
Norman mencoba mengangkat tangan untuk mengusap kening, tapi sepertinya lengannya tak mau bekerja sama. Pusing, mengapa ia tidak bisa berdiri dengan benar. Seakan-akan ia sudah meninggalkan tubuhnya, dan bahkan sekarang ia seakan sedang melayang di atas kepalanya, menatap ke depan mencari istrinya sesuai perintah. Tapi apakah Norman sungguh akan menuruti kehendak lelaki itu?
Dia bergerak bolak-balik, dari dapur maupun ruang tamu. Namun tak kunjung mendapati sosok perempuan yang telah berhasil membuatnya dilema berat.
Seraut ingatan tentang perlakuannya tadi melintas di pikiran Norman dan ia tahu ia seharusnya tak perlu sekasar itu. Toh, bagus kalau Marwah mau merawatnya. Norman berusaha mencari, ia sungguh-sungguh yakin untuk meminta maaf lebih dulu, selebihnya soal perintah bisa dipikirkan nanti.
"Marwah?! Aku tahu kamu di dalam, keluarlah. Ada yang harus aku katakan."
Norman berdiri di depan pintu kamar Marwah, tapi tak ada jawaban bahkan setelah ia berkali-kali mengetuk pintu. Karena tak sabaran dan tak kuat menahan kesal, Norman memaksa masuk ke dalam. Baru saja mau mendobrak tapi rupanya pintu langsung terbuka saat ia memutar gagangnya.
Tidak terkunci? Tanyanya dalam hati.
Dan kekesalan Norman tak hanya sampai di situ, saat matanya telah menerobos masuk ke sekeliling kamar, tak ada Marwah sama sekali di situ.
"Dia kemana? Apakah aku sudah sangat keterlaluan tadi, lalu dia pergi untuk menenangkan diri?" Kata Norman terhuyung-huyung. Tapi meski begitu ia tetap berusaha untuk tegak dan berjalan, matanya terus mengedip, mengamati, sesekali juga menggeleng-geleng untuk menjernihkan penglihatannya.
Wajah Marwah muncul dan menghilang di benaknya, pinggiran wajah perempuan yang baru disadarinya ternyata sangat cantik itu, muncul samar-samar. Mulutnya yang tetap merah seperti buah apel yang ranum meski tak dipoles lipstik tersenyum tulus padanya seperti tadi pagi, matanya yang cokelat jernih, kosong dan dingin, seperti tanpa emosi. Seolah terus menekan perasaan kesal dan marah yang ada pada diri seorang Norman yang kejam.
Norman mencoba berpikir, menginginkan kejelasan atas dilema aneh yang tiba-tiba muncul ini. Ia merasa kecewa dan bersalah karena telah bicara jahat pada Marwah tadi, Seharusnya memang aku tak perlu sampai melempar bubur buatannya itu. Pikirnya.
Tapi, oh sungguh sial. Mengapa Norman bisa merasa bersalah seperti ini, padahal selama ini ia tak pernah segan untuk menghantam tiap inci badan istrinya itu.
Kembali lagi pada kenyataan, jika Norman tak menemukan Marwah di rumah, lalu ia pergi kemana?
Tepat satu jam sebelum ini, setelah Norman mengusirnya dari kamar. Bukannya merasa kecil hati, Marwah justru melihat ini sebagai sebuah peluang baik untuk meminjam telepon ke rumah tetangga. Ini saat yang sangat bagus, karena Norman masih tak berada dalam kondisi kesehatan 100 persen. Dia banyak menghabiskan waktu di kamar, jadi ini adalah kesempatan paling baik untuk menelpon Rambo.
Marwah bergerak melintasi jalan, kemudian mengambil langkah lebar ke rumah Meggi di depan warung kopinya dulu. Ia merasakan semilir angin pagi membelai kulitnya, aroma daerah itu sudah sangat akrab memenuhi dirinya yang sudah lebih dari satu tahun tinggal di situ. Ia mengepal kuat kertas berisi nomor telepon 'orang jahat' yang ia dapat dari ponsel Norman semalam. Sementara nomor telepon Rambo, dia memang masih menyimpan kartu nama lelaki itu saat ditawari pekerjaan dulu.
__ADS_1
"Loh, Marwah?! Sudah lama sekali tidak kelihatan, ayo masuk. Astaga aku rindu sekali ngobrol denganmu di warung kopi." Sahut wanita muda bernama Meggie itu setelah membukakan pintu.
Sebenarnya nama aslinya Egi Sulastri, sementara nama Meggie hanya sebagai nama gaul untuk menunjang pekerjaannya sebagai wanita malam di pinggir jalan. Seperti kata Marwah, kampung ini hanya perkampungan sempit yang penuh dengan aktivitas gila. Namun meski begitu, Meggie adalah perempuan baik hati dan perokok berat.
"Iya kak, aku baru pulang kerja. Aku dapat pekerjaan jadi pembantu rumah tangga dan disuruh tinggal di rumah mereka."
"Oh, syukurlah. Aku khawatir karena sudah berbulan-bulan tak lihat kamu. Warung kopimu juga tak pernah lagi buka. Aku jadi kepikiran. Ayo masuk dulu."
"Terima kasih, Kak." Sahut Marwah seraya masuk mengikuti perintah Meggie.
Meggie mengernyit saat menampaki bekas biru di dekat telinga Marwah. Ia duduk di seberang meja setelah mengantar air minum untuk Marwah.
"Memar di dekat telinga itu, apa dia lagi yang lakukan? Aku lihat dia sudah balik lagi ke rumah kalian beberapa hari yang lalu."
Marwah hanya mengangguk, mengangguk untuk mengiyakan.
"Sejujurnya aku memang ingin bercerai Kak, Aku sudah tidak kuat. Tapi, aku masih harus mencari dokumen-dokumen nikah kami, biar bisa mendaftar perceraian di pengadilan."
Satu hembusan napas lega keluar dari Maggie, tubuhnya langsung melemas kebelakang, akhirnya yang ia harapkan segera terwujud, sudah lama ia jengkel melihat kekerasan yang dilakukan Norman secara terang-terangan tanpa belas kasihan pada istrinya sendiri di depan orang. Ia sendiri merasa tak tega melihat perempuan berbadan kecil itu terus-terusan dihantam, entah apa pun kesalahannya.
"Syukurlah, aku sangat mendukung keputusanmu ini. Semoga usaha mu berjalan lancar dan membuahkan hasil," Kata Maggie. "Lalu, omong-omong kamu kemari apakah ada tujuan khusus? atau cuma sekedar ingin mampir?"
"Oh, maaf kak--Soal itu, aku kesini karena butuh bantuan kakak. Aku ingin pinjam telepon, untuk menghubungi seseorang. Apakah boleh?"
"Boleh, tentu saja! Sebentar, biar aku ambilkan." Jawab Maggie sambil merogoh tas tenteng-nya, setelah itu menyerahkan ponsel miliknya pada Marwah.
Dan Marwah sendiri, untuk menjaga privasi dan kenyamanannya, meminta izin untuk menelpon di bekas warung kopinya dulu, kebetulan hanya berada di seberang jalan depan rumah Maggie.
__ADS_1
Marwah duduk di kursi kayu panjang, dan mulai menekan-nekan nomor telepon Rambo di ponsel android layar sentuh itu. Penuh perasaan berdebar, ia sungguh tak sabar untuk bicara lagi dengan si gondrong. Namun sayangnya, telepon itu hanya berdering tak kunjung dijawab oleh Rambo.
"Kenapa ya? Om ayo angkat. Ini aku..." Kata Marwah pelan. Berusaha tenang, sementara kakinya sendiri terus bergerak tak sabaran.
"Baiklah, sementara aku kirim pesan saja dulu. Besok atau nanti malam aku bakal pinjam ponsel lagi untuk menelponnya ulang."
Tapi, tanpa Marwah sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Norman, lelaki itu bersembunyi di balik dinding.
"Mau telepon siapa kamu?" Seru Norman kemudian. Membuat Marwah terperanjat dan langsung menjauh dari kursi.
"Pak?" Kata Marwah. "Sejak kapan kamu di situ?"
Norman berjalan pelan ke arah Marwah, dengan muka seram, dan dada naik turun karena merasa kesal. "Aku tanya, kamu mau telepon siapa?!" Lagi-lagi, Norman kesulitan mengatur emosinya kembali. Nada bicaranya begitu tinggi, sehingga membuat Marwah merinding.
Maggie yang mendengar bising-bising keributan itu langsung keluar rumah, dan untuk pertama kalinya berdiri menolong Marwah.
"Norman! Kamu kenapa sih, setiap hari marah-marah! Kenapa? kamu mau pukul Marwah lagi?" Bentak Maggie.
"Minggir kamu perempuan malam! Aku tidak punya urusan denganmu." Kata Norman kasar, sambil mendorong wajah Maggie dengan tangannya.
Lalu ia merebut ponsel yang ada di tangan Marwah dengan paksa.
Om, ini aku Marwah. Aku pakai ponsel tetangga, maaf karena tak kunjung mengabarimu sebab ponselku sudah rusak. Om, saat ini aku sudah berusaha untuk mencari dokumen nikah yang disembunyikan oleh suamiku, kamu masih bisa menungguku, kan? setelah itu mohon bantu aku pergi dari sini. Aku sudah tidak tahan...
Norman tertawa pendek, dengan suara keras, dan merasa dirinya luar biasa bodoh setelah membaca pesan yang baru dikirim Marwah pada Rambo.
...****************...
__ADS_1
Halo ini author. Karena kemarin-kemarin cuma up 1 BAB. Hari ini author usahakan up 3 BAB yak. Mohon bantuan likenya zeyeng biar r3tensi om gondrong ga anjlok 🤧, author sayang kalian banyak banyak banyak muacccchhh...