Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 21 - Misi Rambo Penuh Misteri


__ADS_3

Rambut gelap Marwah yang panjang tergerai membentuk gelombang di sekitar bahu dan wajahnya. Kulit terangnya tampak lebih pucat dari yang seharusnya. Ada air mata dibawah pelupuk matanya, dan embusan napas lembut menunjukkan betapa lelah dia.


Sesuatu dalam diri Rambo berdesir, dan ia tidak ingin terlalu meresapi sensasi itu. Jika itu merupakan cara untuk menyelesaikan semua masalah ini, maka biarlah terjadi. Tapi Rambo bukan lelaki yang gampang menyerah, ia akan tetap mengendalikan situasi. Ia tidak akan pernah membiarkan seseorang-secerdas dan selicik apa pun dia-akan membuatnya lemah dan gagal pada pedoman yang paling dijaga dan paling penting dalam hidupnya.


"Untuk mendapatkan hasil yang baik, memang diperlukan beberapa pengorbanan. Dan rencanaku ini mungkin akan sedikit menyebalkan. Bukan cuma padaku, tapi kamu juga. Tapi seperti kataku barusan---" Ucap Rambo sambil melirik Marwah kembali dari depan pintu. "Kamu adalah perempuan yang kuat."


Mata cantik Marwah itu melihatnya dengan tegang namun juga penuh keharuan. Setengah mengira bahwa rencana Rambo ini akan benar-benar matang. Tatapannya lalu mendarat pada pandangan Rambo yang lembut.


Marwah langsung bangun dari ranjang, kemudian datang dan memeluk Rambo dari belakang. Lingkar tangannya bahkan lebih kecil dari perut berotot Rambo.


"Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan? beritahu aku apa yang harus aku kerjakan, Om. Selagi itu tidak mengorbankan kebahagiaanmu, aku akan bersedia melakukan apa pun." Bisiknya sambil memejam mata.


"Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Kamu hanya perlu menuruti kehendak Erin, berlagak seakan kamu memang sudah tunduk padanya. Sisanya serahkan padaku."


Tapi itu tak serta merta memberikan ketenangan untuk Marwah, ia khawatir Rambo akan nekat pada perselingkuhan mereka dan memilih menyerah pada karirnya di kepolisian. Ini jelas bukan keinginan Marwah.


"Tidak Om, aku tidak mau kalau kamu ambil resiko pada karir dan reputasi mu." Ujar Marwah dengan segala nyeri dan sakit.


Rambo malah menyeringai, seakan ia menganggap remeh pada terkaan Marwah barusan. "Ha ha, sudah tenang saja." Jawabnya seraya memutar badan, dan menghadap pada Marwah.


"Berapa kali harus ku jelaskan, aku ini anggota kepolisian. Aku menghadapi masalah bukan satu atau dua kali, aku memimpin divisi dan sudah banyak membuat strategi. Untuk menghadapi masalah ini, aku tentu tak akan menyerah pada tawanan. Penjahat memang banyak siasat, tapi polisi juga banyak rencana. Kamu percaya padaku kan?" Ujar Rambo kembali. Sorot matanya tak bisa berbohong, ia sungguh yakin dengan rencana ini. Dan Marwah tersengat perasaan haru.


"Percaya, sangat percaya padamu, Om." Jelas. Dan singkat.


"Bagus, itulah jawaban yang aku inginkan. Satu lagi, aku akan tetap menceraikan Erin! Walau harus sedikit ku tunda beberapa hari pengajuan gugatannya." Rambo tersenyum simpul.


"Ini sungguh rencana yang baik kan, Om? Kamu tak akan berkorban dirimu sendiri, kan?" Ucap Marwah, dan suaranya hampir tak terdengar di ruangan sempit itu.


"Tidak," Jawab Rambo sambil meringis. Punggungnya berdenyut di bagian tempat lonceng tadi jatuh menimpanya, dan kulitnya sampai tergores, merah dan amat perih. Ditambah lagi, perutnya keroncongan, sehingga membuatnya teringat bahwa ia belum makan dari semalam, hanya sepotong puding buah.


"Tenang saja, semua sudah ada dalam bayanganku. Yang pasti, untukmu... turuti lah alur, jangan pernah melawan, memberontak, atau banyak berpikir. Mengerti?"

__ADS_1


Tubuh Marwah bergetar di bawah tatapan Rambo, dan ia tak ingin berpikir untuk membantah lagi tentang rencana Rambo itu sekarang.


Marwah menelan ludah, menarik napas, kemudian berkata, "Baiklah, Om. Yang bisa ku lakukan sekarang adalah percaya padamu dan sebisa mungkin untuk tidak mengacaukan apa yang sudah kamu rencanakan."


Rambo menyunggingkan senyum, dan perutnya kembali berbunyi dengan suara yang sedikit lebih keras sehingga bisa didengar oleh Marwah.


Di hadapannya, Marwah menghela napas dan mendongak untuk menatapnya. "Kamu lapar, Om?"


"Sangat lapar," jawab Rambo mengaku. Lagi pula untuk apa menyangkal?


"Aku buatkan sarapan sekarang," Ujar Marwah, langsung mengambil langkah mendahului Rambo di depan pintu. "Tehnya pasti sudah dingin, tapi aku bisa buatkan lagi untukmu, Om. Tunggu 10 menit untuk makanannya."


Sambil membusungkan dada dan mengerutkan punggungnya, Rambo menyahut; "Terima kasih, tapi puding semalam saja sudah cukup. Masih ada kan?"


"Maaf, Om. Tapi pudingnya sudah rusak, dibuang ibu tadi pagi."


Rambo diam, memandang ke depan dengan tatapan tajam. Sial, begitulah ia menggerutu dalam hati.


"Apa yang kamu lakukan, Om? Bergerak seperti itu, Apakah Punggungmu sudah baik-baik saja?" Marwah berjalan ke arah Rambo yang masih sibuk duduk di atas tangga.


"Sssttt... " Rambo berbisik dari atas, seakan memberi isyarat agar Marwah harus menjaga kerahasiaan tentang ini. "Ini adalah kunci untuk hubungan kita, jadi jaga baik-baik tentang kamera ini, ya?!"


"Oh, baik."


Rambo kemudian turun dan mengambil gelas teh hangat itu dari tangan Marwah. Ia hampir menjerit ketika melihat Roti panggang dengan daging sapi tebal di dalamnya, dibawakan Marwah. Ia meraih roti tersebut dan memakannya dengan lahap, kemudian berputar mendadak ketika mendengar suara mobil memasuki gerbang.


Rambo hampir saja menabrak tangga yang dipakai untuk memasang kamera tadi. "Aku harus bereskan ini, kamu lakukan saja pekerjaan seperti biasa. Erin sudah pulang!"


Marwah mengangguk, dalam hati Ia bersusah-payah untuk tak ikut panik.


Setelah selesai, Rambo kembali masuk ke kamarnya begitu juga Marwah, sibuk cuci piring bekas sarapan.

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah kamu katakan padanya?"


Marwah hampir saja menjatuhkan piring. Di luar dugaan Erin berdiri begitu dekat di belakangnya. Dari dekat, bahu dan dada Erin tampak begitu seksi dari yang diingatnya pertama kali. Mata wanita itu menyala dengan bara gelap lewat softlens biru cantik yang seakan-akan membakar setiap saraf di tubuh Marwah.


"Rambo sudah pulang. Kamu sudah mengatakan apa yang ku perintah tadi, padanya kan?" Erin mengulangi pertanyaannya.


------Yang pasti, untukmu... turuti lah alur, jangan pernah melawan, memberontak, atau banyak berpikir. Mengerti?


Marwah kembali mengingat perintah Rambo tadi, begitu teringat pada rencana kekasih gelapnya itu, Marwah menghela napas, kemudian berkata dengan lebih tenang. "Sudah, bu. Sudah ku katakan dengan Bapak."


"Bagus. Lalu apa reaksinya?"


"Bapak cuma diam. Tidak jawab apa pun atas permintaan ku, bu. Dia cuma diam di kamar dari tadi." Jawab Marwah. Tatapan Erin membuatnya lebih dari sekedar gugup. Dalam hatinya terus bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Rambo?


Jangan memberontak, teruslah menurut, kamera.... Dan Rambo sendiri, malah tak ingin mengurungkan niatnya untuk bercerai.


Erin tersenyum lebar, matanya nakal berkeliaran menatap ke sana ke mari. "Bagus! dia pasti dilema berat di dalam sana. Memikirkan kehendak selingkuhannya yang tak bisa ditolak. Dia pasti membatalkan perceraian kami." Katanya penuh percaya diri. "Aku akan ke kamar, menemui dia. Kamu jangan ganggu!"


"Baik, bu."


...****************...


PEMBERITAHUAN PENTING!


Halo... Author Sanskeh di sini 🙋


Selamat hari Sabtu semuanya... Mohon maaf kemarin belum sempat update. Jujur author mengalami dilema besar dari kemarin karena r3tensi karya Om gondrong yang berada di tengah-tengah. Antara bisa selamat atau justru gagal total. O(╥﹏╥)


Karena itu, author mohon bantuan kalian semua untuk menjaga Ret3nsi karya Om gondrong dan Marwah dengan memberikan like di tiap bab. Bantu author dan Om gondrong untuk menjaga keseimbangan karya ini ya! (。>_<。) like dari kalian sangat berharga untuk author, Om gondrong dan Marwah, gaiss... :'(


Berikan dukungan kalian selalu, ya. Mari kita buat dinasti Anta Reza, Om Gondrong dan Antek-anteknya ...

__ADS_1


(p′︵‵。)


__ADS_2