Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 11 - Hati yang Terbelenggu


__ADS_3

"Maksud kalian apa? Makan puding berdua, tidak ajak aku. Mentang-mentang ini sudah jam 2 pagi," tukas Erin, ia jelas bukan wanita yang ramah ketika berkata, "Kamu juga Marwah, yang sopan. Kamu pembantu di sini, jangan merasa terlalu akrab sampai berani duduk di dekat majikan. Minggir! aku yang seharusnya duduk di situ."


"Maaf bu." Marwah memungut sendalnya dari lantai dengan hati-hati. Setengah berharap bahwa Erin tak mendengar apa pun dari pembicaraannya dengan Rambo tadi. Tapi kini, begitu ia menyingkir dan Erin mengambil posisinya duduk di sebelah Rambo. Mereka tetap hening, Rambo langsung berubah ekspresi, diam dan hanya fokus pada pudingnya saja.


Baiklah, syukurlah jika memang Erin tak memberi gelagat kalau ia telah mengetahui permainan gila yang dilakukan oleh Marwah dan Rambo. Setidaknya Marwah dan Rambo masih bisa bernapas sekarang.


Erin bertopang dagu depan Rambo dan berkata, "Kamu suka pudingnya kan? Aku yang buat loh waktu pulang tadi, walaupun dibantu Marwah sih. Walau sambil marah juga soalnya kamu tidak jemput aku, tapi aku mikir, capek kalau ribut terus dengan kamu. Mengalah juga tidak buruk ternyata, lihat aku sudah berusaha kan?"


Marwah diam, Rambo pun diam.


Sungguh tak ada yang mengejutkan bagi Rambo melihat pengakuan Erin semacam ini, sebab bila menilik ulang sikap dan karakternya selama ini, memang bukan hal yang baru. Sementara reaksi lain dirasakan oleh Marwah, tetap memilih diam meski di dalam hatinya, perasaan kesal dan marah hadir meronta-ronta.


"Coba sini aku suap kan," ucap Erin kembali sementara matanya berbinar-binar. Ia mendahului mengambil piring berisi puding milik Rambo. Dan Erin tahu Rambo pasti bakal salut dengannya malam ini.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri." Jawab Rambo ketus.


"Haish, sudah biar aku yang suap kan, yakin bakal tambah enak." Satu sendok agar kenyal itu pun bergerak, hampir mendarat tepat di hadapan mulut Rambo. Sementara Rambo masih diam, enggan membuka mulut.

__ADS_1


Begitu terus, meski Erin telah berkali-kali merayu untuk meyakinkan tapi Rambo tetap memilih diam dan menolak. Erin yang pemarah, mulai kehabisan batas sabar, tangannya mengepal kuat dan dilemparnya piring puding itu ke lantai.


Piring itu hancur, sehancur suasana hati Erin saat itu. Belingnya bertebaran hampir mengenai kaki Marwah di samping. Betapa tidak, Rambo terlalu menguji kesabaran untuk diri Erin yang pemarah, dan emosi yang tak bisa stabil. Jelas, dini hari ini mereka kembali ribut...


"Mau kamu apa sih? dikasih perhatian malah sok jual mahal dan diamkan aku terus. Selama ini marah-marah karena kalau pulang malam aku tak sambut kamu, belajar urusan rumah tangga dan lain-lain. Sekarang sudah ku lakukan, kamu malah nolak mentah-mentah! mau kamu apa sih, Mas?! kamu memang tidak pernah bisa menghargai aku di hidup kamu ya, Mas?!"


Rambo hanya diam sepanjang ocehan Erin sambil menjaga konsentrasi legendarisnya terjaga pada susu cokelat buatan Marwah yang mulai dingin karena sudah lewat berapa waktu di diamkan. Lebih baik begitu, daripada berusaha memahami Erin, memahami atau menanggapi semua kebohongan dan kemarahannya yang kembali muncul di hadapan Rambo. Lagi.


"Mas?! jawab! kenapa diam saja?!"


"Tidak penting," ujar Rambo, berharap agar Erin segera paham akan kata-katanya itu. Erin itu tak berarti apa-apa baginya. Pernikahan mereka tak lebih dari sekadar keterpaksaan, yang tinggal tunggu waktu saja untuk selesai.


"Pengecut kamu! jahat!"


Langkah kaki penuh amarah, menghiasi suasana tengah malam di rumah yang penuh hiruk pikuk ini. Erin kembali ke kamar, meski harus terpaksa.


Sedangkan setelah Erin pergi, anggota baru dari keluarga itu cepat berjongkok untuk membereskan pecahan piring, dengan hati-hati Marwah mengumpulkan bekas makan Rambo yang sudah hancur lebur. Mula-mula sisa puding lebih dulu, tapi sebelum Marwah membuang sisa puding itu ke plastik. Rambo sudah lebih dulu menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Om? apa yang kamu lakukan, menjauh lah di sini banyak beling." Ucap Marwah dengan suara sangat pelan, nyaris seperti berbisik.


Tapi Rambo kembali diam, hanya tangannya bergerak, mengarahkan tangan Marwah yang ada dalam genggamannya. Bekas puding di tangan Marwah pun ikut bergerak ke arah mulutnya.


"Om, jangan dimakan ini kotor. Nanti aku ambilkan lagi di kulkas."


Namun terlambat, Rambo sudah melahapnya. Tepat dari suapan tangan Marwah langsung.


"Ini yang aku mau... " kata Rambo tersenyum. "Bukan dari dia... "


Senyuman itu laksana genderang yang ditabuh tepat di jantung Marwah, dadanya berdebar hebat. Terutama saat jemarinya masuk menyentuh secara langsung bibir Rambo yang hangat. Tak tinggal Rambut-rambut di janggut dan kumis Rambo juga berinteraksi langsung dengan kulit jemari Marwah.


"Om, kasihan ibu. Dia sudah berjuang untuk berdamai dengan kamu."


"Kamu yang buat puding ini, sedangkan dia cuma mengakui. Di mana perjuangannya? sudah jangan di pikirkan sebab mau bagaimanapun juga, aku cuma mau kamu..." Ucap Rambo.


"Oh,ya. Besok, aku akan coba selidiki tentang suami kamu. Tolong berikan aku nomor ponsel juga poto nya, bisa?"

__ADS_1


"Bisa, Om." Jawab Marwah dengan mata berbinar. Bahagia tapi juga takut. Tak ada perasaan yang dominan, semua memiliki porsi masing-masing dalam pikiran Marwah.


Sebuah malam yang dramatis, di mana malam ini sang istri yang pemarah kembali gagal membobol belenggu hati pak polisi. Hati yang sudah terbelenggu pada cinta lama, dan cinta itu telah kembali. Tepat di tengah-tengah mereka.


__ADS_2