Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 86 - Akhir Bahagia


__ADS_3

"Sayang, kamu benar benar sudah baikan?"


Rambo berkata dengan napas berat. Tubuhnya menjadi lemah setelah bersandar di bahu Marwah dan memeluknya erat.


"Tentu saja, tadi aku sudah tanya dengan Mbak Rani boleh jalan lihat Saga tidak, terus katanya boleh. Jadi, Mas mau temani aku lihat Saga di ruangan inkubator tidak?" tanya Marwah.


Sontak Rambo langsung melepaskan diri untuk memandang Marwah di bawah cahaya yang menari-nari. "Tidak ada penolakan untukmu."


Kemarin mereka banyak menghabiskan waktu untuk bercerita soal Saga, Rambo memberi tahu Marwah tentang makna nama anak mereka, Rajendra itu juga alternatif singkatan nama besar Rambo, Rama Suhendra. Dan Marwah begitu semangat kemarin untuk melihat anaknya, tapi dokter Rani belum mengizinkan, karna masih khawatir dengan kesehatan Marwah.


"Ayo, ku bantu." Rambo berkata, tersenyum, dan membungkuk untuk mendaratkan kecupan di dahi Marwah.


Ia begitu semangat mengantarnya melihat Saga, Rambo menggendongnya berhubung infus Marwah sudah habis tadi subuh, dan kondisinya semakin membaik, Dokter Rani memutuskan untuk tidak pakai infus lagi untuk Marwah.


"Mas turunkan saja, aku bisa jalan kok." Perintah Marwah, namun Rambo tidak menjawab dan tetap pada posisi yang sama.


Rambo berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit, hingga mereka sampai di ruangan bayi, Pelan-pelan Rambo menunduk untuk menurunkan Marwah. Demikian Marwah pun langsung menempelkan telapak tangannya di kaca, seperti ingin meraih Saga di dalam, matanya berkaca-kaca menahan haru yang teramat dalam.


"Sayang, Saga anak yang kuat. kamu tidak perlu bersedih melihat dia. Aku papanya yang setiap hari selalu mengawasi dia." Rambo berkata lembut selagi menindih telapak Marwah di kaca.


"Ehm, tidak Mas. Aku tidak bersedih, hanya aku sangat bangga melihat anak kita, dia benar-benar anak yang manis dan hebat. Aku sendiri tidak sabar jika membayangkan nanti melihatnya bersama teman-temannya, tumbuh jadi lelaki tinggi yang tampan, di kelilingi oleh para wanita," Marwah tertawa pendek dan berseloroh, kemudian menoleh untuk memandang suaminya di samping.


"Manis sekali kan Mas?" Lanjutnya.


Terkejut, Marwah mengernyit sesaat. Ia melihat Rambo membelalak marah dan langsung melotot ke arah Marwah, "Sayang, Saga tidak boleh bergaul dengan wanita manapun, dia tidak boleh terkontaminasi perempuan kalau belum dewasa." kataku.


"Maksud kamu dewasa sampai umur 30 tahun baru boleh kenal perempuan? Terus nanti Saga menikah dengan siapa kalau tidak pernah bergaul dengan lawan jenisnya?" Kata Marwah melotot, menggerutu pada Rambo.


"Yah, pokoknya nanti pasti ada, memang nya kamu mau, Saga pacaran waktu umurnya masih anak-anak?" Jawab Rambo ketus.

__ADS_1


"Mas---Saga cuma bergaul, bukan langsung pacaran."


"Sama saja. Kalau dia sudah kenal perempuan, tidak menutup kemungkinan bakal tertarik. Pokoknya tidak boleh! Saga tidak boleh---"


"Tuan, nyonya maaf tolong jangan ribut, nanti bayi yang lain bangun." Ucap seorang perawat sambil tersenyum menghampiri mereka.


"Oh, maaf." Marwah menarik kata-katanya cepat sambil menutup mulutnya. Sementara suster itu membalas dengan senyuman dan pergi meninggalkan mereka.


Oh sungguh bodoh, rasanya Rambo ingin mengeluarkan perawat itu dari rumah sakit ini, dia membuat harga diri si pria gondrong hancur, pertama kali ia ditegur langsung oleh orang lain. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah kesalahan mereka. Sabar, istrinya sekarang jadi cerewet.


Rambo menggerutu, kemudian mengangkat Marwah dam menggendongnya. Ia menatap Marwah dengan memberengut. "Seharusnya kamu percaya dengan intuisi ku, Saga----" Rambo tak melanjutkan kata-katanya saat Marwah melotot kembali.


"Iya maaf."


"Jangan berani-berani membatasi Saga."


"Aku Papanya kok," Rambo membalas dengan suara paling pelan, hampir sama dengan hembusan napasnya sendiri.


"Hah?" Rambo bengong. "Aku sudah diam loh."


Di mana-mana anak laki-laki itu bakal cocok ngobrol dengan bapaknya. Lihat saja nanti--- Rambo menggerutu dalam hati.


Rambo yang masih menggendong Marwah erat-erat, kemudian berjalan keluar dari koridor tersebut. Sambil berjalan menuju ke kamar rawat Marwah, Rambo mengenakan pakaian rajut yang dibuatkan Marwah khusus saat ulang tahunnya beberapa bulan lalu.


"Kamu wanita yang sangat keras kepala," ujar Rambo, tak dapat mencegah senyum kebanggaan di wajahnya. "Dan wanita dengan keberanian luar biasa."


"Kenapa bicara begitu?"


"Aku tidak percaya kita bisa melewati semua ini----Sampai di titik ini, ternyata ada yang lebih membuatku takut dan hancur di banding kamu pergi bertahun-tahun."

__ADS_1


"Apa? Coba katakan?"


"Aku takut melihatmu berbaring di ranjang rumah sakit," jawab Rambo, dengan senyuman seindah senja hari ini. "Aku takut kamu pergi jauh, ke tempat yang tak bisa digapai olehku bahkan jika aku patroli setiap malam."


Marwah tertegun, mengamati Rambo selagi suaminya itu kembali memandang ke depan dan terus berjalan sambil menggendongnya.


"Aku juga takut----" Marwah menggantung kata-katanya saat mempererat lingkaran tangannya di leher Rambo.


"Aku sangat lelah, Mas. Ku rasa setelah keluar rumah sakit, kita harus tidur selama satu minggu."


"Kamu tak akan pernah beristirahat di tempat tidur kita, sayang." Rambo berjanji, tatapannya tersirat seakan mengisyaratkan godaan maut untuk sang istri.


"Mas?!" Marwah memukul dada Rambo seketika itu.


Rambo meringis, lalu berhenti sejenak. "Bercanda."


"Bagus." Marwah menyandarkan kepala di dada Rambo dan mendesa-h. "Apakah hidupmu selalu begitu menggairahkan seperti ini, Mas?"


Lengan Rambo erat memeluk Marwah, langkahnya kembali bahkan lebih cepat karena tergesa-gesa membawa istrinya kembali ke kamar rawat. Tempat Marwah seharusnya istirahat sekarang.


"Sayang," panggil Rambo sambil tersenyum lebar karena waktu ke depan akan menjanjikan lebih banyak kegembiraan dari yang berhak diperoleh makhluk mana pun, "tak ada hal di dalam hidupku yang semenggairahkan dirimu."


...****************...


...1KLAN 24 JAM!!! ...



KAK ASA BAKAL LAUNCHING 😱

__ADS_1


"Seorang Kapten Angkatan Udara 28 tahun yang hanya tertarik dengan perempuan dewasa, namun justru harus menikahi kekasih dari adik kembarnya. Gadis 20 tahun yang polos dan kekanak-kanakan. Angkasa Naufal Ananta, merasa kesal dan sangat terganggu ketika Ayna Maura berada di sebelahnya, begitu pula sebaliknya. Lalu, seperti apa kelanjutan kisahnya?


ABSEN YUK SIAPA YANG GA SABAR LANJUT KE BAGIAN "MARKAS GEDE" ANTA REZA? 👻


__ADS_2