Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 64 - Kamu Tak Diinginkan Marwah


__ADS_3

Malam yang sepi. Keluarga besar Rambo terkejut melihat dia tiba-tiba muncul di depan ruang makan. Sama seperti terakhir kali ia datang ke rumah itu, lewat 6 bulan berlalu dan membuat keributan internal tak termaafkan.


Mas Erwin menatapnya dengan mata menyipit, sementara Rambo hanya diam, membisu bagai patung. Mengenakan jaket kulit dan seragam kepolisiannya, dia datang tanpa aba-aba.


"Ram---" Mas Erwin melepaskan peralatan makannya, namun sebelum ia selesai berkata Ibu Amy menyambar dari ujung meja.


"Ibu sudah mengatakan, jangan pernah lagi menginjakkan kaki di sini. Anak kurang ajar seperti kamu mau apa lagi datang ke rumah? Sudah putus cinta dengan perempuan gembel itu?"


"Justru karena perempuan itu lah aku datang ke sini lagi bu," kata Rambo. "Aku sudah melamar Marwah, bu. Sebelum pernikahan kami, aku ingin minta doa restu ibu, Mbak Rani dan Mas Erwin. Mau bagaimanapun kalian adalah keluargaku, aku ingin kalian hadir di hari bahagia kami nanti."


Semua langsung diam. Perkataan Rambo barusan sudah cukup memuakkan dan mengganggu kembali suasana rumah ibu Amy. Beliau langsung menghempas sendok ke piring makannya lalu berkata, "Sampai kapan pun ibu tidak rela, perempuan miskin itu jadi menantu ibu! Ibu malu!"


"Malu apanya bu? memangnya Marwah memalukan apa?" Sahut Rambo.


"Ibu malu punya menantu dari jalanan, pendidikan tidak jelas. Ibu tidak rela Rambo! Ibu dan mendiang Bapakmu susah payah sekolahkan kalian tinggi-tinggi sampai S2, sekolah kedokteran, spesialis, semua yang kalian butuhkan kami penuhi. Biar apa? biar kalian punya kualitas dan tidak rendah di mata pasangan, biar kalian dihargai, cari pasangan tidak sulit karena kalian punya value. Tapi kenapa malah hancur berantakan seperti ini?! Malah menikahi perempuan yang sama sekali tidak bisa menyeimbangi kamu. Cinta cinta cinta, cinta itu cuma bualan. Yang ada itu hanya asa, harapan untuk terus maju dan berkembang. Pasangan yang berkualitas akan bantu dan menopang kalian menata masa depan."

__ADS_1


"Bu, Marwah itu perempuan cerdas dan beretika. Cuma memang dia kurang beruntung, orang tuanya meninggal waktu dia masih menempuh pendidikan SMA. Lagi pula yang ibu katakan itu tidak penting, coba ibu lihat hasilnya kalau cuma mengandalkan kasta dan harta, aku dan Erin hancur. Menikah itu ikatan lahir batin, dan untuk menguatkannya diperlukan cinta. Sama seperti Ibu dan mendiang Bapak, Mbak Rani dan Mas Erwin."


Ibu Amy mendengus sambil tertawa pendek, "Tidak sama Rambo, kami cinta tapi kami juga setara! Bukan seperti perempuan itu, coba lihat kamu S2, pewaris perusahaan, Polisi. Lah dia?"


"Aku tidak butuh kesetaraan seperti itu bu, aku juga tidak menginginkannya," Rambo masih berusaha meyakinkan ibu kandungnya itu. "Ibu cuma malu dengan orang-orang, ibu takut dengan reaksi mereka jika melihat menantu ibu orang kelas bawah. Tapi, Ibu harus tahu seberapa pentingnya perasaanku. Bu, aku mohon---Marwah adalah satu-satunya perempuan yang aku mau, Ibu, Bapak, Mbak Rani dan Mas Erwin tahu sendiri bagaimana aku menantikan dia selama ini. Walau ibu sudah memisahkan kami, aku masih mengharapkan dia."


Rambo mengambil langkah untuk mendekat pada ibunya, dan dengan rendah hati walaupun ibunya masih memiliki kesalahan yang teramat berat. Namun Rambo tak bisa pula menampik betapa ia menyayangi ibunya sendiri, bagaimanapun saat ini ibu Amy adalah satu-satunya orang tua yang masih tersisa. Maka doa restunya adalah patut untuk menemani jalan yang ia tempuh.


Rambo berlutut kemudian meraih telapak tangan ibunya, mencium sela jemarinya dengan penuh khidmat seakan ia ingin kembali berbakti dan tulus memohon doa dari Ibu Amy.


"Aku sudah memutuskan untuk menutup rapat kejahatan ibu dan Mas Erwin pada Marwah. karena itu sebagai gantinya aku mohon bu, hargai Marwah sebagai calon istriku. Kalaupun memang ibu belum setuju, aku sangat berharap ibu, Mbak Rani dan Mas Erwin hadir di pernikahanku dan Marwah nanti. Mau bagaimanapun, kalian adalah keluargaku."


Dan untuk pertama kalinya, air mata lolos dari pelupuk mata Ibu Amy yang telah keriput. Perempuan tua yang tegas dan arogan itu, bahkan masih bisa tegar dan tak menangis saat kematian suaminya, tapi untuk hari ini, malam ini, dan saat ini di hadapan anaknya, dia menangis mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu selalu berpikir jahat tentang ibumu ini! Padahal ibu cuma berharap kamu maju, kenapa kamu cuma memikirkan perasaan perempuan miskin itu dibanding perasaan ibumu sendiri. Ibu berjuang biar kalian sukses, tapi besarnya malah melawan."

__ADS_1


"Bu---" Kata Rambo mendongak, menatap pada bulir bening yang menghiasi wajah senja ibunya yang anggun.


Dokter Rani mengangkat ceret yang mengepul dari kompor, dan menuang airnya yang mendidih ke poci gerabah yang sudah siap. Setelah penuh, diletakkannya kembali ceret tersebut ke atas kompor dan menutup poci teh dengan penutup rajutan tangan. Dokter Rani mengambil tempat duduk di seberang Rambo dan berkata,


"Ibu sudah mengatakan semuanya. Dia tidak ingin perjuangannya sia-sia. Kamu belum jadi orang tua, jadi kamu tidak paham bagaimana perasaan ibu tapi ibu, sudah pernah jadi anak, jadi ibu sudah paham langkah yang seharusnya kamu ambil. Jika tidak bisa menurut, maka tidak usah datang ke sini dengan embel-embel keluarga. Paling tidak, tidak usah datang kalau cuma menghancurkan. Kamu egois sekali---"


Rambo tertegun di bawah meja. Hanya bisa tertunduk beberapa waktu, atas ucapan dokter Rani. Benarkah yang dikatakannya? Benarkah dokter Rani yang mengatakan itu barusan?


Kata-kata yang terdengar memojokkan itu, jauh sekali dari dukungan yang diharapkan Rambo dari sosok kakak perempuan yang selalu mendukung pilihannya, kemana dokter Rani? Apakah sekarang ia telah berpaling, tapi apa sesungguhnya memang itu telah terjadi...


"Mbak, aku datang ke sini tidak niat buruk. Aku hanya ingin memberikan kabar bahagia---aku ingin kalian tahu dan aku ingin kalian hadir, karena bagaimanapun, aku sangat menyayangi kalian---" Kata Rambo pelan.


"Kabar bahagia apanya?! Ibu sampai menangis begitu! menurutmu itu bahagia?" Seru dokter Rani, dengan nada tinggi, dan menghempas poci tehnya ke meja keras-keras.


Bukan hanya Rambo, tapi Mas Erwin pun merasakan hal mengejutkan itu untuk pertama kali. Perempuan lembut yang selalu berada di samping Rambo, sosok kakak yang selalu membela nya, kini bicara dengan nada tinggi untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Mas Erwin meraih tangan dokter Rani untuk menenangkan, tapi itu tak cukup. Istrinya itu masih ingin meluapkan isi hatinya, meluapkan kemarahan yang menyala-nyala.


"Sama seperti terakhir kali kamu datang ke sini, cuma buat kekacauan. Kamu sadar tidak sih Rambo?! sejak kamu kenal Marwah, keluarga kita mulai berantakan! Mbak tidak bisa merasakan kebersamaan kita semua seperti dulu, kamu yang gemar bercanda dan nurut dengan Ibu Bapak. Semua itu hilang! Mbak capek dengan semua ini, Mbak muak! Keluarga kita terpecah belah karena cintamu pada perempuan itu!"


__ADS_2