Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 55 - Lelaki Jahat Yang Sebenarnya


__ADS_3

Rambo segera meraih Marwah. Tangannya menangkup wajah wanita itu, memeriksa tubuh Marwah, meyakinkan dirinya bahwa wanita itu tidak terluka atau kesakitan karena guncangan mobil, ia tadi menginjak rem tiba-tiba sehingga memberi hempasan yang cukup kuat.


Kelegaan membanjirinya bagaikan arus sungai yang deras. Ia tidak membuat Marwah kesakitan lebih parah. Ditatapnya mata Marwah dan dilihatnya bahwa wanita itu tidak terluka, tapi terkejut saja.


"Kamu baik-baik saja, Om?" Kata Marwah.


"Aku seharusnya yang bertanya itu padamu, maaf aku benar-benar terkejut dengan kenyataan itu." Rambo lalu kembali pada setirnya, kemudian bersiap melanjutkan perjalanan.


Setelah tiba di rumah ujung kota, tempat Marwah tinggal dulu, rumah sederhana tapi sangat nyaman, yang dipersiapkan Rambo sebagai tempat tinggal Marwah sebelum mereka menikah dan tinggal bersama. Rambo segera memanggil dokter di klinik terdekat untuk memeriksa luka wanita yang dicintainya itu.


Selagi Marwah diperiksa dan diobati, Rambo pergi keluar rumah untuk menghubungi pemilik nomor telepon yang dikatakan Marwah sebelumnya.


Sambil mengisap asap rokok dalam-dalam, Rambo menekan satu persatu angka di layar telepon sesuai dengan angka yang ditulis Marwah di kertas. Namun, ia sangat terkejut begitu ponselnya secara otomatis menuntun pada pemilik asli nomor telepon itu, seseorang yang rupanya tersimpan di dalam kontak teleponnya sendiri.


Bola mata cokelatnya yang gelap membulat sempurna saat memandangi dengan pasti Nama kontak yang muncul di ponselnya saat ia mengetik nomor telepon yang ditulis Marwah.


"Mas Erwin---" Katanya pelan.


Sontak Rambo memukul tiang rumah di depan teras. "Apa-apaan ini?! Kenapa malah nomor Mas Erwin yang tertera?! Ini sungguh tidak masuk akal!"


Mas Erwin, suami sah Dokter Rani, Kakak ipar Rambo.


Bagaimana Kakak iparnya itu bisa begitu kejam memerintah orang lain untuk menyakiti dan membelenggu Marwah dalam waktu yang sangat lama. Ia bahkan tak percaya dengan bukti-bukti dan praduga nya ini, tapi bagaimana bisa semua terjadi begitu runtut atau kebetulan? Padahal laki-laki itu belum pernah bertemu langsung dengan Marwah.

__ADS_1


Sial! gerutu Rambo.


Kemarahan yang begitu membara di dalam diri Rambo begitu dahsyat, dan semakin meledak-ledak ketika mengetahui hubungan keluarganya dengan penderitaan yang dialami Marwah. Pada saat itu, Rambo masih tak percaya dengan semua ini, bahaya yang selalu didapati Marwah ada kaitannya dengan sang kakak ipar.


Tapi mengapa?


Mas Erwin, dikenal sebagai lelaki baik hati dan kakak yang sangat bijaksana dalam membimbingnya tentang bisnis ringan atau hal lain di kehidupan sehari-hari. Masih rasanya Rambo ingin menyangkal pikiran buruk yang muncul ini, dan hanya satu cara untuk memastikan. Yaitu bertanya pada lelaki yang ia tawan tadi, Norman.


Ia langsung masuk dan mengendarai mobil hitamnya seperti orang gila. Menyelip keluar-masuk kepadatan lalu lintas, memacu mobilnya ke gudang bekas pabrik sepatu mendiang bapaknya, tempat Norman disekap untuk diinterogasi.


Ia termakan kemarahan yang membabi buta yang dipicu kenyataan di balik penderitaan Marwah selama ini. Ia bahkan tak terpikir untuk memeriksa keadaan Marwah atau paling tidak menunggu sampai dokter selesai mengobati wanita itu. Pikirannya hanya tertuju pada Norman, untuk segera bertemu dengannya, menanyakan langsung siapa yang menyuruh dia melakukan kejahatan itu.


Setelah tiba di gudang itu, Ia kembali terlihat seram, menunjukkan aura bahaya yang begitu menyilaukan.


Tatapannya diam dan terkunci pada lelaki yang duduk di kursi lipat di depan meja itu.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini pada Marwah?" Tuntut Rambo sambil menarik kursi di depan Norman dan menatap tajam mata lelaki itu.


Norman terbatuk, mengerang, dan memaksa tersenyum meskipun tak terpancar di matanya. "Kamu berhasil menangkap ku, selingkuhan. Tapi bukan berarti kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."


"Kenapa?" Rambo membungkuk, menggunakan kekuatan suaranya untuk berbicara dengan Norman bahkan di saat dia tengah sekarat. "Katakan padaku kenapa?! Kenapa orang itu bisa menyuruhmu sebejat itu pada Marwah! Tolong katakan padaku!"


Mata gelap Norman tertutup, kemudian terbuka lagi. Terpaku pada Rambo dengan intensitas yang ganjil sebab ia sudah kesulitan untuk mengangkat kelopak matanya yang sudah bengkak. "Dia laki-laki berjas, datang padaku satu tahun yang lalu. Dia minta aku untuk menyembunyikan perempuan itu jauh-jauh, selama mungkin. Kebetulan aku preman yang pegang daerah jalanan tempat Marwah mengamen. Jadi tidak sulit untuk ku mendapatkan dia."

__ADS_1


Norman mengatakannya setelah melihat raut wajah Rambo yang begitu tulus menginginkan kebenaran tentang Marwah, tiba-tiba itu membuatnya terenyuh. Entah karena sudah pasrah, atau karena sadar bahwa Rambo adalah lelaki yang begitu tulus mencintai istrinya.


"Kau harus bisa mendapatkan dia, tapi yang harus kamu waspadai bukan cuma lelaki itu saja. Dia juga sama sepertiku, hanya boneka suruhan. Ada orang lain yang memintanya, tapi orang itu tak mau turun tangan langsung. Akhir-akhir ini dia selalu telepon karena tahu Marwah telah pergi meninggalkan rumah beberapa bulan. Dan itu membuat mereka murka, dan berulang kali memintaku untuk memukul Marwah habis-habisan." Jelas Norman selengkap mungkin.


"Dia minta kamu perkosa Marwah?" Kata Rambo berat hati.


"Awalnya," Jawab Norman dengan suara bisikan yang pengap. "Dia ingin aku memperkosanya agar bisa memilikinya secara utuh, dengan begitu aku bisa menikahinya agar Marwah tak bisa pergi dari pengawasanku."


Rambo mengertakkan gigi dan merasakan dorongan amarah, baik pada Norman dan Mas Erwin maupun terhadap dirinya sendiri karena kecolongan menemukan Marwah.


"Tapi kamu tenang saja---" Sambung Norman kemudian. "Aku tidak sampai melakukan itu padanya! Aku benci pada perempuan dan selamanya muak pada makhluk egois itu." Tangan Norman mengepal kuat, bayangan dan ingatan tentang ibunya kembali hadir. Perlakuan ibunya telah meninggalkan trauma besar pada Norman, sehingga ia mengalami krisis kepercayaan dan simpati pada lawan jenisnya. Kebencian yang terus memuncak meski pada akhirnya goyah karena sosok Marwah.


Rambo tertegun, entah ia harus bersyukur atau marah pada situasi ini. Tapi mengetahui kenyataan bahwa Marwah memang benar-benar per4wan, adalah salah satu anugerah yang patut ia syukuri di tengah-tengah drama rumit ini.


"Siapa nama lelaki yang menyuruhmu?" Tanya Rambo lagi.


"Erwin Perdana," kata Norman sambil mengernyit. "Pratama" matanya memutar kesana kemari, tampak susah payah mengingat. "Pranata... "


"Erwin Pradana---" Sahut Rambo meyakinkan. Sehingga Norman kembali mantap memandangnya.


"Kamu tahu?" katanya berbisik.


Rambo langsung bangkit dari tempat duduk tanpa menghiraukan pertanyaan dari Norman, kemudian sambil membetulkan jasnya, Rambo berkata; "Untuk sekarang cuma itu yang ingin ku tanyakan padamu, tunggu aku beberapa hari lagi setelah itu aku akan memasukkan mu ke sel karena dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan----"

__ADS_1


Rambo merapikan kursi sementara sorot matanya dingin memandang Norman, "Dugaan keterlibatan mu sebagai bandar judi di kampung sempit itu beberapa bulan lalu." Lanjutnya.


Norman langsung meronta-ronta, tak terima. Mulutnya mulai menyampah, menyumpahi dan mengumpati Rambo begitu pria gondrong itu pergi meninggalkan ruangan.


__ADS_2