Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 58 - Keyakinan Penuh Kebohongan


__ADS_3

"Kenapa harus keluarga ku sendiri yang lakukan? Aku pusing sekali dengan permasalahan ini, kepalaku rasanya mau pecah.... "


Suara serak Rambo penuh keputusasaan membangunkan Marwah dari tidurnya. Menyadari Marwah yang sudah sadar, Rambo langsung meraih Marwah yang terbaring di depannya, di atas tempat tidur lebar yang jauh lebih layak dari yang disediakan Norman dulu.


Ia menarik dan memeluk Marwah erat-erat, tangannya yang saru membelai punggung wanita itu dengan perlahan dan lembut.


Rambo tergoda untuk memasuki benak Marwah dan ingin sekali mengatakan kebenaran yang telah dia dapatkan, namun ia menahan diri. Rambo sadar betul bahwa ini adalah kebenaran yang sama-sama mereka nantikan. Tapi, bagaimana cara mengatakannya pada Marwah?


Setelah pergi berjam-jam dan baru pulang tengah malam setelah konflik berat dengan keluarganya sendiri, Rambo begitu bersyukur ketika melihat Marwah terbangun lagi. Setidaknya ini memberikan ketenangan untuk gelisah hatiku yang dalam, paling tidak sekarang aku masih bisa memeluk Marwah secara nyata. Pikir Rambo.


Rambo tidak perlu mengatakan sekarang, bahwa yang mendalangi penderitaan yang ia lakoni selama ini adalah orang tua dan keluarga Rambo sendiri. Tidak ada keberanian sama sekali untuk saat ini, dan Rambo sendiri meyakini bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk mengatakannya pada Marwah.


Marwah sudah sadar sempurna dalam pelukan Rambo, otaknya langsung berhadapan dengan ingatan yang bermunculan. Ketika ia terkesiap dan berusaha menggeliat dari pelukan Rambo, namun pria gondrong itu masih menahannya. Rambut Marwah terus dibelai dari belakang, semakin dibelai semakin Rambo bergetar, dia tidak mampu menahan kesedihannya sendiri tapi bagaimana pula dia harus membaginya pada Marwah? Dia hanya bisa berusaha menahan, sampai air mata itu kering dengan sendirinya.


"Om." Panggilan akrab Rambo terdengar seperti permohonan, bisikan dari lubuk hatinya.


"Aku di sini," ujar Rambo, seraya meraih tombol lampu di atas nakas. Seketika, cahaya kuning pucat bersinar di kegelapan.


Marwah menutup mata, menahan kilauan lampu yang tiba-tiba menyerbu masuk. "Lampunya jangan dihidupkan. Ku mohon, mataku kedutan. Jangan dihidupkan, Om."


"Baiklah." Lampu itu langsung mati setelahnya, setelah melepaskan pelukannya Rambo merenung, Marwah sampai tak mampu menerima cahaya terang karena dampak pukulan Norman tadi pagi. Dan pada intinya penyebab pukulan itu adalah orang tuanya sendiri. Membuat Rambo kembali terenyuh dan hancur.

__ADS_1


Bayangan-bayangan memantul memenuhi ruangan tersebut, disinari cahaya bulan yang mulai pasi dan langit yang makin legam kebiruan. Marwah mulai menyadari sesuatu, dan ia menyentuh wajah Rambo, merayapi hampir tiap inci pipi hingga matanya.


"Om? Menangis?" tanya Marwah. "Kamu kenapa? Baik-baik saja?"


"Baik-baik saja." Rambo menaikkan sebelah lutut dan meletakkan lengan di atasnya selagi mengawasi Marwah. "Aku hanya melankolis. Sekaligus tidak sanggup melihat keadaan kamu sekarang, aku merasa gagal untuk melindungi kamu. Aku merasa tidak berguna, kamu mengalami penderitaan panjang selama ini sementara aku tak berada di samping mu, seharusnya aku menemukan kamu lebih dulu dan kamu tidak akan mengalami hidup sepahit ini."


"Tidak," sela Marwah sambil menggosok pelupuk mata Rambo dengan ujung jarinya. "Ini bukan kesalahan kamu sama sekali Om. Apa yang aku terima, ini adalah pilihanku karena memutuskan pergi dari kamu 5 tahun yang lalu. Kita terpisah bertahun-tahun, dan aku mengalami hal ini karena---ha----orang jahat itu yang berusaha------" Marwah mendongak, tatapannya menghujam sorot mata Rambo, dan Rambo merasakan hasrat kepedihan, trauma yang begitu murni, begitu kuat, hingga Marwah sulit bernapas.


Dalam hati Rambo sendiri telah hancur berkeping-keping, melihat Marwah yang telah rapuh dan ketakutan. Tapi sebisa mungkin, ia menggunakan seluruh pertahan dirinya yang luar biasa untuk tetap tenang sekuat tenaga.


"Tenanglah, Marwah. Aku janji, selama aku masih hidup, kamu akan selalu berada di bawah perlindunganku. Ini yang terakhir---aku janji." Bisiknya.


Rambo tak akan membiarkan gairahnya meledak tak terkontrol di saat Marwah sangat rentan. Tangannya terkepal kuat untuk menghalangi diri dari keinginan untuk merengkuh Marwah lagi. Lebih dari sekedar keinginan sederhana, sensasi tak terduga ini mendorongnya untuk menenangkan, memulihkan, dan mengurangi kepedihan Marwah.


"Maaf, tadi ada urusan tak terduga." Jawab Rambo, berkelit.


"Apa tentang 'orang itu'? Kamu sudah coba telepon nomor yang kutulis itu Om? Siapa dia?"


Mata Rambo langsung dingin, kemudian dia menggelengkan kepala, seakan memberi jawaban ambigu atas pertanyaan Marwah. "Kita akan cari tahu, Marwah. Bersama-sama."


"Lalu?" Suara Marwah pecah saat ia menutupnya dengan tangan. "Ketika kita sudah tahu yang sebenarnya, menurutmu apa yang akan aku lakukan kemudian? Bagaimana jika aku tak mengenali orang itu? Atau mungkin bagaimana jika dia orang terdekat ku? Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana Om?!"

__ADS_1


"Tidak." Rambo meyakinkan dengan suara tegas. "Dia bukan orang terdekatmu, karena orang yang dekat dengan kamu pasti sangat sayang dan melindungi mu Marwah bukan mencelakai seperti sekarang. Siapa pun mereka, kamu tak usah memikirkan apa pun. Mereka hanya orang-orang jahat yang iri dengan kehidupanmu, pasti."


"Mungkin ada sesuatu yang salah dari diriku, Om. Mungkin ada sesuatu yang dia benci dalam diriku, mungkin itu sebabnya dia menginginkan aku menderita, atau mungkin balas dendam, aku tidak tahu.... Om." Marwah menggeleng dan rambutnya yang panjang bergelombang bergerak di punggung.


"Aku tahu." Rambo meraih Marwah, lagi-lagi menuruti naluri yang tak akan membiarkannya melakukan hal lain pada Marwah. Ia memeluk Marwah erat-erat, menariknya ke atas pangkuannya dan menyandarkan Marwah di dada. Kemudian Rambo membisikkan kata-kata menenangkan selagi Marwah mencengkram kuat kausnya.


"Kamu tidak jahat," kata Rambo, suaranya pelan begitu lembut dan membuai. "Kamu tidak memiliki salah apa pun."


"Kita tidak bisa memastikan itu, Om." Marwah membenamkan wajahnya di dada Rambo. "Bagaimana caranya tahu siapa orang itu,--- soal telepon tadi bagaimana? Aku cuma bisa mendapatkan itu."


"Aku sudah melawan kejahatan bertahun-tahun," sahut Rambo, penuh keyakinan atau mungkin hanya pura-pura yakin. "Nomor itu sudah tidak bisa dihubungi. Tapi tenang saja, aku pasti punya cara lain untuk mengungkapnya, dan jika saat itu tiba nanti... percayalah aku akan selalu memikirkan kebahagiaan kamu."


Denyut panas menjalari pembuluh darah Rambo saat ia mengangkat dagu Marwah dengan ujung jari dan menatap mata yang menahan begitu banyak emosi dan kekuatan itu.


"Tidak ada yang jahat dalam dirimu, kamu tidak berbuat salah pada siapa pun dan kamu tidak memiliki kesalahan apa pun, Marwah. Kita akan menyikap pelakunya," Rambo berkata penuh sentuhan. "Bersama-sama. Aku tidak akan membiarkan siapapun lagi membuatmu terluka."


Dan terjadilah pergulatan hebat dalam diri Rambo, dua sisi yang memberontak dalam dirinya menimbulkan genderang panas yang membuat Rambo terpaksa menyelam dalam lautan kebohongan.


Sementara.... hanya sesaat, belum saatnya mengatakan itu pada Marwah. Rambo belum tahu harus bagaimana jika Marwah memberikan reaksi kebencian, dan menjauh lagi dari Rambo.


"Kenapa harus keluarga ku sendiri yang lakukan? Aku pusing sekali dengan permasalahan ini, kepalaku rasanya mau pecah.... "

__ADS_1


Pertanyaan itu muncul lagi dalam benak Rambo. Dan dialah yang paling tersiksa dengan semua ini, tapi dialah pula yang dipaksa paling kuat menghadapinya.


__ADS_2