Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 66 - Tinggalkan Anak Saya!


__ADS_3

Marwah meletakkan gelas teh ke meja dan duduk di sofa seberang Ibu Rambo. Sesekali dia menatap perempuan paruh baya yang duduk menyilang kaki di hadapannya. Perempuan itu dibayangi sinar matahari yang memancar di sekeliling tubuhnya. Dan matahari melapisi tubuhnya dengan cahaya keemasan yang membuat Ibu Rambo itu tampak lebih bersahaja--tak diragukan lagi---kemewahannya.


"Silahkan diminum bu--" Marwah mengangguk pelan, meski terasa sangat canggung.


Ibu Amy mengerutkan dahi saat melihat Marwah tersenyum padanya. Ia mengangkat gelas teh dan meminumnya perlahan, dengan seketika ia mendesiskan napas, seakan-akan tak mampu lagi bersikap santai dan tenang. "Sudah lama tinggal di rumah anak saya?"


Marwah tertegun. Matanya membulat seketika itu, ia berusaha untuk meyakini pendengarannya sekaligus mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan ibu Rambo barusan, tapi sangat sulit.


"Kalian sudah berhubungan lama, saya pernah dengar cerita dari anak saya Rambo, tentang kamu. Dia sangat menyayangi kamu, bertahun-tahun menunggu dan mencari. Sampai saya berpikir mungkin sudah lima tahun lewat, dia bisa melupakan kamu. Tetapi rupanya tidak, dia malah menceraikan istrinya karena kamu." Ibu Amy tersenyum sambil menatap Marwah dingin.


"Kamu tahu kan, anak saya itu sudah menikah? Tapi kamu ternyata hidup semakin dekat dengan dia. Saya sampai terkejut saat dia mengumpulkan kami sekeluarga untuk menjelaskan nasib pernikahannya. Ha-ha, anak saya itu memang agak kekanakan, dari dulu dia memang keras kepala. Pernah waktu itu, saat dia masih kecil, dia ingin mobil polisi remot tapi saya tidak izinkan karena berisik. Kamu tahu tidak apa yang dia lakukan?"

__ADS_1


"Ya?" Jawab Marwah cengo.


Napas Marwah tersengal dalam des4han penuh kesindiran. Ia menaruh kedua tangannya di atas paha. Lututnya langsung lemas dan darahnya langsung mengalir deras terpompa adrenalin. Detak jantungnya bergemuruh dan mulut Marwah tiba-tiba kaku.


"Dia menabung uang sendiri di belakang saya dan keluarganya untuk membeli mobil remot itu. Sampai saya baru sadar saat melihatnya main di halaman belakang." Jelas Ibu Amy, seraya menyeringai penuh kemunafikan. "Anak itu, kalau sudah menginginkan sesuatu pasti bakal melakukan apa pun. Setelah puas bermain mobil remot itu langsung terbengkalai dan hilang, itu membuat saya menyadari kalau itu sebatas keinginan sesaat saja, karena dia orang yang mudah penasaran bukan karena benar-benar menyukai benda itu."


Rasa takut perlahan semakin memenuhi pikiran Marwah. Meninggalkan semua prasangka baik dan kesenangannya di awal dengan perlahan, seakan-akan ini adalah sebuah sindiran tajam. Dan mengapa ia menjadi bisu tiba-tiba? Hanya karena cerita mobil remot, Ibu Amy kan hanya bercerita, bukan berarti sedang mengatakan tentang dirinya.


"Sama seperti kamu," sergah Ibu Amy kembali, masih mengawasi wajah Marwah seakan-akan merasa jengkel dengan reaksinya barusan, Marwah seperti perempuan tak tahu malu, di hadapannya. "Dia masih penasaran padamu, dan siap melakukan apa pun demi memiliki kamu. Dan bila rasa penasaran itu telah hilang, dan dia merasa bosan, kamu pun tak akan jauh berbeda dari mobil-mobilan tadi. Tinggal kamu bagaimana menanggapi. Hanya kalau saja boleh jujur, baik saya dan keluarga sangat menyesalkan atas tabiat Rambo itu. Sebagai Ibu, saya merasa gagal mendidiknya karena membiarkan dia tumbuh dengan sifat yang demikian. Dia merusak segalanya demi keegoisan."


Ibu Amy berhenti sejenak untuk meminum tehnya, kemudian melanjutkan.

__ADS_1


"Saya malu dan merasa tak enak hati pada mantan besan dulu, mereka orang yang sangat baik namun tiba-tiba anak gadisnya, menantu yang sangat saya sayangi malah diceraikan oleh Rambo. Karena itu, saya memohon maaf padamu, dengan tulus; Bisakah kamu membujuk anak saya untuk rujuk dengan Erin?"


Dengan perlahan, Marwah membiarkan waktu berjalan sejenak. Energi mendedas di sekitar Marwah semakin memuncak hingga memenuhi dadanya dan membuatnya sesak.


"Om--Maksudku Kak Rambo, tidak bilang soal Erin sama sekali. Dia benar-benar tak memiliki rasa apa pun terhadapnya, karena itu---"


"Tolong tinggalkan anak saya." Timpal Ibu Amy bahkan sebelum Marwah menyelesaikan Kata-katanya. "Sudah terlalu banyak dia pergi dan memainkan perasaan orang lain. Jadi, biarkan dia memperbaiki dulu sebelum bertindak terlalu jauh." Pintanya.


"Tiba-tiba saja, saat makan siang---" Kata Marwah.


"Atau begini saja, kamu butuh uang berapa? katakan saja, pasti akan ku lunasi detik itu lah pula ku jaga baik-baik. Tapi, aku ingin putraku menata hidupnya kembali. Tanpa ada siapa pun, kecoa yang mengacau." Kata Ibu Amy, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah cek bank kosong.

__ADS_1


"10 juta? 50 juta? terserah. Kamu bisa isi sendiri dengan nominal berapa pun, asalkan tinggalkan anak saya."


__ADS_2