Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 18 - Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

"Waktu pergi, kamu lihat Erin bagaimana? Maksudku, apakah kamu merasa ada hal yang aneh dengannya?" Tanya Rambo.


Marwah langsung berhenti. Kemudian jalan memutari Rambo dan mendorong tubuhnya ke posisi duduk, menyingkirkan kantung kompres, kemudian menatap Rambo. "Ibu tadi terlihat kurang baik. Penampilannya cukup berantakan, kantung mata tebal dan hitam. Seperti banyak masalah, kasihan. Apa yang terjadi?"


"Itu sudah cukup menjelaskan." Rambo menaikkan alis.


Sementara ekspresi itu berlainan pada perasaan Marwah. Ia merasa sangat tertekan, kesakitan, dan oh ya, ketakutan. Jadi ia tidak terlalu memperdulikan pemilihan kata yang baik, "Kalian bertengkar lagi? Dan itu membuatmu senang Om?"


Rambo mengangguk dan memandang ke arah Marwah. "Iya, bukan senang saja tepatnya lega. Aku yakin kamu juga akan merasakan hal yang sama. Kamu tahu? Semalam aku sudah menceraikan Erin. Pagi ini juga aku sudah menemui orang tuanya. Ha ha, lumayan ada perdebatan, tapi jangan khawatir aku tak akan memperlambat langkahku."


Dia berhenti dan menatap tangan Marwah selama beberapa saat, lalu menggenggam dan menariknya hingga berada dalam satu gerakan mulus. "Aku janji, setelah selesai dengan Erin, akan segera kucari tahu tentang suamimu, dia pantas mendekam di jeruji karena telah melakukan kekerasan padamu. Setelah semua itu kita berdua bisa bersatu, aku akan menjaga kamu selamanya, cinta ini akhirnya bisa bernaung di tempat yang tepat. Aku harap kamu bisa bersabar ya, akan ku tuntaskan satu persatu."


"Ah---" Marwah sebenarnya sudah tahu tentang perceraian itu, tapi saat mendengar keinginan tulus dari Rambo yang begitu indah seakan memiliki kekuatan magis dahsyat yang membuatnya tersihir. Dan... Sadarlah, Marwah.

__ADS_1


"Kamu senang kan? Kamu juga sama bahagianya dengan yang aku rasakan, pasti!"


Marwah hampir tak mendengar kata-kata itu. Saat Rambo menggenggam tangannya, menatapnya dengan sorot mata jernih penuh harapan, pikiran Marwah langsung dipenuhi bayangan-bayangan. Ingatan-ingatan akan ancaman Erin membanjiri otaknya, dan Marwah menahan napas saat mengalami semua itu dalam hitungan detik.


Tiba-tiba, Rambo menarik tangannya lagi, lebih kuat dan lebih cepat hingga membuat Marwah terpaksa bangkit dari kursi dan berdiri di hadapan Rambo dengan terpaksa. Salah satu tangan milik pria gondrong itu melingkar di pinggang ramping Marwah. Kemudian tangan lainnya pindah untuk membelai Marwah, mula-mula dari rambut hingga turun ke pipi.


Rambo seperti kehilangan akal sehat, ia tak mampu menahan diri, dan hasrat mengalir untuk menyentuh bibir mungil dan merah itu. Diraihnya wajah Marwah hingga mulut mereka menyatu, tangannya terus membelai wajah Marwah. Sementara Marwah serasa ingin meledak saat hawa panas mulai memenuhi diri, membuat lututnya lemas dan napasnya sesak.


Marwah berusaha untuk menarik diri, namun jari-jemari Rambo malah mempererat genggamannya. Dan dalam satu tarikan napas, perasaan mengenai hasrat memudar, ingatan tentang ketakutan akan ancaman Erin untuk menyebarkan berita perselingkuhan mereka dan menghancurkan hidup juga karir Rambo membanjirinya.


Tubuh Marwah langsung goyah akibat pergulatan hebat jiwa dan raganya, antara sentuhan nikmat tapi juga bayangan ketakutan yang tiba-tiba muncul lagi.


"Marwah?"

__ADS_1


Marwah tidak dapat mendengar suara Rambo. Tidak dapat mendenfar apa pun kecuali teriakan Erin yang muncul dari bayangan di pikirannya.


Rambo menyaksikan bola mata Marwah berputar ke belakang. Dengan sigap, ia menangkap badan Marwah itu sebelum jatuh. Setiap tarikan napas panjang dari Marwah seakan merobek paru-paru, dan Rambo sadar mungkin ia telah sedikit kelewatan menyentuh wanita kesayangannya itu.


Rambo menunduk menatap wajah Marwah dan merasakan kekuatan ikatan yang telah terbentuk, telah lama sebelumnya. Pada Selasa pagi di bulan Februari, 5 tahun yang lalu. Ketika Marwah muncul di hadapannya depan meja resepsionis rumah sakit umum. Awalnya, Rambo tak tertarik apa pun padanya, dan karena desakan sahabatnya, Anta Reza. Akhirnya ia menjadi dekat dengan Marwah.


Semakin dekat dan semakin akrab. Sosok Marwah telah menari-nari di mimpi-mimpinya selama bertahun-tahun. Mengganggu, menggoda, dan tertawa untuknya sebagaimana yang dilakukan wanita saat berhasrat.


Akhirnya Rambo menggendong Marwah ke dalam pelukannya dan hanya diam sambil memegangnya beberapa saat. Jantung Rambo berdebar kencang. Napasnya memburu. Inilah wanita yang paling ia cinta, pertama dan satu-satunya, wanita yang selalu ia cari dan ia nantikan. Sulit dipercaya dia ada di sini sekarang. Hangat dan nyata dalam pelukan Rambo, bahkan tadi sempat berciuman untuk pertama kalinya.


Ia mendekap Marwah lebih erat, membawanya ke kamar tidur yang dikhususkan untuk Marwah sebagai pekerja di sana. Akhirnya, ia kembali menatap daun mudanya yang terbaring tak sadar di atas ranjang. Marwah itu memang tidak setinggi dan seelegan Erin, istrinya. Dengan tubuh berlekuk, sementara dadanya naik turun seiring dengan napasnya. Rambo ingin Marwah bangun. Ingin melihat mata bening seperti sinar matahari itu lagi.


Ingin dengar jawaban Marwah tentang rencana perceraiannya lagi. Rambo yakin, Marwah terlalu senang, sampai shock dan pingsan.

__ADS_1


"Tidak lama lagi," bisik Rambo dan membungkuk sambil terus menggenggam tangan Marwah. "Kita akan bersatu. Kamu adalah cintaku, bentuk rasa sayangku, tujuan hidupku dan aku tak akan pernah berhasrat pada siapa pun karena aku sudah terbelenggu pada cintamu, Marwah. Hanya kamu satu-satunya."


__ADS_2