
Jarak antara dapur dan kamar Marwah memang terbilang sangat dekat, karena ukuran rumah mereka yang kecil. Apalagi suara Norman adalah tipikal suara yang berat dan besar, jadi Marwah bisa dengar semua dengan baik meski dari dinding kamar.
Sementara di dapur, Norman masih sibuk menelpon sambil menikmati makan malamnya di meja makan.
"Ya, baiklah. Aku tidak akan kemana-mana, dia itu bakal selalu ku awasi dengan baik. Lagi pula kenapa sih, tiba-tiba menanyakan perempuan itu? Biasanya juga tidak peduli, biasanya juga cuma aku yang telpon kamu minta bayaran." Kata Norman.
"Dasar t0lol! Berarti benar ini semua karena keteledoran kamu. Aku kan sudah mengatakan, kamu itu dibayar untuk jaga dia biar tidak keliaran sembarangan. Mertuaku sekarang lagi marah besar, karena rencananya gagal. Kamu bisa habis kalau mertuaku tahu, kamu sempat kendor mengurus anak itu sampai kabur." Jawab orang di telpon itu dari tempat yang belum diketahui dengan pasti di mana. Tapi bila melihat dari nada bicaranya, orang itu adalah seorang lelaki.
"Sial! Karena kebodohan kamu, aku harus menanggung masalah ini."
"Halah, sudah santai saja. Dia pergi cuma beberapa bulan saja, memangnya kenapa sih? Kamu kan tinggal katakan saja kalau dia aman bersamaku." Kata Norman kembali, kali ini sambil menaikkan sebelah kakinya di atas kursi. "Oh, ya. Aku agak kebingungan, memangnya apa sih yang terjadi dengan kamu dan keluargamu kalau perempuan itu keluar dari sini? Mertuamu sampai murka begitu. Begini ya, tuh orang sekarang kerja, dia juga harus punya penghasilan jadi aku tidak perlu susah memikirkan makan dan kebutuhan rumah."
"Bukan urusan kamu! Sudah ku katakan dari tadi tugasmu itu cuma jaga anak itu biar tidak pergi jauh, apalagi sampai ke tengah-tengah kota. Dan juga jaga cara bicaramu padaku! Aku ini tuan kamu, aku yang bayar kamu!" Pria asing itu mulai menaikkan nada bicaranya dengan tegas.
__ADS_1
Norman mendengus, suara napasnya dapat didengar dengan jelas, baik oleh Marwah di kamar maupun oleh Si pria di dalam telepon. "Cih! Dengar ya, tanpa kamu bayar pun aku ini orang yang bisa dapat duit besar. Jangan lupa aku bandar judi di kampung sini, cuma ya tetap butuh duit kamu juga sih. Ya sudah maaf-maaf." Dia berhenti sejenak untuk menggaruk kepala, kemudian melanjutkan.
"Tapi begini ya, ini perempuan sudah kerja di luar sana, jadi kalau mau menahannya ya harus punya kerjaan lain. Aku tidak bisa loh menahan dia untuk kerja, karena kami juga butuh uang lebih untuk sehari-hari. Nah, mau tidak mau kamu dan mertuamu, atau apa lah itu. Harus beri modal usaha lah untuk istriku, biar dia kerja di kampung sini, tidak pergi kemana-mana."
"Jangan ngelunjak kamu ya! Dasar preman kampungan! Anak buahku bisa saja habisi kamu sekarang kalau aku mau."
"Ya, silahkan saja. Tapi tidak semua orang mau melakukan tugas setotalitas aku, sampai menikahi perempuan itu, padahal cuma menyusahkan. Aku juga tidak bisa jamin sih, rahasia kalian aman atau tidak. Bagaimana kalau perempuan itu tahu siapa kalian?"
Si pria asing berdesis, membuat Norman senyum tipis. Derap napas pria itu secara tidak langsung menggambarkan kekesalan, tapi ia tidak mampu melawan. "Baiklah, ku kirim sekarang. Tapi ingat, kalau sampai kamu lalai lagi, dan dia pergi. Sampai ke ujung dunia bakal ku cari kamu, ku habisi detik itu juga."
Lalu telepon itu dimatikan langsung oleh si pria. Norman mengangkat bahu, sama bingungnya dengan yang selalu ia rasakan setiap teleponan dengan 'Pria asing' yang dia sebut bos. "Asyik, duit duit, sebentar lagi dapat duit banyak. Ha ha ha inilah sebabnya aku tidak salah kalau sebut Marwah itu ladang duit untukku."
Sedangkan di dalam kamar, Marwah masih sibuk menguping. Dia bisa mendengar dengan jelas semua perkataan Norman, tapi sayangnya ia tak mampu mendengar suara lawan bicara Norman di telpon. Sungguh sial, volume telepon Norman memang tak pernah di loudspeaker.
__ADS_1
"Orang itu ingin aku tetap di sini, kalau aku keluar dari perkampungan ini, mereka bisa rugi... " Marwah kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding, setelah menyadari telepon Norman dan tuannya itu telah berakhir. "Dia mau membuatku begini sampai kapan?" Katanya pelan.
Tapi pikiran itu harus di kesampingkan dulu sekarang, karena Marwah telah menyadari sesuatu, Norman sudah selesai mengisi perut dan mulai meninggalkan meja makan.
"Sedang apa kamu?"
Marwah langsung merinding saat melihat Norman tiba-tiba berdiri di muka pintu. Suaminya itu mengerutkan dahi, sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Aku cuma duduk, istirahat." Marwah memandang Norman, menatap langsung ke sepasang mata hitam yang tajam itu, dan merasakan dirinya secara naluriah mencoba untuk menaklukan kekuatan Norman. Ia harus menerima kesakitan selama satu tahun menikah, bahkan telah mengalami pel3cehan saat masih lajang. Dendam, marah, tentu itu lah yang dirasakan Marwah saat itu.
Norman menyipit untuk memandang Marwah lebih jelas. "Cepat keluar!"
"Ada apa? Aku mau istirahat. Aku lelah." Jawab Marwah pelan.
__ADS_1
"Banyak omong kamu, tinggal turuti saja apa susahnya ha?" Kata Norman lagi. "Cepat ke depan!"
Dengan berat hati, Marwah terpaksa menuruti segala kehendak suaminya itu, sambil mempersiapkan diri untuk segala ancaman yang akan datang ketika Norman memintanya ke depan. "Baik."