Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 52 - Akhirnya Om Datang


__ADS_3

Norman tertawa dengan suara menggelegar, menertawai kebodohannya sendiri karena telah merasa dan berharap lebih pada Marwah. Seakan Marwah sungguh memberinya keinginan untuk saling mengenal lebih baik, seakan Marwah memang telah menganggapnya sebagai seorang suami tapi semua hanya kepalsuan, dan Marwah telah menjalin hubungan dengan pria lain yang ia panggil 'Om'?


"Katamu jadi istri, katamu menjalankan kewajiban menjadi istri.... Apakah berselingkuh juga termasuk kewajiban istri?!!" Kata Norman membentak Marwah.


Bukan hanya takdir telah membawa Marwah pada kemalangan, dan Norman yang menjalankan tugas demi uang. Ada yang lebih dari itu. Pesona Marwah yang baru disadarinya, senyuman wanita itu. Kenyataan bahwa ia telah memikirkan Marwah. Meskipun tidak mau mengakui, Norman tahu kemungkinan besar Marwah lah wanita pertama yang mengetuk pintu hatinya setelah sekian lama.


Terlepas dari pertanyaan apakah Norman menginginkan Marwah atau tidak, yang jelas ia merasa kecewa karena rupanya Marwah telah memiliki lelaki lain di hatinya. Dan Norman kembali kesulitan untuk menahan perasaan marah, kesal, kecewa dan sedih berkali lipat itu.


"Dugaanku benar, kamu pergi dari rumah bukan untuk bekerja. Tapi kamu berselingkuh! Sial, perempuan di dunia ini semuanya seperti iblis! Aku sepatutnya sudah benci kamu sampai sekarang, persis seperti aku benci pada ibuku sendiri." Kata Norman lagi, sementara tangannya begitu kuat menggenggam ponsel milik Maggie.


"Cukup!" Sahut Marwah. "Kamu pikir lelaki kejam dan jahat seperti kamu bukan iblis?! Setiap hari tanpa kesalahan yang jelas, kamu selalu main tangan padaku, semua karena uang! Kamu pikir perbuatan seperti itu disebut manusiawi?!"


"Menjawab terus!" Norman memekik tinggi, dan ponsel Maggie detik itu pula langsung terhempas ke tanah, layarnya langsung retak karena menghantam semen pembatas pintu.


"Memang harus diberi pelajaran!"


Norman bersiap memasang aba-aba untuk menampar, namun lagi-lagi perasaan aneh itu berdenyut seakan memberatkan tangannya untuk menyakiti Marwah.


"Kenapa? Mau pukul lagi? Ayo sekarang pukul, pukul sampai puas, biar kepalangan aku mati detik ini juga, dengan begitu kamu tidak akan lagi dapat uang kan?" Jawab Marwah sambil memajukan badan.


Seketika Norman tak bergeming, dia terdiam di hadapan Marwah. Entah karena takut ancaman kehilangan uang, atau justru karena takut ancaman kehilangan Marwah di dunia ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu marah, dan tidak terima? Memang itu kenyataannya! Aku bukan boneka untuk kamu mainkan seenak jidat, dan aku bukan mesin penghasil uang yang bisa kamu pakai untuk memeras orang. Aku ini hanyalah perempuan yang harus dihormati harkat dan martabatnya, jika memang kamu tak sanggup melakukan itu, jangan heran kalau ada lelaki lain yang lebih bisa menghargai ku!"


Marwah menghembuskan napas, lalu menggamit tangan Maggie yang masih tersungkur di tanah dan menariknya berdiri ke arah rumah Maggie di seberang jalan. "Maafkan salahku Kak, soal ponsel, akan ku usahakan secepatnya menggantinya, mari ku bantu kakak pulang."


Dengan perasaan seperti sekarang, seandainya ada Rambo di sini, di tempat ini, ia mungkin sudah menghambur ke pria itu dan berlindung di balik punggungnya yang lebar. Apa saja asal ia bisa melihat Rambo lagi dan berada di pelukan pria itu.


Sementara seluruh indranya berputar pada bayangan akan Om gondrong itu lagi, Marwah merasakan tangan seorang pria mencengkeram pundaknya dari belakang. Ia sudah tahu kalau itu adalah tangan Norman, terutama saat pria itu berkata, "Kamu nampaknya sudah tak memiliki rasa takut lagi padaku."


Marwah memberontak, dan Norman berusaha menghalau, tetapi gerakan itu tanpa sengaja membuat Marwah tertampar oleh tangan Norman yang besar. Maggie menjerit kaget ketika Marwah terempas ke tanah.


Ketika Marwah menengadah dan melihat Maggie yang ketakutan, ia mendadak gusar. "Takut ataupun tidak, Aku tetap harus melawan jika diriku tidak dihormati. Ayo pergi Kak Maggie, ku bantu kamu pulang ke rumah."


"Kamu yang harus ikut aku pulang," Gumam Norman dari belakang Marwah dan Maggie seraya mengambil tangan Marwah lagi. Spontan Marwah menyikut keras perut suaminya itu, dan Norman yang belum sembuh total meringis pelan, dan ekspresi kesakitan yang terlihat itu sangat menyenangkan di mata Marwah.


Norman yang murka, sudah kehabisan rasa sabar. Persetan dengan perasaan yang menghalau itu, Marwah sudah terlalu, dengan yang lain dan sudah berani melawan terlalu jauh.


Sekarang bukan lagi tamparan yang melayang, melainkan hantaman kepalan tangan Norman yang kuat. Sebuah tinju datang menyapa pelipis Marwah sampai Marwah tersungkur. Maggie menjerit lagi berusaha menolong Marwah.


Kemudian dalam sekejap segalanya berubah. Tiba-tiba ada yang mengunci leher Norman dari belakang, sementara tangannya dipelintir ke punggung. Marwah mengangkat pandangan gamangnya ke orang yang melumpuhkan suaminya itu, dan betapa bahagianya ia, saat sepasang mata yang mulai kedutan karena tinju Norman tadi menangkap sosok lelaki gagah berambut gondrong datang.


Tatapannya nyaris silau karena kilat keperakan yang meluluhkan. "Om----"

__ADS_1


Rambo membalas tatapannya penuh iba, sakit sekali rasanya hati Rambo melihat perempuan yang dicintainya itu babak belur. Sakit sekali rasanya melihat orang lain hanya diam, bahkan di saat suaminya telah melakukan kekerasan di tempat umum.


"Bren9sek!" Pekik Rambo penuh kekesalan. Dan menghantam Norman penuh dendam.


Satu tinju maut... tidak cukup.


Dua tinju maut... balasan di pipi sebelah kanan... Masih tidak cukup.


Tiga, bahkan empat... Berkali-kali dengan membabi buta. Hingga wajah Norman sudah tak bisa dikenali karena bengkak hebat, dia terkulai lemas di tanah, sementara itu semua masih tak cukup bagi Rambo. Tidak ada yang pernah cukup untuk menebus kesakitan dan penderitaan Marwah, selama ini.


"Beraninya kamu sakiti, Marwah! Tidak akan pernah ku ampuni kamu!" Suara Rambo langsung menggelegar hebat, dan sikapnya siap mengeluarkan pistol di pinggangnya.


...****************...


Halo author sanskeh di sini, 🙋


Asikk... akhirnya hero yang author tunggu-tunggu nongol juga, kalau kalian gimana?


Author tidak lupa ingin mengucapkan Terima kasih banyak untuk dukungan kalian kak ❤💍 sayang deh... semoga kalian selalu diberi kesehatan yakkk.. Aamiin.


Jangan berhenti dukung kami ya?!... Semoga kita bisa lanjut sampai ke anak cucu Kak anta dan Om gondrong, yeeeyyy Ga sabar mau lanjut 🤧

__ADS_1


__ADS_2