Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 29 - Mereka Semua Terkejut


__ADS_3

Sambil berjalan ke dapur, sebelum Erin benar-benar pergi meninggalkan mereka, Rambo sempat bertanya sekadar untuk menjalankan rencana, "Ada makanan Rin? Kami belum makan."


"Kurang tahu Mas, aku tidak makan di rumah soalnya. Coba kamu cek saja di kulkas, sepertinya masih ada, tapi barang-barang mentah. Tinggal kamu masak sendiri saja." Ucap Erin, dan ini kembali memberi rasa canggung pada tamu-tamu Rambo.


Rambo tersenyum tipis, setelah sekilas menangkap pandangan mata dan ekspresi rekannya.


Lalu sebelum melangkahi anak tangga, Erin menatap Rambo sejenak untuk berpamitan kemudian melirik Davin dan Zico dengan mata menyipit, "Aku naik ke kamar ya Mas! Ngantuk. Have fun kalian, kamar tamu di situ, nanti suami saya yang bantu bereskan."


"Kalian mau minum kopi?" Tanya Rambo. Mereka duduk di dapur bertiga setelah Erin kembali naik ke kamar.


Baik Zico ataupun Davin masih diam, masing-masing ragu untuk bicara, meski Rambo sendiri yang menawari dengan ramah.


"Hei! telinga kalian masih berfungsi kan? mulut masih bisa bicara kan?" Ucap Rambo lagi.


"Siap Ndan," mereka kembali serempak, namun begitu mendapati sorot mata Rambo yang tajam membuat mereka sedikit tertekan, sampai barulah mereka ingat bahwa;


"Siap Mas, saya mau kopi. Tapi biar saya bantu buatkan." Davin menyahut setelah selesai kontak mata dengan Zico di samping.


"Boleh, kemarilah."


Bertiga di dapur, membuat kopi dan mengobrol kecil membuat mereka sedikit lebih luwes untuk bicara lebih intens. Baik Zico maupun Davin, telah diarahkan Rambo untuk kesekian kali. "Jangan sungkan padaku. Kita bukan hanya sekedar rekan." Begitu Rambo menegaskan tadi, sambil mengaduk kopi.

__ADS_1


"Aku punya nasi goreng di kulkas, mau ku panaskan. Kalian mau?"


"Tidak usah, Mas."


Kemudian Zico tak tinggal diam, ia pula menyahut dengan inti yang sama. "Tidak Mas, Terima kasih. Aku mengurangi makan berminyak kalau malam."


"Loh, hampir sama dengan istriku. Aku buat sarapan, tapi dia tidak mau makan karena takut mengganggu program diet kalori nya." Sahut Rambo.


Tanpa basa-basi lagi, setelah Rambo menyelesaikan kata-katanya, Zico langsung menjawab; "Wah, namanya wanita Mas, wajar kalau mau jaga berat badan. Apa lagi perempuan karir seperti istri Mas itu, jelas memikirkan penampilan sekali. Tapi, kita sebagai lelaki jelas bangga bukan main punya perempuan yang nyaris sempurna seperti Mbak Erin itu, kan Mas?"


Rambo tersenyum kecut, hanya orang-orang tertentu saja yang paham pada ekspresi Rambo saat itu. Tapi, ia jelas masih berharap dua rekan ini tidak sebodoh itu untuk mengerti apa yang ia pikirkan dan gulat kan dalam otak saat itu juga. "Ya, sepertinya begitu."


Obrolan terus menghiasi malam yang larut antara mereka bertiga, semakin malam dan semakin gelap. Sampai Rambo hampir kehilangan kesadaran karena tahan mengantuk.


Senangnya bukan ampun, terutama Rambo seakan memahami sesuatu, nampaknya mereka telah mengetahui yang terjadi dan tengah di rasakan oleh Rambo saat ini.


"Baiklah kalau begitu, sekalian untuk membuat kalian istirahat. Biar ku bantu bereskan kamarnya." Rambo langsung tegak dari kursi, semangatnya membara menyesuaikan.


"Terima kasih, Mas."


Waktu malam yang panjang, telah memberikan Rambo kesempatan untuk melancarkan aksinya. Semesta pun seakan mendukung terutama pada sikap Erin yang cukup mengejutkan bagi orang-orang yang baru mengenal mereka. Rambo seakan tengah diberi waktu bagi Tuhan setelah penantian panjangnya untuk bercerai.

__ADS_1


Paginya, saat matahari belum terlalu tinggi. Si gondrong sudah lebih dulu berada di dapur, buatkan sarapan dan kopi. Di susul dua anggota yang baru itu, mereka datang menghampiri Rambo.


"Selamat pagi, Mas." Davin dan Zico mendekat. Segera mengambil posisi di samping Rambo.


"Oh, pagi. Sudah bangun kalian. Sudah mandi juga?" Sahut Rambo, masih sibuk potong bawang dan memanaskan air untuk Erin membasuh muka lagi.


"Saya bantu, Mas."


"Kalian tamu, tapi dari kemarin malah kalian sendiri yang repot terus. Makanan dan minuman, tempat tidur. Maaf ya. Sudah, duduklah di situ saja, kalau makanannya sudah siap---" Rambo langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki dari lantai atas. Sementara perkataannya dibiarkan menggantung.


"Sayang, aku mau telur mata sapi dong. Buatkan aku sandwich telur ya! nanti selesai mandi dan bersiap aku bakal makan," Erin datang dengan muka masam dan seperti biasa kata-katanya sudah seperti tuan putri yang sedang memerintah. "Oh, ya kamu panaskan air untuk ku tidak Mas? Aku mau cuci muka."


"Sudah, itu sudah ku naikkan di kompor." Jawab Rambo singkat, dan seperti biasa sesekali memandang ekspresi wajah Zico dan Davin.


Erin mendekat ke arah kompor, setelah air itu panas dan menurutnya cukup, ia cepat-cepat mengambil baskom. "Baiklah, aku benar-benar tertolong. Kalau begitu aku tinggal lagi ke atas ya. Cucian piring kamu numpuk tuh Mas,"


"Aku tahu. Kamu sebelum berangkat bereskan kasur di kamar ya?! aku takut tak sempat." Sahut Rambo.


"Maassss!!! aku bisa telat!" Erin menggertak kan gigi, kemudian berlari lagi ke atas sambil membawa baskom.


Protes itu sudah cukup menggambarkan bagaimana rasa malas seorang istri seorang Rambo. Seketika Davin dan Zico menjadi canggung.

__ADS_1


"Mas, maaf. Kalau kehadiran kami mungkin merepotkan kamu. Kami tidak tahu kalau kamu rupanya serepot ini di rumah."


Rambo kembali tersenyum tipis, inilah yang sangat ia butuhkan. Walau memang sedikit membuat harga dirinya begitu rendah sebagai seorang suami yang diperintah. Seperti diperbudak. Tapi justru ini bagus untuk membantunya pisah dari Erin.


__ADS_2