
"Apa yang kamu inginkan? Sekarang kita ada di kantor, tolong jangan buat keributan seperti kemarin Rama." Ujar Mas Erwin, membanting gelas kopi ke atas piring dengan kekuatan yang cukup besar untuk mendorong air kopi keluar.
Rambo hanya diam sambil menyilangkan kaki di kursi depan meja kerja Mas Erwin. Setelah mendapat info dari Norman, Rambo acak mengambil langkah cepat dengan menemui Mas Erwin di kantornya.
"Bicara empat mata kelihatannya memang lebih baik kan, Mas?" Jawab Rambo menyandarkan badannya ke sandaran kursi.
"Kamu masih tak menyerah juga Rama, ini masih soal semalam." Mas Erwin menatap tajam pada Rambo, dengan ekspresi yang jauh berbeda dari kemarin malam saat Rambo datang memukulnya di rumah. "Iya, aku yang melakukannya. Tapi itu disuruh ibu, ibumu sendiri."
"Nyalimu kecil seperti kemampuanmu Mas," kata Rambo. "Semalam seperti anak kecil yang tidak mau disalahkan lalu sekarang, kamu sangat tenang menghadapi ku."
Sinar matahari siang menyebar melalui jendela ruang kerja Mas Erwin yang tinggi, berkilau keemasan di sepanjang meja jati yang mengkilap.
"Aku hanya menahan diri di depan istriku." Tukas Mas Erwin, seraya meneguk kopi dan meletakkan kembali gelas dan tatakannya ke atas meja dengan kasar. "Memangnya kenapa? Kalau mau marah, salahkan saja ibu. Ibu yang minta aku melakukan ini pada perempuan itu."
"Dan kamu menerimanya, demi jabatan General Manager----"
Rambo menatap kakak iparnya dengan tatapan yang membuat alis Mas Erwin naik sementara matanya terpaku pada putaran sisa air kopi di cangkirnya.
"Ya. Rupanya kemampuan analisa mu tak pernah memudar, aku cukup terkesan. Tapi semua itu sudah tak penting, karena kalau mau minta pertanggungjawaban ya minta saja dengan ibu. Aku hanya jalankan perintah saja darinya."
__ADS_1
Rambo menghela napas dan mengabaikan sisa ocehan Mas Erwin yang tetap enggan disalahkan. Sepertinya ia telah salah memahami sisi kakak iparnya selama ini. Sekarang setelah tahu bahwa laki-laki itu tidak ada bedanya dengan nyamuk penghisap jabatan, Rambo jadi bersemangat untuk bermain-main.
"Aku kan sudah mengatakan dari awal Mas. Nyalimu sama kecilnya dengan kemampuan kamu. Makanya kamu cari yang instant, karena kalau andalkan kemampuan sendiri butuh waktu yang lama untuk jabatan ini kan Mas?"
"Brengs3k!!" Mas Erwin menggertak, dan memukul meja kuat-kuat. Sementara Rambo menyambutnya dengan senyuman tipis. "Katakan saja, kamu mau apa dengan semua kebenaran ini? Masukkan aku ke penjara?"
"Tidak sejauh itu kok, dan tidak sekarang juga." Jawab Rambo sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan sedikit... "
Seluruh indra Mas Erwin telah berwaspada pada pandangan Rambo, dan ketegangan terasa lebih tinggi dibandingkan biasanya. Rambo maju, mendekatkan badannya pada mas Erwin.
"Berkas pernikahan Marwah dan Norman, ada padamu kan?" Kata Rambo sambil menopangkan dagunya di atas punggung jemari tangannya. "Berikan padaku sekarang."
"Aku tahu perusahaan keluargamu sedang krisis beberapa tahun ini. Jadi, sebagai gantinya, aku tak akan merebut jabatan ini darimu." Lanjut Rambo.
Dan kata-kata itu langsung disambut tawa pendek dari Mas Erwin, begitu lucu untuknya sampai ia tertawa tanpa suara. "Kamu ini, memang gemar sekali bercanda Rambo. Ha---ha, terakhir aku lihat kamu membual padaku sebelum gadis itu menghilang lima tahun yang lalu."
"Sayangnya aku tidak sedang bercanda sekarang. Kalau aku tak mendapatkan surat itu, aku akan mundur dari kepolisian dan kerja di perusahaan ini. Aku tahu ini adalah jabatan yang disiapkan ibu untukku selama ini. Tapi karena aku enggan, makanya diberikan padamu."
"Tidak usah terlalu percaya diri!" Ujar Mas Erwin, mengertakkan gigi, betapa ia jengkel dengan permainan Rambo saat ini. "Ibu sudah berikan ini padaku! Dan aku selalu menuruti perintahnya, mana mungkin dia akan memberikan padamu langsung setelah bergabung ke sini?!"
__ADS_1
"Ini adalah calon perusahaan yang akan aku pimpin kelak, jabatan seperti ini sangat kecil untuk ku ambil lagi Mas. Jangan terkejut, apalagi menyesal. Lagi pula, aku sudah tahu kalau perusahaan keluargamu hampir pailit karena tidak dapat investor. Lalu kamu gunakan kewenangan ini untuk menjalin kerja sama. Jadi, Bagaimana jika nanti setelah memimpin perusahaan ini, semua kerja samanya ku hapus?"
Mas Erwin makin tersudut, terutama dengan senyuman licik Rambo itu, dia bersumpah membenci wajah adik iparnya itu sampai kapanpun. "Hanya berkas itu kan?" tanyanya.
Rambo mengangguk, "Iya, hanya itu. Dan aku menginginkannya sekarang. Mau itu ada di ibu, atau di manapun, aku ingin kamu menyerahkan semuanya padaku sekarang, hari ini juga."
Ekspresi Mas Erwin langsung berubah, ia memundurkan kursinya dan sedikit menunduk pada brangkas di bawah meja.
"Itu yang kamu inginkan." Kata Mas Erwin, seraya membanting dokumen itu ke meja.
"Tidak ku sangka, rupanya tetap kamu yang simpan. Simpan di kantor---"
"Ibumu tidak memintanya dariku, lagi pula itu tidak penting sama sekali untukku, karena itu ku simpan saja di sini. Urusan ini sudah selesai, cepatlah pergi, sebelum ibumu datang. Sebentar lagi kami akan rapat." Jawab Mas Erwin sambil membenarkan dasinya.
"Aku tahu," Rambo langsung bangkit dari kursi. "Senang berbisnis denganmu, Mas. Tidak se-repot yang aku bayangkan. Kamu memang menantu idaman ibu, sangat penurut seperti anak kucing yang manis."
Senyuman sinis Rambo itu, memberikan kesan perpisahan yang merendahkan Mas Erwin saat itu juga. Denyut nadinya membanjiri seluruh bagian tubuhnya yang mulai panas. Dan ketika Rambo pergi, semua barang di atas meja berhamburan ke lantai.
"Sangat merepotkan punya adik ipar serigala seperti dia. Dia tahu semua, segala apa pun yang ku sembunyikan rapat-rapat." Kata Mas Erwin frustasi, sambil memijat kasar keningnya.
__ADS_1