap Marwah.


"Sayang, tidak usah pikirkan hal yang tidak penting, kamu harus pikirkan kesehatan kamu saja ya. Urusan di kantor aku sudah bereskan, Anta Reza juga sudah mengizinkan." Suara Rambo begitu lembut menggema dalam irama rumah siput telinga Marwah, dia bergerak seraya mencium puncak kepala istrinya.


Semua orang pun paham, rasanya tidak sanggup bagi Rambo melihat keadaan Marwah sekarang, kenapa harus sang istri yang menanggung kesakitan itu. Dia makan sangat pelan, tangan nya gemetar saat memegang sendok makan sementara mulutnya mengunyah begitu lambat. Rambo langsung meraih merebut sendok itu dari tangannya, dan menyuapi Marwah makan. Meskipun agak bingung, karna mungkin ini pertama kalinya dia menyuapi orang lain makan.


"Eh, Mas?" Tiba-tiba Marwah menyeru, membuat Rambo tersentak cemas. "Dia menendang, tadi dia nendang, aku bisa merasakannya di sini Mas." Lanjut Marwah berseloroh penuh semangat.

__ADS_1


Rambo sontak mendekatkan wajahnya dan menempelkan telapak tangannya di perut Marwah.


"Sayang kamu benar dia menendang, kamu lihat aku merasakannya Marwah, dia menendang." katanya tak percaya. Dan ketika Rambo menikmati kebahagiaan itu, Marwah tersenyum padanya.


Begitu semangat yang dirasakan Rambo untuk pengalaman baru ini, sampai berkali-kali ia memasang telapak tangannya yang besar berharap ada gerakan lanjutan atau bahkan ia pun tak segan mengganti posisi telapaknya dengan daun telinga, berharap bisa mendengar bayi mereka di perut Marwah. Selagi Rambo melakukan itu, Marwah meraih rambut gondrong bergelombang dan halus itu, mengelus-elus kepala sang suami penuh kelembutan dan rasa haru. Namun ketika Rambo menoleh ke atas, menengadah padanya, nampaklah pemandangan istrinya menangis.


"Marwah, kenapa kamu menangis sayang? Apa itu sakit? Apa kamu kesakitan karna bayi kita menendang sayang? tunjukkan padaku bagian mana yang sakit." tanya Rambo padanya dan segera bangkit untuk menghapus air mata Marwah.


"Tidak Mas, tidak ada yang sakit sama sekali." Jawab Marwah.


"Terus kenapa kamu menangis?"


"Marwah kamu bicara apa sih?! Tentu saja kamu akan selalu ada di sisi ku, karna di hati ku, sudah penuh oleh dirimu, tidak bisa masuk apapun lagi. Dan aku tak menyukai pembicaraan ini, kamu berkata seolah-olah akan selalu di sisiku, tapi di satu sisi kamu seakan menunjukkan akan pergi jauh. Aku benci, aku akan menghukum kamu kalau mencoba pergi meninggalkan aku." Jawab Rambo sambil menunduk, tanpa disadari siapapun, tanpa diketahui, dia mengepal kain celananya kasar.


"Aku cuma kasih tahu kamu, Mas biar tidak selingkuh karena aku lagi lemah begini." Marwah berkelit sambil tertawa kecil.


"Dasar, kamu anak nakal."

__ADS_1


Rambo menyiapkan jemarinya, menjentik pelan dahi Marwah.


****


"Mas walau apapun yang terjadi, berjanjilah untuk selalu menyayangi anak kita nanti ya, berjanjilah untuk tidak pulang larut malam meninggalkan dia, mintalah izin dengan Kak Anta untuk tak patroli karna anak kita masih membutuhkan belaian kamu saat malam. Janji makan siang yang teratur, janji jangan bergadang nonton sepak bola, makan makanan yang sehat, nanti kalau pagi, minta buatkan sarapan sama bi Inah biar kamu tidak terlambat, dan jangan lupa untuk mengurangi marah-marah, kamu adalah polisi yang cerdas. Semoga anak kita bisa secerdik dan sehebat kamu.


Mas, kamu harus janji jangan hidup sendirian lagi, janji jangan kejam pada siapapun, jangan lupa mengganti lonceng di depan rumah pakai bel pencet, berjanjilah untuk hidup dengan baik, hiks hiks, berjanjilah untuk jangan pernah lupakan aku, berjanjilah untuk selalu menyediakan ruang untuk aku di hati kamu, hiks, aku selalu mencintai Mas....


Jika suatu saat nanti aku sudah tidak ada di kehidupanmu, kamu harus percaya Mas, aku selalu ada di sisimu, mencintaimu... " Marwah menggumam di dalam hati, air matanya tidak berhenti mengalir, sesekali dia menyembunyikan matanya di balik pergelangan tangannya. Namun sayang, erangannya terlalu kuat dan menyayat hati.


"Marwah, hey kenapa jadi semakin menangis begini? aku tidak akan selingkuh, atau cari perempuan lain, seperti apa pun keadaanmu, aku hanya cinta kamu. Sudah ya jangan menangis lagi." ucap Rambo menarik punggung Marwah menangkup dan menaruhnya dalam pelukan.


"Mas, tolong katakan lagi 'aku mencintaimu'."


"Marwah, aku mencintai kamu selamanya. Mencintai kamu dari dulu, hari ini dan selama-lamanya." Rambo berbisik di telinga Marwah.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2