Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 73 - Cinta Tulus Untuk Marwah


__ADS_3

Dari balik meja, Rambo mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menundukkan kepala. Dalam hati Rambo mengalami perdebatan hebat, haruskah ia memberitahu Marwah sekarang soal keluarganya? Lagi pula, Marwah memang berhak mengetahui hal ini. Inilah saat di mana kejujurannya sebagai pasangan diuji, mampukah ia mengatakan apa yang diinginkan istrinya? Tapi kenapa? Kenapa hatinya menolak.


Rambo mengangguk dan mengulurkan tangan pada Marwah. "Baiklah, kemari lah kalau begitu. Kamu duduklah di sini, kita bicara sama-sama, bertiga."


"Tidak! Apa yang mau dibicarakan dengan seorang wanita? Aku cuma butuh pendapatmu, aku ingin mengatakan ini pada sesama lelaki." Norman memukul tangannya ke meja kerja Rambo. Sementara Rambo memandangnya kebingungan, mengapa Norman tiba-tiba berkata aneh. "Wanita ini hanya akan membuat pembicaraan kita canggung."


Marwah berjalan menuju Rambo. Sambil berdiri di dekatnya, kemudian mengalihkan pandangan dan menatap Norman. "Memangnya kenapa? Kamu takut mengatakan orang jahat itu padaku? Selain membicarakan aku, tidak ada lagi bahan obrolan antara kamu dan Mas Rambo."


"Aku berhak tahu," Marwah mengingatkan. "Dan Mas Rambo sudah janji untuk mencaritahunya darimu."


"Dan aku sendiri tidak tahu siapa orangnya." Norman langsung menyela dengan wajah serius dan tatapan tajam. Seolah-olah ia menunjukkan kejujuran di dalam sana.


Rambo langsung mengernyitkan dahi, memandang Norman terkejut. Sementara Marwah mematung.


"Aku berkata sejujurnya Marwah, aku kerja cuma lewat telepon. Dia perintah, aku dapat uang. Aku tidak pernah bertemu apalagi melihat orangnya."


"Bohong!" Suara Marwah menggelegar dan dia memperoleh perhatian yang diinginkannya. Rambo menangkup pandangan wajah Norman, seakan lelaki itu sengaja untuk menutupi kebenaran ini, tapi untuk apa?


Sambil meraih tangan Marwah, Rambo menggiring istrinya itu ke salah satu kursi lalu mendudukkannya di sana. "Sayang... " kata Rambo, kemudian menggeleng pelan, matanya dalam menatap Marwah seakan menyisipkan satu isyarat, Norman tidak berbohong.


"Tidak mungkin dia tidak tahu, Mas." Kata Marwah


"Sebelum kamu bersikap seperti ini padaku," Norman menyahut. "Suamimu itu sudah lebih dulu menginterogasi ku, jangan pura-pura tak tahu, dia mengurungku di sebuah gudang. Setiap hari aku diberikan pertanyaan berulang dan sama, sampai badanku habis dipukul. Tapi, aku sudah mengatakan semua apa adanya, aku tidak tahu siapa orangnya, aku cuma disuruh lewat telepon. Aku hampir mati, tanya saja pada suami kamu, aku bahkan sampai memberikan ponselku padanya, nomor orang itu, sudah ku berikan semua. Pikir saja, untuk apa aku menahan sakit sampai mati cuma untuk melindungi orang yang tidak penting seperti bosku itu. Aku sudah jujur, jadi terserah kamu mau percaya atau tidak."

__ADS_1


Marwah menyimak kata-kata Norman itu, dan itu sangat masuk akal bahkan sangat mendukung dengan ekspresi wajah Norman. Marwah kembali tertipu...


"Terus kalian membicarakan apa?" tanya Marwah. "Kenapa kalian bisa bicara intim begini di ruangan kerja? Maksudku, dengan status Pak Norman sebagai... dan Mas Rambo... "


Rambo menarik ponselnya dari saku belakang celana, "Norman ingin aku membantunya membangun usaha, setelah keluar penjara dia ingin tobat dan mencari uang halal. Makanya, ku ajak sekalian ke ruangan biar lebih leluasa cari inspirasi jualan dan tempat." Rambo mengakui sambil menunjukkan layar ponselnya yang hitam. Ia melirik Marwah, serasa tak mampu menyembunyikan rasa bersalahnya.


Memang lelaki, pintarnya bukan main untuk berkelit. Dan yang paling mendukung adalah, ekspresi mereka yang serius. Ini sangat cocok dengan perkataan Norman di awal tadi.


"Hah?" ucap Marwah cengo. "Jadi memang tak ada pembahasan tentang orang itu." Marwah terkulai di kursi membiarkan kelembutan kain mengelilinginya dengan kenyamanan.


Norman membungkuk di meja, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Apa-apaan polisi gondrong itu! mana mau aku preman terpandang dan ditakuti orang milih jualan! Norman menggerutu dalam hati.


"Maaf, aku terbawa suasana. Aku menantikan ini begitu lama, jadi aku tak sabaran." Marwah mengakui dengan rendah hati. Tatapannya kini tertuju pada Norman, melihatnya yang malu dan lesu membuat Marwah merasa bersalah betul. Norman pasti sangat canggung sekarang, preman besar dan kasar mau tobat, wajar kalau dia malu begitu. Pikirnya.


"Sebentar lagi, selesai diskusi dengan Norman dan mengembalikannya ke sel."


"Kalau begitu aku tunggu di mobil saja ya? Kita pulang sama-sama."


Rambo mengangguk selagi mencium kening Marwah cepat. Setelah memastikan Marwah benar-benar duduk mantap di mobil, tak ada lagi jejaknya di dekat mereka. Rambo dan Norman kembali serius.


Rambo memandang Norman dengan tatapan tajam yang seolah bisa membunuh makhluk fana.


"Kenapa kamu berbohong?" tanyanya, menunggu lelaki preman itu memberi penjelasan.

__ADS_1


"Kamu juga berbohong," jawab Norman, suaranya tegang dan tajam, jelas ditunjukkan pada Rambo.


"Baiklah, Norman," ujar Rambo sambil meletakkan badannya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi keras di per kursi kerja itu. Mata gelap Rambo menyipit, dan rahangnya mengeras. "Ini tak bisa ku sebut keuntungan, tapi aku benar-benar butuh penjelasan kenapa kamu melakukan itu, aku tak ingin menaruh curiga namun kamu orang yang tak bisa ditebak. Kamu ingin mengambil keuntungan macam apa? Apa kamu sedang berusaha mencari celah untuk menekan ku?"


Norman mengabaikan Rambo, mulutnya menyungging sebelah, tersenyum tipis. Kemudian mundur dan bersandar ke sandaran kursi, tatapannya terkunci dengan tatapan Rambo.


"Rahasia itu, ada baiknya disembunyikan sampai mati. Ada pepatah mengatakan, Tuhan sudah menutup aibmu, maka kamu jangan membongkarnya." Kata Norman berbisik. "Kamu adalah harapannya, kebahagiaan dia ada padamu. Kalau kamu mengatakan itu dan dia benci lalu pergi, sama saja menyakiti hatinya berkali lipat. Dia sudah banyak menderita, jadi biarkan dia bahagia walau di atas kebohongan."


Mulut Rambo ternganga sedikit, dia sempat terdiam sepersekian detik, kemudian memberi respon. "Kamu itu jangan-jangan-----mencintai---"


"Jangan sakiti dia, seperti yang aku lakukan. Jadilah tempatnya mencari kebahagiaan. Dia itu, tidak bisa hidup tanpa kamu---jadi rahasia itu, bawalah sampai mati, dia lebih baik tak usah tahu apa pun."


Rambo mengerut seketika pikiran pria itu dipenuhi perasaan tak terduga. Norman, benar-benar mencintai Marwah. Melakukan apa pun demi kebahagiaan perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu. Bahkan jika itu menyakitkan untuknya, Norman mengikhlaskan Marwah bersama pria lain bahkan menjaga hubungan mereka, asalkan Marwah dapat bahagia. Sial! ketulusan macam ini, mengingatkan Rambo pada Marwah dulu. Mengikhlaskannya menikah dengan perempuan lain, sampai rela kerja mati-matian hanya untuk membeli kado pernikahan.


"Antar aku ke sel," tuntut Norman. "Aku mau istirahat, dia juga mungkin sudah bosan menunggumu di parkiran."


Bukannya menjawab, Rambo malah menatap Norman penuh kekaguman. Pria jahat macam apa pun, jika telah menemui cintanya, pasti akan melunak selembut tahu.


Dia kemudian meraih Norman, dan menggiringnya ke sel tahanan kembali. Sebelum ia pergi dan kembali pada Marwah, Rambo berbisik. "Terima kasih sudah mencintai wanita yang ku nikahi ini dengan tulus, aku berjanji akan membahagiakan dia selalu."


...****************...


Dari dalam mobil, Marwah memandang bintang. Langit yang legam tapi juga terang. Sesekali dia mengelus perut kemudian kembali menatap langit,

__ADS_1


"Sayang, tunggu sebentar lagi ya. Nanti kamu bisa menyapa Papa, kalau sudah sampai di rumah. Sekarang Papa masih ada urusan, dan kita sedang menunggunya di mobil." Katanya pelan.


__ADS_2