
Marwah...
Untuk pertama kali dalam hidupnya yang telah berkepala tiga, Rambo mengenal rasa takut yang sesungguhnya. Jika Mang Abu datang dengan tergesa-gesa, hampir tersengal. Belum lagi wajah orang-orang yang berada di depan ruang rawat Marwah, tak ada lagi yang bisa dilakukan Rambo untuk istrinya itu. Satu-satunya harapan adalah terus berpikir positif sebelum melihat Marwah langsung di dalam.
Seakan-akan membaca pikiran Rambo yang berdiri mematung, dokter Rani mendekatinya terlebih dahulu. Tatapan mata dokter Rani yang sayu, ditambah saat ia menggelengkan kepala bagai serangan maut yang menyayat hati Rambo.
Tiba-tiba Rambo mematung, seluruh badannya sejenak tak ada rasa. Ia langsung bergerak meraih gagang pintu yang dingin, hingga pintu terbuka oleh bantingan. Dan baik Rambo ataupun Marwah sama-sama terpaku setelah lelaki gondrong itu memasuki ruangan. Jantung Rambo berdebar hebat saat mendapati sosok Marwah yang membuka mata.
"Mas," sahut Marwah. "Kenapa buka pintu dengan kasar?"
Rambo langsung melakukan kontak dengan istrinya itu. Rambo seharusnya dapat merasakan kenyataannya tapi seluruh daya dan kekuatan pria itu telah berpusat pada pemikiran buruk tadinya.
"Biar ku peluk dulu tubuhmu," tuntut Rambo, mengalihkan tangannya untuk menopang tubuh Marwah.
"Semua orang di luar bertingkah seakan---"
"Tidak." Marwah berbisik menyela bahkan sebelum Rambo menyelesaikan perkataannya. "Aku di sini Mas, aku tidak akan pergi dari kamu."
Terkejut, Rambo ragu-ragu sesaat. Ternyata ini memanglah sungguhan! Kata-kata Marwah sungguhlah bagai penyejuk yang kembali menenangkan hatinya. Dan jantung Rambo mencelos, ia langsung melepaskan pelukannya untuk melihat kembali wajah sang istri.
Marwah sedang memberikan senyuman, meskipun wajahnya pucat. Tatapannya yang penuh rasa cinta bertemu dengan mata Rambo untuk beberapa saat.
"Bagaimana bisa?" Rambo meraih tangan Marwah, menciumnya berkali-kali selagi merasakan jantungnya sendiri hancur berkeping-keping. "Semua orang bertingkah seakan kamu dalam keadaan sekarat---" Rambo mulai tersengal saat air mata mulai berjatuhan di pipinya yang kehitaman.
"Mereka sedang mempermainkan kamu Mas!" Marwah tertawa pendek.
__ADS_1
"Dasar! Aku seperti mau mati saat orang-orang datang memanggilku sebut nama kamu----Aku benar-benar takut, ku pikir sudah terjadi sesuatu, Berhari-hari aku menunggumu untuk bicara seperti ini. Apakah kamu baik-baik saja sekarang?
Marwah tersenyum dan perlahan-lahan mengangkat tangannya seolah-olah ingin menyentuh Rambo. Namun ia begitu lemah sampai Rambo harus menangkap tangannya ke pipi.
"Aku baik-baik saja Mas," sahut Marwah, suaranya tak lebih dari satu tarikan napas. "Maaf membuatmu khawatir."
"Tidak," kata Rambo, membungkuk dan mencium dahi Marwah, mata, dan bibirnya. "Anak kita sudah lahir. Dan kamu masih hidup. Hanya itu yang penting."
"Kamu jelek sekali sekarang Mas, tidak pernah mandi atau menyisir rambutmu? Lihatlah pakaianmu, kusut dan keluar-keluar dari ikat pinggang. Bagaimana bisa saat aku bangun lihat kamu yang begini?" Marwah mengernyit, berseloroh untuk mengejek Rambo. Bukan untuk menghina, tapi sekedar untuk menggoda dan mencairkan suasana.
Rambo tertawa, menangis, dan memeluk istrinya sekali lagi. Ia mencium wajah Marwah, mulutnya, dan merasakan kembali air mata istrinya, dan ikut menangis bahagia. Rambo merasakan jantung Marwah berdetak dalam irama tak beraturan dan kencang, dan ia mensyukuri setiap detaknya.
"Rambo, apa yang sebenarnya terjadi?"
Marwah langsung mendorong tangan suaminya saat Ibu Amy masuk dengan wajah yang sama seperti Rambo di awal.
"Bu... " Marwah menyingkap rambutnya dan menyambar punggung Ibu Amy. "Terima kasih sudah mendonorkan darah untuk Marwah."
Bu Amy menggeleng-geleng, tangannya menangkup wajah menantunya itu dan memandang mata cokelat jernih milik Marwah. "Itu pantas kamu dapatkan. Maafkan Ibu, Ibu yang sudah buat penderitaan untuk kamu. Ibu yang sengaja menyuruh Erwin untuk membayar orang lain menyakiti kamu cuma demi menjauhkan kamu dari Rambo. Ibu menyesal Marwah... Ibu minta maaf walaupun Ibu tahu permintaan maaf itu tak cukup untuk menebus semua kesalahan yang Ibu perbuat padamu. Karena itu---Ibu akan menjauh dari keluarga kecil kalian dan mohon jadilah saksi di kantor polisi, Ibu akan menyerahkan diri ke penjara."
"Aku tidak menyangkal semua yang Ibu katakan barusan," Marwah berkata lembut, jari-jarinya menyusuri garis rahang mertuanya itu hingga ke leher. "Tapi aku sudah memaafkan."
"Aku sudah tahu, awalnya aku sangat marah bu. Tapi, aku tak bisa membenci kalian. Bagaimana pun juga, Ibu adalah wanita mulia yang melahirkan anak-anak hebat seperti Mas dan Mbak Rani. Marwah tahu Ibu bukan orang jahat, hanya Ibu memang mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya, itu wajar naluri seorang Ibu. Sama seperti yang aku lakukan sekarang, mempertahankan anakku walau nyawaku sendiri terancam."
Senang melihat situasi haru antara istri dan Ibu kandungnya, Rambo senyum tipis. Merengkuh kedua wanita itu begitu erat, ia merasa takkan pernah mendapatkan hikmah seindah ini. "Ibu sudah menyesali semuanya, Marwah adalah wanita paling baik yang pernah ku temui. Di balik semua ini, Tuhan memang memiliki rencana terbaik tak terduga." Rambo berbisik.
__ADS_1
"Nak, Ibu---ingin menebus ini di penjara. Mohon buatkan Ibu perintah penangkapan."
"Untuk apa bu?" tanya Marwah menyela. "Aku tidak izinkan siapa pun membawa Ibu ke penjara."
"Hanya itu satu-satunya yang bisa menebus kesalahan Ibu padamu," ujar bu Amy. Ia bangkit berdiri dari kasur. "Sangat tidak adil jika hanya meminta maaf setelah kamu merasakan penderitaan paling kejam yang sudah Ibu perbuat."
"Ibu sudah menebus lebih dari yang Marwah harapkan. Tidak semua kejahatan itu harus dibalas kejahatan," Marwah berkata, tersenyum, dan meraih tangan Ibu Amy penuh kelembutan. "Ibu sudah mendonorkan darah untuk Marwah, Ibu juga selalu membantu Marwah setiap pagi dan siang, mengorbankan urusan di kantor untuk memperhatikan Marwah yang hamil dan sering sakit. Marwah merasakan kasih sayang Ibu sudah jauh mengobati luka yang pernah tergores di hati Marwah, bu."
Bergetar hati Bu Amy untuk kesekian kalinya. Pendiriannya yang kejam luluh lantak seketika saat ia akhirnya memahami seperti apa wanita pilihan anak lelakinya.
"Bu... " Kata Marwah sekali lagi. "Marwah baru pertama kali menjadi Ibu, banyak yang Marwah belum paham bagaimana mengasuh anak. Ibu mau mengurus cucu Ibu bersama-sama Marwah dan Mas Rambo?"
"Bagaimana bisa Ibu menolak?" Bu Amy tersedu-sedu, suaranya bergetar menahan air mata yang sedari tadi memenuhi pelupuk matanya terus-menerus. "Dia adalah cucu Ibu, pewaris tahta Kakek dan Neneknya."
Ia menatap Rambo dengan memberengut. "Kalau ayahnya tidak mau terima posisi ini, biar cucu Ibu saja yang ambil. Ibu sudah tua, sedangkan perusahaan butuh penerusnya nanti."
Baru lahir tapi masa depan sudah terjamin. Rambo menggumam dalam hati.
"Siapa nama anak kalian, Ibu belum tahu... "
"Soal itu----" Marwah tak melanjutkan kata-katanya saat Ibu Amy menanyakan hal demikian. "Marwah belum menyiapkan sama sekali."
"Aku sudah siapkan," Rambo menyela. "Namanya adalah Saga Rajendra."
Dua kata singkat, Rambo mengungkapkan nama itu dengan kepercayaan dan kebanggaan tertinggi. Saga bermakna Petualang, sementara Rajendra bermakna tampan. Di balik nama itu, tersirat doa dan kasih sayang Rambo untuk anaknya.
__ADS_1
"Saga Rajendra," ulang bu Amy. "Cucu Ibu, Saga adalah pewaris utama keluarga Suhendra."