Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 40 - Ini Kisah Perpisahan Si Gondrong


__ADS_3

Mereka menyimak pembacaan putusan dengan khidmat meski perasaan mereka sama-sama tak karuan, Erin menangis karena tak sanggup bercerai. Sementara Rambo mulai merasakan panas di bola matanya, setiap isi putusan itu, menimbulkan ingatan tersendiri pada Rambo. Ingatan bagaimana ia bertemu Marwah, dan kehilangannya, hingga bagaimana Tuhan mempertemukan mereka kembali. Haru biru, sekali lagi, sidang ini adalah bukti bahwa cintanya memang patut untuk diakui.


Aku ingin dirimu di sisiku. Aku tidak menginginkan orang lain selain dirimu, bahkan jika aku harus kehilangan segalanya, aku lebih baik hancur tanpa apa pun dari pada mati kehilangan dirimu. Gumam Rambo, begitu penglihatan tentang kenangan-kenangan juga perjuangan-perjuangannya selama bertahun-tahun lamanya, patroli setiap hari setiap malam berharap bisa bertemu lagi, hingga ia dipaksa menikah untuk menuruti keinginan mendiang ayahnya memenuhi benak pikirannya saat ini.


Marwah, apa pun yang terjadi, aku akan datang padamu.


Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana suasana hati kedua kubu yang tengah berhadapan ini. Rambo tak sedikitpun memberikan pandangan pada calon mantan istrinya itu, ia juga memiliki rasa bersalah. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah, perpisahan sudah menjadi pilihan terbaik untuk keduanya.


Mata Rambo mulai berkaca-kaca menahan manik bening yang sibuk meminta untuk keluar. Hingga pertahanan dirinya lenyap ketika akhirnya majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai atas nama Erin terhadap dirinya, meskipun sebenarnya keinginan cerai itu adalah kemauan Rambo.


"Mengadili --- Memutuskan menerima gugatan cerai saudari Penggugat. Sehingga dengan demikian saudari Erin Widya Karisma dan saudara Rama Bobby Suhendra dinyatakan sah dan resmi bercerai."


Hati Rambo berdenyut, keharuan langsung memenuhi jiwanya. Entah untuk pertama kalinya ia meneteskan air mata, perjuangannya selama lima tahun mulai terbuka dan Tuhan telah memberikannya ruang untuk kembali memperjuangkan cintanya.


"Saudari Penggugat, apakah saudari menerima putusan tersebut?"


Dengan berderai air mata, Erin menjawab sampai pada getaran nada yang tak bisa dijelaskan bagaimana rasa sakitnya. "Saya terima Yang Mulia."

__ADS_1


"Baik kepada para pihak yang merasa penolakan atau kurang puas terhadap putusan ini dipersilahkan untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama dalam tempo 14 hari sejak putusan ini dibacakan. Sidang masalah perdata cerai gugat dengan nomor register perkara-----Pada hari ini tanggal 11 September dinyatakan ditutup dan selesai."


Papa Hendro juga istrinya segera datang, memeluk Erin untuk memberinya kekuatan. Sehingga dalam rengkuhan dada ayahnya Erin meluapkan semua tangisan dan kesedihannya itu. Sementara Rambo, tanpa terlihat dan tanpa disadari oleh siapapun telah meneteskan air matanya di depan ruang persidangan.


Akhirnya setelah penantian panjang, dan segala hal yang dilalui Rambo, menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Erin, mantan istrinya. Buah kesabaran yang selama ini ia turuti. Jelas semua akan memaklumi bila melihat air matanya yang langka itu untuk pertama kalinya lagi keluar.


Waktu memang terus berputar. Detik akan kembali pada detik yang sama, demikian pula dengan menit, jam, tanggal, dan bulan. Hanya saja tahun yang tidak pernah sama. 11 April adalah tanggal bermulanya sebuah ikatan, sedang 11 September adalah tanggal di mana ikatan tersebut akhirnya terlepas.


"Dek, Mbak di sini."


"Mbak Rani?"


"Menangislah, tak apa. Mbak di sini."


Air mata Rambo menjadi-jadi, masih ada keluarga yang mendukung pilihannya. Masih ada orang lain yang menerima keputusannya, masih ada kakak yang mengerti perasaannya. Senyum Dokter Rani, memberikan keteduhan dan kenyamanan pada Rambo, sehingga memberikannya tempat untuk meluapkan perasaan.


"Kamu sudah hebat berjuang sampai di sini. Apa pun yang terjadi, kamu adalah Rambo adikku yang paling Mbak sayangi." Dokter Rani menunduk, menopangkan kepalanya di punggung Rambo, selagi adik laki-lakinya itu menangis dalam pelukan pinggangnya yang ramping. "Setelah ini, lakukanlah apa yang kamu mau, apa yang ingin kamu kejar." Bisiknya.

__ADS_1


Tak ada kata apa pun dari Rambo, terlalu sulit untuknya menyembunyikan gengsi karena menangis. Ini telah mengingatkan mereka, 26 tahun yang lalu, saat Rambo tak ikut les matematika karena memilih latihan karate untuk pertandingan nasional. Ia menangis karena kalah dan gagal maju diputaran final, saat itu Dokter Rani hadir menghiburnya, memeluknya untuk menguatkan.


"Puas kamu Rambo?" Sahut Hendro.


Seketika itu pula Rambo langsung melepas pelukannya dari dokter Rani. Tangannya cepat menyeka sisa manik bening itu.


"Puas kamu melakukan semua ini? Kamu sudah memuaskan keegoisanmu, menjadikan anakku terpaksa mengatakan apa yang tak dia kehendaki di persidangan tadi. Lalu kenapa sekarang kamu menangis? Ini adalah milik putriku, kamu senang kan? Lelaki tak punya perasaan seperti kamu, Tuhan pasti membalasnya."


Lalu dari belakang, Erin datang dengan langkah pelan. "Boleh jadi sekarang kamu diberikan kemenangan Mas, boleh jadi kamu berhasil menekanku untuk tak mengatakan apa pun. Tapi ingatlah sejauh apa pun kamu membuang bangkai suatu saat pasti akan tercium. Tuhan tidak tidur, aku meyakini, kelak orang itu akan mendapatkan rasa sakit yang melebihi aku."


Rambo tetap diam. Diam lebih baik untuk saat ini...


...****************...


Kelak kita akan menemui kebahagiaan masing-masing, meski sekarang telah saling menyakiti. Biar dia teramat kamu benci, suatu saat kamu akan menyenanginya. Bukankah Tuhan itu maha pembolak-balik hati? Kamu tinggal menunggu mukjizatnya.


Terbanglah jauh dua merpati yang telah terpisah, carilah sayap baru dan meninggilah bersama-sama, meski tidak dengan hati yang sama, tapi kalian tetap berada di langit yang satu luasnya...

__ADS_1


Ini adalah kisah perceraian Rambo si Gondrong, jangan ada kisah dari kalian...


__ADS_2