Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 37 - Penantian 5 Tahun Itu...


__ADS_3

Malam ini, berdiri di tengah-tengah rumahnya, Rambo membentang tangan dan menghirup udara dalam-dalam seakan telah menikmati suasana kebebasan, dadanya naik turun seiring dengan napasnya. Rambo berdebar, kebahagiaan yang sesungguhnya selama ini ia nantikan.


Rambo akhirnya bebas, bebas dari penjara pernikahan yang membelenggunya dalam penderitaan. Ia dapat merasakan kelegaan di rumah ini, saat ia sendiri tanpa Erin. Ia tahu apalagi yang bisa melengkapi kebebasannya itu, yaitu pintu untuk mensakralkan hubungannya dengan Marwah perlahan mulai terbuka.


"Bagaimana perasaan Marwah, jika ku beritahu bahwa satu masalah dari kami sudah selesai?" Kata Rambo sambil tersenyum malu-malu.


Dia mungkin akan merasakan kelegaan yang sama, pikir Rambo.


Dan Rambo segera mengambil kunci mobil di meja, bersiap pergi ke rumah kecilnya di ujung kota. Untuk apalagi kalau bukan untuk bertemu dengan Marwah, perempuan yang dicintainya seumur hidup.


Sinar terang dari lampu depan mobilnya menerangi wajah Marwah di pintu depan, Rambo sampai setelah hampir 40 menit perjalanan. Senyumnya menyungging melihat wanita itu terpaksa memejam mata karena silau.


"Om?"


"Kamu kenapa di luar? Mau pergi cari sesuatu atau ada urusan lain?" Tanya Rambo begitu keluar dari mobil.


Mata Marwah terbuka seketika. "Aku dengar suara mobil di depan rumah, jadi aku keluar untuk melihat."


Sebelah alis Rambo terangkat dan sudut mulut lebarnya berkedut sekilas. "Baiklah, kamu telah menyambut ku secara tidak langsung. Ayo masuk! ada yang mau ku bicarakan denganmu."


"Bicara tentang apa? Apa tentang rencanamu kemarin Om?"


Rambo mengangguk. "Semuanya berjalan baik, walau memang sempat terjadi banyak hal dramatis, Erin sempat mengancam ku lagi l, tapi untuknya aku bisa bertukar ancaman dengannya pakai rekaman CCTV." Kata Rambo kemudian berbalik badan dan memegang kedua sisi pundak Marwah. "Aku akan mengajukan gugatan cerainya di pengadilan besok, setelah aku dan Erin resmi bercerai aku bisa mencari jalan keluar untukmu. Akan ku cari tahu semua apa yang terjadi antara kamu dan suami."


Ketika bertemu dengan sorot mata penuh ketulusan dari Rambo, hati kecil Marwah terenyuh. Entah apa yang saat ini ia rasakan, bagaimana dengan perasaannya yang dipicu pria gondrong itu? itu lain hal. Marwah bahagia melihat Rambo bahagia, tapi melihat posisinya di tengah-tengah mereka, ini tidak bisa disebut hal baik.


"Aku akan selalu mendukungmu jika memang itu adalah jalan yang kamu pilih Om. Aku bahagia melihat kamu tersenyum," ujar Marwah, dan tanpa sadar menaikkan tangan guna mengusap air mata yang telah hadir menyelinap di bawah pelupuk matanya yang jelita.


Setelah Rambo kembali dari rumahnya, membawa kabar yang menyadarkan Marwah bahwa Rambo sungguh menginginkan kebahagiaan lewat dirinya. Suasana yang sepi dan menenangkan, meninggalkan mereka berdua dalam ratapan keharuan yang dramatis.

__ADS_1


"Kemarilah," Kata Rambo, kali ini ia meraih tangan Marwah dan menariknya ke dalam dadanya yang bidang. "Kamu menangis lagi."


Jari-jari Marwah gemetar dalam genggaman Rambo selagi segala kenangan mulai membanjiri kepalanya. Marwah menggenggam tangan Rambo erat-erat, menarik napas dan memejamkan mata, menghalau serbuan bayang-bayang di kepala.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang saat menyentuh dan menangis untukku?" tanya Rambo.


Mata Marwah perlahan terbuka. "Begitu banyaknya yang terlintas di kepalaku, Om. Sampai aku tidak tahu apa yang sekarang aku pikirkan."


"Hubungan kita tidak semulus orang lain sampai bisa erat sepenuhnya. Bahkan untuk sekarang," ujar Rambo lembut, "Aku dan kamu berdiri di antara mereka (suami dan istri masing-masing) tapi setidaknya ada satu hal yang patut untuk disyukuri yaitu Tuhan masih memberikan aku waktu untuk bertemu denganmu, dan menghidupkan kembali rasa hatiku yang sudah mati."


Rambo memejam mata sejenak, ia menunduk dengan gaya zaman dulu, seperti seorang pemikir tua bangka yang puitis. "Karena itu, jangan mudah terlihat lemah. Jangan pernah tunjukan air mata mu ini di depan siapa pun, selain lelaki yang memang kamu jadikan tempat berlindung."


"Pasti," Bisik Marwah. Ia memang tahu bahwa Rambo sangat mengantisipasi air matanya itu, berulang kali pula Rambo memberikan nasihat untuknya tentang segala sesuatu yang menunjukkan dirinya lemah.


Namun, penglihatan Rambo menjelajah sesuatu di luar rumah. Insting prajuritnya keluar, ia menyakini sesuatu telah datang di depan. Ia mengernyit dan menyipitkan mata untuk menangkap bayangan yang mengusik itu.


"Tidurlah, ya. Aku tunggu sampai kamu nyenyak sambil merokok dulu di luar," Kata Rambo.


"Kamu mau langsung pulang kan, Om?"


"Ya, setelah kamu tidur."


Marwah mengangguk, kemudian mengambil langkah ke depan arah kamarnya. Sementara Rambo mengambil rokok dari saku celana belakang, ia siap mencari pengintip itu.


"Keluarlah," Kata Rambo santai sambil memantik korek di ujung sigaret di mulutnya. "Aku tahu kamu sudah mengintip dari tadi."


Lalu sosok itu keluar dari bayangan daun, tubuhnya yang tinggi muncul dibawah cahaya bulan yang pasi.


"Dugaanku benar rupanya---" Kata si penguntit, yang siapa sangka sosok itu adalah atasan dan sahabat karib Rambo sendiri, Anta Reza.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu jadi penguntit?" Rambo menghela napas, membuang asap tembakau yang nikmatnya tak kepalang. Kalau lelaki menyebutnya obat stres.


"Sejak tadi," jawab Anta Reza sambil menyilang tangan di depan dada, sikapnya santai dengan menyandar di dinding rumah Rambo. "Dugaanku tak salah, keinginanmu bercerai itu, semuanya karena Marwah... "


"Tidak sepenuhnya salah," Rambo kembali menghisap sedapnya asap tembakau yang di jepit kedua jarinya itu. "Kalau memang benar pun, memangnya kenapa? Apa kamu akan berubah pikiran tentang surat persetujuan itu?"


Anta Reza menengadah, memandang langit yang legam dan gemuruh.


"Tidak," jawabnya pelan. "Aku justru ingin memberikan suratnya langsung padamu. Hari ini kamu tak masuk ke kantor, apa karena mengurus urusan cerai dengan Erin dan keluarga?"


Rambo mengangguk, tak menjawab dengan kata apa pun.


"Karena itu aku berinisiatif untuk mengantarkannya padamu setelah pulang kerja. Tapi, saat aku sampai ku lihat kamu baru keluar dari pagar. Jadi ku ikuti saja mobilmu sampai sini."


"Kamu sudah mendengar dan melihat semuanya, Reza. Tapi aku berharap sekali lagi, kamu tak akan menghalangi kehendak ku ini. Aku tak peduli dengan apa yang kamu pikirkan setelah tahu yang aku lakukan ini, aku tak peduli apa pun itu Reza. Satu hal yang harus kamu tahu aku telah menantikan ini, lama sekali... aku tak akan mundur." Ujar Rambo sambil melirik Anta Reza di sebelah kirinya.


Helaan napas yang halus keluar dari mulut Anta Reza, sudah cukup menggambarkan pikirannya saat ini. Entah bagaimana ia akan menanggapi, yang pasti Ia memang telah menebak ini semua telah terjadi, begitu semestinya.


"Aku kenal denganmu bukan sebulan dua bulan Rambo. Aku tahu semua apa yang kamu pikirkan dan sembunyikan di hadapanku. Tapi aku sangat menghormati keputusanmu untuk berpisah dari Erin, meski sebenarnya aku pun tak bisa membenarkan apa yang telah kamu lakukan dalam pernikahanmu. Marwah itu hanya masa lalu, dan sayangnya cintamu terlalu tulus, aku menghargainya." Ujar Anta Reza, seraya bergerak ke depan meninggalkan dinding sandarannya.


Dia mulai berjalan lagi, mendekat pada Rambo.


"Kamu sudah berbuat salah, jangan bermain lagi terlalu jauh. Selesaikan dulu hubunganmu dengan Erin, jangan menyentuh perempuan lain, selagi kamu masih menikah. Aku hanya bisa menasehati mu begini, aku tahu kamu bukan lelaki pembangkang. Nasehat ku ini, bukan untuk menyesatkan kamu, jadi turuti lah baik-baik." Suara lembut Anta Reza saat itu, sangat cocok dengan ekspresinya yang dingin.


Rambo masih diam, menyimak kata dari sahabatnya. Ini adalah pelajaran yang berharga, dan Rambo sangat beruntung memiliki sahabat yang bersedia memberikannya nasehat namun juga mendukung keputusannya.


"Ini, milikmu!" Kata Anta Reza lagi seraya memberikan amplop kertas berisi surat pengajuan cerai yang di minta Rambo kemarin lusa. Kemudian setelah Rambo mengambil surat itu dari tangannya, Anta Reza mencuri satu tepukan di pundak Rambo.


"Kamu beruntung, atasanmu adalah aku. Penantian 5 tahun itu, sulit sekali ya?!" bisiknya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2