
Marwah merasakan kemarahan yang sudah lampau dan tak berdaya itu bangkit lagi di dalam dirinya. Kemarahan sekuat yang ia rasakan pada malam berbadai dingin itu dulu sekali. Dia teringat saat membuka mata norman tegak di hadapannya bertelanjang dada, sementara dia, pakaiannya sobek berantakan tertutup selimut. "Demi duit!"
Sekali lagi Marwah merasakan pedihnya dihancurkan; lebih tajam daripada sayatan pisau di kulitnya. Ia melihat wajah Norman, Ibu mertua, Kakak ipar yang arogan dan penuh muslihat itu di kepalanya dan sontak Marwah mengutuki dirinya sendiri karena telah percaya bahwa mereka tak sekejam itu pada wanita miskin dari desa sederhana sepertinya.
Masih enggan rasanya Marwah untuk mempercayai, merasakan pengkhianatan yang begitu parah, suami yang begitu ia cintai tega membohonginya, mertua yang sangat ia sayangi adalah orang paling jahat dan kejam yang pernah ada.
Dengan sengaja Marwah membanting barang saat Rambo pulang dan memandang mata hitam milik suaminya itu dengan penuh kemarahan.
"Aku tidak membutuhkan kekhawatiranmu, Mas," ujar Marwah, suaranya meninggi, walaupun sulit. Dengan sengaja, dia melepas Rambo, mengendurkan cengkeramannya, Marwah merasa seakan terapung di laut yang jauh lebih kosong dibandingkan saat hidup penuh siksa bersama Norman dulu.
Marwah mengangkat dagu, dan mengumpulkan kekuatan dahsyatnya. "Selama ini aku menjalani hidup persis seperti yang sudah diatur keluargamu. Sebagaimana yang kamu tahu, duniaku sudah hancur, aku menderita. Aku tidak memerlukan---atau membutuhkan---kekhawatiran. Kamu tega bohongi aku Mas! kamu pengkhianat!"
Rambo menyibakkan rambutnya, kemudian menatap mata cokelat bening Marwah yang menyala-nyala, dan berkata, "Aku tidak mengerti, aku baru pulang tapi kamu menyambut ku dengan lemparan vas, aku tidak Marah aku menghampiri kamu, memeluk kamu, aku khawatir kamu mungkin sedang tak enak hati-----tapi kamu---coba katakan ada apa? biar aku mengerti?"
"Kamu pengkhianat! Membohongi lebih dari satu tahun, kamu pikir semua akan tersimpan baik seperti kelakuan keluargamu?! Tidak Mas, kamu salah besar, Tuhan menyayangiku dan membuka lebar luka lama itu terang benderang. Aku tahu Mas!! Puas kamu tutupi segalanya dariku?!" Gusar dengan sikap kepura-puraan Rambo itu. "Tega ya kamu, tega ya keluarga kamu."
Rambo menyisir rambutnya yang tergerai di bahu dengan kedua tangan sambil mengertakkan gigi.
"Tidak cukup Mas semua yang ku lakukan selama ini, aku bahkan rela setengah mati demi mendapat perhatian dari orang-orang yang selama ini menyakitiku. Tidak cukup untuk keluargamu menyuruh Norman menyentuhku? Kamu tahu penderitaan ku tapi kamu pun tega menutupinya."
Amarah menguasai tubuh Marwah. Sementara Rambo kemudian mengulurkan tangan untuk menangkup wajah sang istri.
"Kenapa? Kenapa mereka sampai tega melakukan itu padaku?"
Marwah menarik diri dari sentuhan Rambo, walaupun setiap bagian dari tubuhnya menuntut agar membiarkan laki-laki itu tetap dekat.
__ADS_1
"Karena aku miskin Mas? Derajatku itu penyebab semua ini," Marwah terus berbicara walaupun kenyataannya Rambo menangisinya. "Karena aku ini tidak setara dengan kalian, sampai keluargamu tidak senang melihat aku. Karena aku miskin, mereka merasa aku sebagai pengganggu."
"Jawab Mas!" Marwah tak sanggup lagi menahan kesakitan ini, satu barang lagi ditangkup dan melayang, mendarat keras di lantai. "Memangnya aku mau terlahir miskin? Memangnya salah hidup tanpa harta. Aku sadar diri Mas, aku tahu aku tidak sebanding dengan kamu, karena itu aku menghilang selama lima tahun, memendam perasaanku sendiri. Itu semua karena aku sadar Mas! Tapi ku pikir, tak ada orang sekejam keluargamu sampai tega melakukan ini padaku."
Rambo tak sanggup melihat kepedihan Marwah, emosi dan amarahnya yang membara. Ia langsung menunduk dan bersimpuh, memohon ampun pada sang istri.
"Maafkan aku Marwah! Maafkan aku Marwah! Maafkan aku, tolong ampuni aku!"
Suara Rambo bergetar, ketika dia bersujud pada Marwah, suaranya menggema memenuhi ruang kepala Marwah. Menambah rasa sakit hatinya sampai ke dasar.
Dan malam yang kelabu... mengalir sunyi sampai suara pintu membuka, membangunkan Marwah dari tidur yang terasa sangat panjang.
"Aku baru pulang sayangku," Rambo berbisik di telinga Marwah, sontak Marwah bangun hingga ia tersadar kemarahan yang ia pendam mengalir melalui alam bawah sadarnya.
"Mas, kenapa baru pulang? di kantor banyak tugas ya? atau patroli?" ucapnya menyambut Rambo, dia duduk di tempat tidur.
"Kamu belum tidur sayang? atau aku malah membangunkan kamu? Maaf aku tidak bermaksud, cuma ingin menyapa saja, ku pikir kamu tidak akan bangun. Ayo tidurlah lagi, kamu harus jaga kesehatan, supaya tidak sakit lagi." Rambo meraih puncak kepala Marwah dan mengelusnya dengan penuh kelembutan dan khidmat.
"Tidak. Aku memang mau menunggu kamu pulang, supaya kamu tidak merasa sepi kalau sampai ke rumah."
"Sudah, sekarang aku sudah pulang, kamu tidur ya sayang, aku tidak mau kamu sakit"
"Iya Mas."
Rambo mengambil posisi untuk terbaring di samping Marwah, menarik sang istri dalam pelukannya, bahkan tak jemu Rambo mengelus punggung atau sesekali perut Marwah sampai dia kemudian memilih berpura-pura tidur di pelukan lelaki gondrong itu.
__ADS_1
Mas bagaimana ini, aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari telepon barusan. Bagaimana bisa aku bisa marah dan membenci kamu Mas, bagaimana bisa kamu menanggung dendamku.
Kamu adalah tempatku menaruh cinta, kamu adalah tempatku mendapatkan kasih sayang. Bagaimana bisa orang yang menanggung rasa cintaku, juga harus menanggung kebencian ku.
Mas, aku tidak akan sanggup membenci kamu, tidak akan sanggup kehilangan kamu, kenapa harus kamu? kenapa mereka adalah kamu? Marwah menggumam dalam hati, memang sulit dipungkiri, ia teramat mencintai lelaki itu, mengalahkan rasa marah dan sakit hatinya pada semua kejahatan yang telah ia terima.
Percayalah, apa pun yang ku lakukan tak lain dan tak bukan hanya untuk melindungimu, aku sangat menyayangimu Marwah.
Perkataan yang pernah diucapkan Rambo padanya, tiba-tiba datang menghampiri, menggema dalam kepala dan telinga Marwah. Dan dia tahu itu.
"Selamat tidur sayang, apapun yang terjadi laki-laki ini akan selalu mencintaimu." Rambo berkata pelan agar tak membangunkan Marwah lagi.
Aku tak tahu harus berbuat apa Mas, walau dia adalah keluarga kamu, walau kamu telah membohongiku namun kamu tidak pantas menerima kesalahan mereka. Aku begitu mencintai kamu Mas, ini benar benar menyakiti ku. Tapi membalaskan dendamku padamu, akan lebih menyakitiku.
Mas, kita bertemu, kita menikah, semua adalah takdir, aku yakin aku mencintai kamu pun adalah takdir. Jika memang keluargamu yang melakukan nya, aku yakin itu juga adalah suratan takdir kita juga. Perlahan walau berat, demi kamu aku akan berusaha untuk melupakan rasa sakit itu, aku akan berusaha membunuh perasaan dendam ini.
Rasa dendam ku, tidak sebanding dengan rasa cinta yang selalu kamu berikan untukku, tidak sebanding dengan kasih sayang yang kamu berikan untukku.
Lagi pula aku....
Mungkin hidupku tak akan lama untuk menaruh kebencian, biarlah aku menghabiskan hidup ini bersamamu dengan kebahagiaan penuh.
Aku ikhlas Mas...
Aku akan mencobanya, demi Mas, aku akan melakukan apapun.
__ADS_1