
"Memangnya kenapa? Kalau memang ibu yang lakukan?"
"Kenapa bu?! Kenapa ibu bisa sekejam itu! Memangnya kenapa kalau aku bertemu dengan Marwah, Marwah itu perempuan baik-baik dia bahkan tidak memiliki salah apa pun baik dengan ibu atau almarhum bapak, atau bahkan semua orang di sini, Mbak Rani, Mas Erwin. Dia tidak pernah menyentuh sedikitpun urusan kalian, tapi kenapa ibu bisa sekejam itu, merusak harga dirinya?!" Kata Rambo dengan suara keras.
"Cukup Rambo!" Ibu Amy mengacungkan telunjuknya tepat di hadapan wajah Rambo, putranya. "Ibu katakan padamu, kenapa ibu melakukan itu? Karena ibu tidak mau punya menantu tidak jelas asal-usulnya. Orang miskin! pendidikan rendah, kerja awur-awuran. Itu yang mau kamu masukkan di silsilah keluarga kita? Sudah benar dia pergi dari hidupmu, malah muncul lagi di kota, beruntung ibu mu ini gerak cepat, dan tuntut kamu cepat menikah dengan Erin. Tapi malah sudah susah payah menyiapkan itu semua, malah dirusak lagi. Benar-benar tidak tahu diri, mau hidup enak tapi tidak bisa, jadi inisiatif cari jantan berduit, dari keluarga kaya raya----"
"Aku tak mengerti," bisik Rambo serak sambil menggeleng, membiarkan air mata menuruni pipinya membentuk jejak yang disinari rembulan. "Aku sangat menghormati dan menyayangi ibu, dulu aku sangat mengagumi ibu yang luar biasa, hangat, baik dan penyayang. Di samping itu aku sendiri tahu, ibu juga orang yang tegas. Tapi aku sungguh tak tahu bahwa ibu bisa sekeji ini pada orang lain. Aku tak mengerti kenapa hati ibu bisa sekeras batu, memangnya kenapa jika memiliki menantu miskin? Kami saling mencintai bu, aku sangat mencintai Marwah, ibu sendiri tahu bagaimana aku menantikan dia selama lima tahun. Tapi kenapa ibu tega berbuat begitu pada perempuan yang ku cinta?"
"Bu, Marwah itu perempuan baik-baik. Ibu menentangnya karena ibu belum kenal dia. Aku tak akan pernah bisa melupakan dia, walau ibu terus memaksaku menikah dengan perempuan lain. Aku selalu mengalah bu, aku nurut apa yang ibu mau. Cuma Marwah itu adalah impianku, bunga jiwaku, kalau aku tak bersamanya aku kehilangan itu semua." Rambo memukul tangannya ke dada. "Teganya ibu melakukan ini padaku?"
Ibu Amy menggunakan seluruh rasa tegasnya yang luar biasa untuk tetap tenang. Sementara Rambo membiarkan gairahnya meledak tak terkontrol di saat wanita tua itu sangat santai. Tangannya terkepal untuk melindungi diri dari keinginan untuk memukul. Lebih dari sekedar hasrat kemarahan, sensasi baru tak terduga ini mendorongnya untuk lebih tenang dan mengurangi kepedihan.
__ADS_1
"Jangan bodoh Rambo! Dia tidak seperti perkiraan mu semula," jawab ibu Amy. "Saat ini banyak orang susah yang maunya serba instan. Menginginkan harta dari menumpang hidup dengan orang lain. Tetapi yang pasti, jika dia benar-benar mencintaimu seharusnya dia ikhlas melihat kamu sudah bahagia dan menikah dengan perempuan lain yang jauh lebih sempurna dan sepadan untuk keluarga kita."
"Ibu melakukan ini karena keegoisan ibu sendiri. Aku tidak pernah bahagia bersama Erin, lalu keikhlasan macam apa yang ibu harapkan dari Marwah?"
"Keikhlasan untuk meninggalkan kamu, misalnya." Suara ibu Amy pecah saat ia mendekat pada Rambo. "Ibu tidak mau keluarga kita hancur dan hilang pandangan dari kolega. Bapakmu susah payah bangun banyak usaha untuk keluarga kita, dan mendapat koneksi dari orang-orang penting. Apa jadinya kalau semua orang yang menghormati itu, tiba-tiba dipandang rendah karena memiliki menantu anak jalanan! Kalau kamu masih sayang dan menghormati usaha bapakmu membangun nama keluarga kita, tinggalkan perempuan itu sekarang."
"Tidak." Satu kata. dari Rambo. Tegas dan yakin. "Aku tak akan pernah meninggalkan Marwah, aku bersumpah tak akan pernah mau lagi kehilangan dia. Ini merenggut semua kebahagiaanku, bukan kehormatan seperti yang ibu jaga-jaga."
"Mungkin ada sesuatu yang salah dalam diriku. Mungkin itu sebabnya aku tetap keras pada pilihan hidupku. Aku tidak tahu apakah ini menentang.... Hanya aku telah berkata, siapa pun yang berani menyentuh Marwah, maka dia akan berhadapan langsung denganku." Rambo mengusap wajahnya kasar dan rambutnya yang lebat bergerak naik turun seiring dengan tarian lembut kepalanya.
"Berarti secara tidak langsung kamu menantang ibu." Ibu Amy meraih Rambo, Lagi-lagi menuruti naluri keegoisan yang tak membiarkannya patah pendirian. Ia menampar Rambo kuat-kuat, menarik dagunya dengan kasar, kemudian ia membisikkan kata-katan menyakitkan selagi Rambo belum sempat memandang wajahnya.
__ADS_1
"Ibu sudah kurang mengalah apa lagi untukmu, kamu sudah membatalkan pernikahan yang pertama dulu dengan Bella. Lalu setelah itu, ibu izinkan kamu mencari dia bertahun-tahun, untuk menyenangkan kamu. Dan sekarang sudah masanya untukmu menyenangkan ibu, tinggalkan perempuan rendahan itu, bawa dia pergi dari diriku." Bisik Ibu Amy, suaranya lembut dan tenang.
"Ibu tidak bisa memaksakan itu," Sela Rambo. "Ibu saja yang menikah dengan kolega!"
"Anak kurang ajar!"
Wajah Rambo langsung terhempas setelah kembali di hujani tamparan mentah yang jauh lebih pedas dari sebelumnya.
"Lihat! ini lah berkat dari dekat-dekat dengan perempuan tak berpendidikan. Otakmu sudah dicuci habis oleh si penggoda itu."
Dan seketika itu pula, Rambo langsung menjawab. "Jaga bicara ibu, karena Marwah tidak seperti yang kalian ucapkan. Merendahkan dia sama saja merendahkan aku. Karena itu aku pernah bersumpah, siapa pun yang terlibat pada nasib malang Marwah adalah musuh untukku." Kata Rambo sambil melirik tiap orang di situ, "Ibu----Mas Reza--- bahkan Mbak Rani kalau terlibat pun semuanya akan ku hadapi, aku tidak takut!"
__ADS_1
"Dasar anak durhaka! tidak tahu diuntung. Pergi kamu dari rumah ini! anak tidak berguna!"