
Melihat gerak gerik dan tatapan Rambo yang dingin dan kosong. Marwah langsung tahu dan sadar, Norman akan segera kehilangan nyawa kalau dia tidak menghentikan Rambo detik itu juga.
"Singkirkan tanganmu---" bisik Rambo saat Marwah datang dari belakang, memeluk dadanya hangat untuk menghentikannya.
"Jangan Om, sudah cukup. Dia sudah babak belur, jangan sampai membunuh. Kamu tahu sendiri, polisi tidak boleh sembarangan pakai pistol kan?!"
"Berisik! Aku tidak peduli, dia sudah menyakiti kamu, dan itu terjadi di depan mataku Marwah." Kata Rambo.
Norman yang sudah lemas, masih sempat untuk menggoda kemarahan Rambo. Dia tertawa pendek di atas wajahnya yang sudah bonyok.
"Kenapa? Ayo tembak! Dilarang ya oleh pacarmu?" Katanya mengejek, "Oh bukan, maksudku... Istriku."
Rambo makin naik pitam melihat lelaki menyedihkan itu, dia berubah posisi mengubah caranya berdiri menjadi tegap, sehingga Marwah mulai meregangkan pelukannya.
"Om---" Kata Marwah. Namun hanya dijawab dengan punggung tangan Rambo, sebagai pertanda bahwa ini adalah urusan Rambo dan Norman semata, sehingga siapa pun, baik itu Marwah sendiri dilarang untuk ikut campur.
Kemudian Rambo menunduk, dan berjongkok di hadapan Norman. Dia berusaha tampak lebih santai, meski tatapannya jauh lebih tajam, begitu tajam seakan melebihi samurai milik ninja Jepang.
"Berhenti bicara sebelum ku akhiri hembusan napas mu. Kamu salah menyentuh wanita itu, karena itu berarti kamu telah berani menantang ku." Kata Rambo pelan.
"Cuih!" Norman membalasnya dengan meludah ke samping untuk meremehkan Rambo. "Bicaramu terlalu sombong padaku, melihat sikapmu ini aku jadi tambah bersemangat untuk menyakitinya, aku tak akan pernah melepaskan dia. Dan kamu takkan pernah bisa memiliki dia seutuhnya."
"Aku bisa dan aku akan melakukannya," Rambo bersumpah, membiarkan Norman terus mengoceh selagi ia menarik ponsel untuk menelpon rekannya, tatapannya menimbulkan pandangan yang mematikan.
"Sebelum aku mengakhiri pertemuan kita hari ini, aku ingin kamu mengatakan sesuatu," Kata Rambo sambil menunjukkan layar ponselnya. "Tadi kekasihku mengabari, dia cari dokumen pernikahan kalian. Tapi sepertinya dia kesulitan, karena kamu sembunyikan berkas itu. Bisa katakan ada di mana?"
__ADS_1
Norman tersenyum tipis. "Sudah ku bakar," Jawabnya pada Rambo. "Kan aku sudah katakan padamu, selama aku masih hidup, dia tetap akan menjadi istriku. Dan aku tidak akan pernah berpisah dengannya, ini sudah ku rencanakan dari awal."
Mendengar jawaban itu, Rambo tak ingin kalah. Kali ini ia benar-benar terlihat sangat berkelas karena tak terpancing emosi sama sekali, tak ada marah, hanya dibalas dengan senyum licik.
"Bagus kamu beritahu begitu, jadi secara tidak langsung kamu ingin aku akhiri hidupmu supaya kalian bisa bercerai." Bisik Rambo di telinga Norman.
Lalu jemari coklat itu begitu cepat meraih batang tenggorok Norman, semakin lama semakin dalam sehingga Norman makin kesulitan bernapas. Marwah sendiri berusaha untuk menghentikan, tapi tak diidahkan oleh Rambo.
Norman yang makin berasa sesak terlihat dari lidahnya yang menjulur keluar. Mulai tak tahan, agaknya kali ini lelaki gondrong yang ingin merebut istrinya itu tak main-main untuk membunuhnya. Kalau ia tak menyerah sekarang, maka ia sungguh akan mati di tangan lelaki berdarah dingin, selingkuhan Marwah.
"Ba-baik! Aku mengaku kalah. Tolong lepaskan." Kata Norman terbata dan serak. Dan permohonannya itu disambut seringai Rambo yang menohok.
"Bagus, memang seharusnya begitu. Kan sudah ku katakan aku bisa dan aku akan mengambil Marwah dari pria busuk tak tahu di untung sepertimu."
Rambo mengangguk pelan dan melepaskan tangan itu, sebelum dua orang pria suruhan Rambo datang untuk membawa Norman.
"Baik Pak, laksanakan!" Kata mereka kompak, kemudian menggaet tangan Norman yang sudah lemah. "Ayo ikut kami!"
Sang bandar judi tukang pukul dan gila yang itu memang terlihat seram dan sekuat banteng, tetapi Rambo berhasil menaklukannya dengan ketepatan seorang komandan. Rambo bahkan tidak tampak kewalahan atau terengah-engah sekalipun.
Norman tak mampu melawan lagi, beruntung ia masih bisa menarik napas. Sungguh ada tatapan yang lebih gila dibanding miliknya, dan ada hasrat membunuh yang lebih dalam dibanding yang ia miliki.
Tatapan Marwah yang menyorot heran bertemu dengan mata Rambo. Pria itu terlihat sangat mengesankan dipandang dari segala sudut. Marwah harus mengakui, ia begitu terpesona dan merasa amat sangat terlindungi.
Sesuatu tak terduga datang, bahkan saat Marwah belum selesai mengagumi ketangkasan Rambo. Lelaki gondrong itu spontan langsung memeluk Marwah erat-erat, menenggelamkannya dalam rengkuhan dadanya yang bidang.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan?" Bisiknya lesu. "Aku sungguh minta maaf karena datang terlambat."
Dengan cepat Marwah mendorong tubuh Rambo darinya saat menyadari semua mata yang muncul dari jendela rumah orang sekitar, ini sungguh tak baik.
"Dua orang itu tadi apakah anak buahmu di kantor Om?" Tanyanya pada Rambo. Sebelum menjawab pertanyaan Rambo sebelumnya.
Dan Rambo hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Lalu kemana Pak Norman akan dibawa? Apa langsung ke kantor polisi?" Katanya lagi.
"Itu biar jadi urusanku, kamu jangan pikirkan." Kata Rambo sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya membersihkan debu, mungkin. "Untuk sementara aku akan bawa dia ke suatu tempat. Ada yang harus ku selesaikan dengannya, sebelum ia mendekam di penjara."
Benar, dibanding pernikahanku dengan Erin, pernikahan Marwah jauh lebih banyak menyimpan misteri dan cerita mengganjal. Aku harus mencari tahu dari laki-laki bernama Norman itu, bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di hadapan Marwah, dan apakah dia sungguh telah memperkosanya? Kalau pun ingin memuaskan hasrat, ku rasa orang baik sekalipun tak akan mau bertanggung jawab sampai menikahinya, apalagi preman kampung seperti lelaki itu?! Gumam Rambo dalam hati.
Marwah tak ingin melanjutkan pertanyaan tentang Norman yang akan dibawa Rambo pergi itu lebih dalam, mengingat masih ada Maggie di antara mereka. Ia yakin Rambo memang telah memiliki rencana tersendiri di setiap langkahnya, hanya tinggal Marwah untuk percaya.
Jadi, sebelum lanjut bicara dengan Rambo, Marwah membantu mengantar Maggie lebih dulu. Kemudian kembali setelah beberapa menit.
"Bagaimana kamu bisa tiba-tiba di sini, Om? Aku telepon kamu berkali-kali tapi tidak diangkat."
"Aku memang sengaja ingin datang ke sini, sudah beberapa hari sejak kamu pulang ke rumahmu, aku sama sekali tak mendapat kabar apa pun. Jadi aku sangat khawatir dan memutuskan langsung ke sini hari ini." Jawab Rambo runtut. "Soal telepon, aku benar-benar tak tahu. Mungkin kebetulan saat aku masih di jalan, jadi tidak sempat lihat ponsel."
Jawaban itu sangat masuk akal dan Marwah tak menyela apa pun.
"Kalau berkasnya sudah dibakar, lalu bagaimana aku bisa mendaftar perceraian ya Om. Padahal aku sengaja pulang kesini untuk ambil berkas itu, pantas tidak ketemu, rupanya sudah benar-benar lenyap." Kata Marwah lesu.
__ADS_1
Lalu Rambo dengan tenang, menepuk pundak Marwah dan tersenyum hangat. "Kamu sudah berjuang keras untuk ini dan sekarang serahkan semuanya padaku. Biar aku yang selesaikan."