Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 76 - Pengorbanan Seorang Ibu


__ADS_3

Semenjak hamil, Rambo sering menemukan Marwah pingsan, tidak peduli saat berada di dapur, di kamar mandi, atau di kamar, bahkan di Universitas sekali pun. Dia terlihat sangat khawatir meski Marwah mengatakan bahwa dia hanya kelelahan.


Namun menginjak di bulan ke tiga, Marwah lebih sering terkena demam, dan dokter Rani, orang yang selalu siap saat Rambo menelpon.


Marwah selalu menkonsumsi vitamin yang diberikan dokter Rani, Rambo juga rajin membuatkan susu untuk ibu hamil kepada istrinya, seperti yang sudah diajarkan Anta Reza.


"Marwah, bagaimana keadaanmu? masih merasa panas tidak? Kamu demam sudah 3 hari, aku sangat khawatir." Ucap Rambo, saat Marwah membuka matanya. Berkali-kali dia memijat kepala Marwah, sementara tangan sebelahnya tak lepas memegang tangan sang istri, sesekali pula mencium punggung tangannya.


Benar, untuk kesekian kalinya Marwah kembali terbaring di tempat tidur, setelah 3 hari yang lalu ia juga pingsan dan mengalami demam.


"Tidak apa apa, Mas. Aku sudah baikan." Jawab Marwah, dia menyunggingkan senyum tipis kepada Rambo supaya suaminya itu tidak khawatir.


"Mbak Rani berikan vitamin ini, kamu minum ya. Katanya kamu terkena anemia. Aku ambilkan kamu air minum, tunggu sebentar." Rambo berkata selagi menunjukkan obat yang di berikan oleh Kakaknya, dokter Rani.


"Mas tidak ke kantor?"


Rambo menggeleng berusaha mengabaikan kelembutan Marwah, seakan-akan hal itu menjadi sangat berat ditanggung. "Tidak sayang, aku hanya mau menjaga kamu, tidak akan tenang kalau lihat kamu sakit. Aku sudah mengajukan formulir cuti kuliah, nanti lanjut lagi setelah anak kita lahir." Jawabnya.


Marwah tersentak dari tempat tidur, dan dibantu Rambo merubah posisi duduk, suaminya itu memberikan vitamin yang diberikan dokter Rani untuknya.


"Terima kasih, Mas."

__ADS_1


Betapa Rambo akan merindukan moment seperti ini nantinya, tapi tidak dengan kesusahan Marwah saat mengandung. Bila melihat banyak kasus, nampaknya orang hamil senang-senang saja, Kania istrinya Anta Reza malah sudah 2 kali mengandung. Namun entah mengapa dengan istrinya. Marwah, seperti sangat lemah....


Ketika Marwah memberikan gelas setelah meminum vitamin, Rambo tersenyum sedih.


Tapi agaknya memang ini patut dicemaskan oleh Rambo, sebab tanpa ia ketahui di belakangnya Marwah sengaja menyuruh dokter Rani untuk tidak mengatakan kepada Rambo tentang kondisi kandungannya yang sebenarnya, saat Marwah pingsan atau demam dokter Rani akan mengatakan bahwa adik iparnya hanya kelelahan biasa.


Maaf Mas, aku takut kamu akan khawatir jika mengetahui yang sebenarnya. Marwah menggumam dalam hati.


Sebelumnya saat Marwah memeriksakan kandungannya di bulan kedua. Marwah sempat pingsan, dan Mang Abu; supir yang dipekerjakan Rambo sebulan lalu, mengantarnya ke klinik, tempat dokter Rani buka praktik karna saat itu Rambo sedang bekerja di kantor dan pulang malam untuk patroli.


"Marwah, maaf sekali untuk mengatakan ini, aku bukan ingin membuatmu sedih, namun ada baiknya kamu tidak melanjutkan untuk mengandung anak ini. Kecurigaan ku benar, dan aku sudah mengatakan padamu saat itu di toko kue Kania, kandunganmu sangat lemah, terutama karena kamu itu terkena infeksi ginjal, Marwah. Aku khawatir di bulan ke 6 anda bisa saja mengalami yang lebih parah dari ini, ini sangat berbahaya karna kamu juga mengalami anemia. Kalau kamu memaksakan untuk melahirkan, yang aku takutkan bisa saja terjadi, kondisi seperti ini sangat mempengaruhi kesehatanmu.. Aku tidak mau, Kamu bisa saja...."


"Tidak apa-apa Mbak, aku dan anak ini akan bertahan, aku bisa minta vitaminnya lagi?" Jawab Marwah, langsung menyela penjelasan dokter Rani, jujur saja semakin dia mendengarnya hatinya bergejolak semakin sakit.


Marwah menggeleng pelan, "Antibiotik kemarin masih ada, aku usahakan untuk menghemat pemakaiannya Mbak. Kemarin aku lihat di internet, penggunaan antibiotik terus-terusan tidak baik saat hamil."


"Marwah maaf jika penjelasanku membuatmu kecewa, tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu sendiri, kamu harus mementingkan hidupmu juga. Soal anak bukankah nanti bisa----"


"Mbak Rani, bagiku anak ini adalah hidupku, Mas Rambo sangat senang mendengar kehamilan ini, bukan cuma dia tapi ibu juga, aku tidak mau mereka sedih, apalagi Ibu mulai memperhatikan dan menerimaku sebagai keluarga. Mau bagaimana pun, tidak ada seorang wanita pun yang mau membunuh anak. Anak ini tetap harus bertahan hidup, dia adalah hidupku Mbak. Jadi tidak apa-apa Mbak, tidak perlu khawatir."


"Marwah... Kamu ini kenapa selalu memperdulikan yang lain..."

__ADS_1


"Mbak Rani, mengenai hal ini jangan beritahu pada siapapun, ya? terutama Mas Rambo, jadikan ini rahasia kita berdua saja. Kalau nanti aku pingsan lagi katakan saja aku hanya kelelahan, bisa kan? Tolong bantu aku..."


Tatapan Marwah menyapu kesunyian dan kekosongan di hati dokter Rani. Di sinilah terbukti bagaimana iparnya itu mulai menunjukkan simpatinya pada Marwah, Dokter Rani---tak ingin Marwah sakit...


Marwah kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter Rani, rasanya mau menangis, tapi tangisan ini tidak pantas untuk keluar, kenapa Marwah harus bersedih untuk anaknya sendiri. Dia harus kuat.


Jika memang yang dokter Rani khawatirkan benar-benar terjadi, maka tidak apa apa, setidaknya Rambo dan Marwah memiliki kenangan bahwa mereka pernah hidup bersama, saling mencintai, dan dengan lahirnya anak ini adalah bukti buah cintanya dengan laki-laki yang dulu akrab dipanggilnya 'Om Gondrong'.


"Nak, mama akan terus mempertahankan kamu, jadi kita harus kuat ya. Lihat saja! kita pasti bisa sama-sama lihat langit sore, terus menunggu papa pulang patroli. Semua itu sangat menyenangkan."


...****************...


Langit sudah gelap, malam ini tidak ada bintang sama sekali, hanya ada bulan sabit yang pudar dan pasi. Awan malam menutupi cahayanya, menyapu binar yang memancar kekuningan itu.


Marwah sudah tertidur, Rambo masih memandangnya dengan raut masygul bersyukur sekali demamnya sudah turun. Hatinya penuh kerisauan karena belakangan ini Marwah sering sekali sakit. Rambo selalu khawatir, tetapi untunglah, Dokter Rani mengatakan bahwa istrinya hanya kelelahan.


Rambo rasa itu benar karna tidak ada orang yang membantu Marwah sama sekali dalam mengurus rumah tangga, belum lagi harus kuliah, malam menunggu Rambo pulang kerja. Walau Marwah melarangnya untuk meminta orang bekerja, Rambo agaknya tidak bisa lagi menuruti kehendak itu.


"Sudah ku putuskan untuk minta istri Mang Abu kerja di sini, aku tidak mau melihat Marwah pingsan atau demam lagi."


Dia kemudian merangkul perut sang istri, perutnya sudah lumayan membesar karna usia kandungannya yang sudah tiga bulan. Ini membuat Marwah semakin mempesona di mata Rambo.

__ADS_1


"Nak, jaga mama ya. Mama saat ini sering sakit, mungkin mama kelelahan mengurus kita, jadi kita harus bisa membantu mama, kamu jaga mama di dalam sana, papa akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian di sini. Jangan nakal ya nak, papa sayang kamu." Rambo berbisik sambil mengelus perut Marwah.


__ADS_2