
Malam selanjutnya, saat ambo keluar dari kamar mandi, wangi semerbak aroma sabun khas pria langsung memenuhi ruangan kamar. Berkali-kali Marwah selalu terpesona saat melihat tubuh sang suami yang baginya begitu sempurna. Dia kemudian duduk di sofa untuk membaca koran seperti biasa, ini sudah seperti ritual malam sebelum tidur kalau Rambo tidak ada jadwal patroli.
Setengah jam kemudian setelah membaca Rambo naik ke tempat tidur, kemudian seperti biasa, tak pernah jemu, dan sesuatu yang selalu ia rutinkan yaitu mencium pipi Marwah.
"Marwah, kamu belum tidur? Ayo tidur, kamu harus istirahat bukankah kemarin kamu baru baikan, aku sangat khawatir nanti kamu sakit lagi." Rambo berbisik sambil mengernyit.
Akhirnya dengan hati-hati Marwah membuka kembali matanya, dan berakhirlah sudah kepura-puraan setelah tadi menikmati pemandangan badan Rambo, benar-benar perawakan badan dewa yunani yang terbentuk.
"Belum ngantuk Mas, aku tidak bisa tidur, bagaimana kalau kita ngobrol saja? Kata orang kalau mengobrol saat malam bisa membuat kita mengantuk." Jawab Marwah, seraya bergerak langsung memindahkan posisinya, menaruh kepala di pangkuan Rambo.
"Kamu mau obrolkan tentang apa?" tanya Rambo, sambil mengelus elus kening Marwah yang bening.
"Apa saja, semua boleh, aku ingin mengenal Mas Rambo lebih dalam" jawabnya.
"Aku tidak pandai bercerita, atau begini saja kamu berikan aku pertanyaan, nanti aku jawab. bagaimana?" ucap Rambo kembali.
"Boleh, kalau begitu siapa cinta pertama kamu Mas?"
"Cinta terakhirku adalah Cantika Marwah." Jawab Rambo tegas.
__ADS_1
Bibir kecil Marwah langsung mengerut, selagi tangannya cepat mencubit perut Rambo. "ih Mas, aku kan tanya cinta pertama kamu, kenapa malah jawab cinta terakhir?" tanyanya dengan sedikit kesal.
"Cinta pertama tidak penting, karna berarti akan ada cinta kedua, ketiga dan seterusnya, tapi kalau cinta terakhir, maka itu adalah cinta yang sebenarnya. karna tidak akan ada cinta berikutnya." jawab Rambo.
"Kalau begitu, menurut Mas apakah sampai kapan pun aku tidak akan pernah tahu tentang orang jahat itu?"
Rambo diam sejenak, menghela napas kemudian menjawab. "Itu sih tergantung dari Tuhan, nanti kalau Tuhan berkehendak, bagaimanapun caranya pasti kamu bakal tahu kok. Tapi kalau Tuhan belum berkehendak, mau mencari tahu bagaimanapun, tidak akan pernah ketemu."
"Sudah lah, kalau begitu ganti pertanyaan. Anak kita apa yang kamu rasakan saat pertama kali mendengar kabar itu? Maksudku begini---statusmu akan bertambah bukan hanya sebagai suami tapi juga seorang ayah."
Rambo tidak menjawab, hanya memandang Marwah sambil tersenyum. Binar matanya yang jernih seolah ingin mengisyaratkan bagaimana perasaannya saat itu, dan Marwah sudah cukup paham untuk jawabannya.
"Halo bu, aku di sini." kata Rambo.
"Iya, maaf Ibu telepon malam-malam. Ibu baru pulang dari kantor, Ibu dengar dari Rani kalau Marwah sakit belakangan ini. Apa sekarang sudah mendingan?" Ucap bu Amy dari kejauhan sana.
"Sudah bu, syukurlah."
"Kamu ini bagaimana sih Rambo. Apa susahnya pakai pembantu, istrimu itu sedang hamil apalagi sekarang gampang sekali sakit, jelas dia kelelahan. Kuliahnya stop kan dulu saja."
__ADS_1
Rambo mengelus rahangnya sembari memutar bola matanya ke sana kemari. "Aku sebenarnya mau bu, tapi Marwah tidak mau pekerjakan orang. Katanya masih sanggup urus rumah dan keluarga."
"Aduh, anak itu. Mana Marwah, ibu mau bicara."
Marwah langsung bangkit duduk dari pangkuan Rambo, kemudian langsung menyahut. "Marwah di sini bu."
"Marwah, kamu itu sedang hamil kalau bisa dijaga baik-baik. Tidak masalah kok pakai pekerja, ibu tahu kamu adalah istri yang baik, tapi kamu juga harus pikirkan kondisi janinmu ya. Istirahat yang baik, vitamin dari Rani diminum terus, besok ibu kirimkan buah-buahan ya."
Sejak kabar kehamilan Marwah terdengar di ibu mertuanya, Ia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya kalau menjadi menantu yang disayang. Ibu Amy, memperlakukannya penuh kasih sayang, penuh perhatian. Maklum, ini adalah cucu pertama dan jelas di nantikan bu Amy selama ini.
"Iya bu, soal asisten rumah tangga, nanti Marwah dan Mas bicarakan lagi. Terima kasih banyak bu, jadi merepotkan. Ibu juga harus istirahat dengan baik, apalagi belakangan ini pulang malam terus. Pasti pekerjaan di kantor banyak sekali ya bu."
"Iya Marwah, ibu pusing sekali. Tapi tidak bisa mengacuhkan kalian. Pokoknya jaga kesehatan ya, maaf ibu belum bisa jenguk, lain kesempatan ibu akan usahakan datang. Kuliah kalau kandungan sudah tua, ajukan dulu cuti, nanti Ibu bantu urus. Kalau begitu tidurlah, selamat malam."
Marwah mengelus perutnya, sambil memandang langit malam dari dalam kamar. "Ibu, terima kasih sudah memperhatikan Marwah sekarang." Dia berkata dalam hati.
"Ayo tidur. Ibu sudah peringatkan loh, istirahat yang cukup." Kata Rambo.
"Iya Mas."
__ADS_1