Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 43 - Pria Paling Kejam


__ADS_3

"Dari mana saja kau?"


Kata sambutan pertama yang didapat Marwah saat kembali memasuki rumah di perkampungan sempit itu.


Matanya membulat, sementara sekujur tubuhnya membeku. Lelaki dengan penampilan preman itu, sejak kapan sudah ada di rumah? Mulutnya mulai kelu bahkan hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan dari pria, yang ia sebut sebagai suaminya. Lelaki yang diketahui bernama Norman itu, mendekat. Sehingga napas Marwah terasa kosong.


"Woy! Aku tanya kau dari mana?! masih ingat kamu dengan rumah ini?"


Nada Norman meninggi, pria tempramental itu membanting botol beling anggurnya ke lantai. Pecahannya melontar ke segala sudut, Marwah segera menutup telinga.


"Bisu kau ha?!" Satu cengkeraman Norman di mulut Marwah. "Jawab!"


Gemetar, sekujur tubuh Marwah gemetar. Mulutnya mulai terbuka meski kata-katanya terbata. "Ma-af Pak... " Jawab Marwah berusaha melepas cengkeram Norman dari mulutnya. "Aku kerja, aku tidak punya uang setelah kamu ambil semuanya di warung waktu itu."


"Kau itu punya kewajiban, setan! suami kau pulang, butuh kopi, butuh makan, pergi seenak jidat kau."

__ADS_1


"Maaf Pak, maaf." Mata Marwah mulai memanas, dia ingin menangis. Tapi begitu kuatnya cengkeraman itu, seakan menutup celah air matanya untuk keluar.


Norman, pria berotot seumuran dengan Rambo itu, sosok tempramental yang selalu buat bulu kuduk Marwah merinding, bertemu dengannya selalu membuat Marwah ketakutan.


"Br3ngsek!" Dia meludah, tepat di samping tubuh Marwah. "Kau benar-benar buat aku kesal! perempuan setan, istri tidak becus! suami kau pegi cari uang, kau malah pergi-pergi. Otak udang memang kau ini, tol0l."


"Kalau memang kamu cari uang, mana Pak? Kamu ngomong kerja-kerja terus. Tapi uang tak pernah ada untukku, aku selalu cari uang sendiri. Bahkan sekarang, modal warung kopi sudah kamu peras, aku kerja jadi pembantu di rumah orang lain untuk menghidupi diri, apa salahnya?!" Jawab Marwah begitu cengkeram Norman lepas dari mulutnya.


"Jawab kamu sekarang! berani kamu sekarang dengan laki."


"Ngelunjak kau, sini!" Kini tangan Norman sudah beralih, sisi lincah untuk menyakiti orang itu terpancing lagi. Tangannya sangat cepat menggapai mahkota kepala Marwah. "Sudah minggat bukannya sadar diri malah ngelunjak. Memang otak kau tu kosong, Marwah. Perempuan jalanan macam kau tu, sudah tak ada nilai apa pun di mata orang."


Marwah meringis, menjerit-jerit berharap agar suaminya berhenti menarik badannya, menarik rambutnya. Sakitnya badan Marwah, kulit kepalanya terasa lepas, serasa kepala ingin pisah dari leher. Norman tanpa belas kasihan dan iba menyeretnya dari pintu depan sampai kamar mandi.


"Pak lepas Pak! sakit Pak." Pekik Marwah. "Ampun Pak."

__ADS_1


"Mampus kau, biar mati sekalian! sudah pergi dari rumah, balik-balik sikapnya tinggi macam langit. Minta duit, minta duit. Urus laki aja tidak becus banyak mau."


"Ampun Pak, aku susah napas Pak. Ampun."


Kini Marwah sudah basah, begitu wajahnya dihempas oleh Norman ke dalam bak mandi. Sungguh malang nasib, si perempuan miskin, siapa lelaki preman yang kasar ini? Mengapa ia harus menjadi bagian dari hidup Marwah! Berulang kali Marwah berdoa, mengadu pada Tuhan. Benarkah ia sudah kotor? sehingga takdir ini begitu kejam padanya.


"Aku balik tiga hari lalu. Kau seenak jidat tinggalkan rumah. Lain kali kalau tak mau diberi pelajaran, nurut." Kata Norman. "Jadi bini yang baik, aku juga tak akan pukul-pukul kamu. Sudah, cepat ganti pakaian. Masak, aku mau makan."


Marwah tak menjawab apa pun, hanya sebisa mungkin menahan dinginnya air bak. Sambil menyeka sisa-sisa air di wajahnya yang pasi seketika.


Hingga beberapa saat setelah agak tenang, dia kembali berusaha membuka mulut, melawan dinding derita yang membuatnya penuh luka.


"Kenapa? Kenapa kamu sekasar ini denganku Pak?" Katanya tiba-tiba, sebelum Norman pergi ke luar kamar mandi.


Norman berhenti di muka pintu. "Karna duit." Jawab Norman singkat, senyumnya menyungging halus.

__ADS_1


__ADS_2