
Lampu merah menyala pertanda operasi sedang berlangsung. Rambo, Anta Reza, Bi Inah, Mang Abu juga Ibu Amy dan Mas Erwin yang baru datang beberapa menit yang lalu; semuanya berkumpul di depan ruangan, raut sedih dan khawatir terpampang jelas di wajah mereka.
Di ruang operasi suster berulang kali mengelap keringat yang dari tadi keluar di wajah dokter Rani.
"Ambil pinset anatomi." Ucap dokter Rani serius.
"Baik dok." Salah satu suster menjawab dengan sigap.
Kurang lebih 60 menit kemudian, nyala lampu berubah warna hijau, menandakan operasi yang terjadi sudah selesai dilakukan.
Suara tangis bayi terdengar di dalam ruang operasi, suster dengan cekatan membawa bayi Marwah dan Rambo ke dalam inkubator, disusul dokter Rani kemudian keluar.
Di luar tangis haru muncul di setiap wajah orang yang sedari tadi menunggu berjalannya operasi. Rambo langsung mendekat, menghampiri kakaknya, dokter Rani.
"Mbak, bagaimana? Anak kami sudah lahir?" tanya Rambo.
"Iya, syukur operasi berjalan lancar, bayi kalian telah lahir jenis kelamin laki-laki, namun karna lahir di usia 7 bulan dia terlahir premature, banyak organnya yang belum matang sempurna salah satunya paru-paru dan kulit, jadi bayi kalian harus diam di dalam inkubator, karena akan banyak komplikasi yang muncul, kamu tidak bisa menggendongnya sekarang." Jelas dokter Rani, masih dengan ekspresi tegang yang sama.
"Anak kami laki laki? Syukurlah dia bisa lahir dengan selamat." Rambo mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan melanjutkan kembali. "Tidak masalah Mbak, aku mengerti kalau belum bisa menggendongnya sekarang, lalu bagaimana dengan Marwah?"
Semua langsung diam, dan berpacu jantung saat pertanyaan itu lolos dari mulut Rambo. Perasaan takut itu kembali menyerang, mengepung, dan mengisi setiap kekosongan dan kegelapan di dalam diri Rambo. Mereka yang ada di situ tak menyangkal ikut mengkhawatirkan tentang Marwah.
"Marwah selamat," Dokter Rani mengangkat tangan, menyentuh pipi Rambo dengan jari-jarinya yang halus, dan sentuhan sederhana itu menyelinap jauh ke dalam jiwa adik lelakinya.
__ADS_1
"Namun seperti yang aku katakan sebelumnya, saat ini kondisinya kritis, bahkan tadi detak jantung nya sempat hilang. Tapi kamu jangan khawatir, kami akan selalu melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Marwah, maaf tapi aku harus segera mencari donor darah untuk Marwah. Butuh banyak 6 kantung." jawab dokter Rani.
Rambo mengumpat dengan gusar, membenci pemikiran bahwa ketakutannya mungkin benar. Benci mengakui bahwa tanpa sadar ia telah mengkhawatirkan hidup Marwah, jauh dari yang diminta dokter Rani. Tenang? bagaimana caranya bagi Rambo untuk tenang bahkan di saat dalam ruangan jantung Marwah sempat berhenti berdetak.
Dia langsung terduduk di kursi, kakinya hilang tenaga untuk berdiri. Sementara yang lain langsung menghampiri Rambo untuk menenangkannya.
"Ram, tidak apa apa, Marwah adalah gadis yang kuat, kamu juga harus kuat untuk dia." Bisik Anta Reza.
"Percayakan pada Rani, dia pasti akan berjuang untuk keselamatan istrimu." Sambung Mas Erwin di depannya.
"Tuan, nyonya selalu ceria, dia mungkin akan sedih kalau lihat kita seperti ini." Bi Inah ikut menambahkan.
Mata bu Amy mengawasi Rambo, menantang pria itu untuk menggapai dan menariknya ke dalam pelukan. Menantang Rambo untuk membiarkan waktu berjalan dan menerima segalanya dengan tetap berusaha.
"Apa golongan darah Marwah?"
"A, positif." Dokter Rani bernada pelan selagi menatap heran kedua mata ibu kandungnya, tidak terduga.
"Kalau begitu ambil darah ibu," kata-kata tersebut keluar dari mulut Ibu Amy bagaikan mantera. Perkataan yang ia keluarkan seakan menampar masa lalu yang pernah dilakukannya untuk Marwah. "Darah ibu A positif."
"Ibu serius?" ujar dokter Rani, tatapannya mengunci tatapan ibu kandungnya itu selagi ia memantapkan badan.
"Sudah ada berapa kantung setelah ibu mendonor nanti?"
__ADS_1
"Baru satu bu, persediaan darah A di sini habis. Makanya aku harus cepat menghubungi rumah sakit lain."
"Berarti masih kurang 5," Ibu Amy berjuang keras untuk bernapas teratur. Menggapai udara bahkan ketika harinya sendiri bergetar hebat di dalam dada. Darah terpompa, sendi-sendinya menegang, namun begitu hebatnya, perempuan itu tetap terlihat biasa dan tenang dari luar. "Erwin?"
Mas Erwin mendekat, cahaya lampu yang putih dan terang menyinari tubuhnya yang terus bergerak. "Ya bu?"
"Adakan pengumuman di kantor, siapa pun karyawan yang bersedia mendonor darah sekarang langsung naik jabatan!"
Rambo mengernyit seraya terus memandang sosok ibunya, sungguh di luar dugaan dan memang tak terduga. Sebab ini di luar bayangan semua orang, bahwa orang yang paling menentang dan membenci Marwah dulu malah berbuat yang paling jauh untuk menyelamatkan perempuan yang dinikahi Rambo itu.
"Ayo tunggu apa lagi? Kenapa kalian semua melamun, kita harus cepat kan? ayo Rani kita gerak sekarang, ambil darah ibu. Marwah tidak bisa menunggu terlalu lama."
Dan dengan keputusan ibunya tersebut, Rambo merasa seakan-akan terbebas dari rasa sakit dan bersalah yang menyangkarnya; memberinya kesempatan untuk melihat kebaikan keluarganya sekali lagi. Dengan cara yang tak pernah Rambo bayangkan sebelumnya.
"Rambo, kamu mau sampai kapan duduk lemas begitu?" Ibu Amy kembali menantang, selagi mengambil langkah mengikuti dokter Rani ke ruangan laboratorium. "Istrimu itu masih hidup, jadi manfaatkan segala waktu yang tersisa. Kalau kamu cuma sedih begitu, tanpa pergerakan apa pun, tidak ada bedanya dengan menunggu ajal Marwah datang."
...****************...
BREAKING News 24 Jam ‼️
Ada yang ingat dengan Angkasa Naufal Ananta, anak kembar dari pasangan Kak Anta dan Kania? Begini kabarnya sekarang 👇🤳
__ADS_1