
Badan dokter Rani terayun dan perempuan berkulit putih lemah lembut itu, melangkah mendekat pada Rambo. "Kamu tidak merasakannya kan?" Hardik dokter Rani pada Rambo.
"Mbak merasakannya, Mbak kehilangan kebersamaan keluarga kita. Kamu tidak ingat, dulu kamu selalu bercanda dengan mas Erwin, dengan Bapak, menggoda ibu tiap makan malam. Kamu tengil, tapi selalu nurut dan siap melakukan apa pun untuk buat ibu tertawa. Tapi, setelah kenal Marwah. Kamu cuma memikirkan dia, kamu batalkan pernikahan dengan Bella, saat itu ibu dan bapak atau mbak tidak ada yang menentangmu kan? Kami turuti, bahkan ibu pun beri kamu kesempatan cari dia bertahun-tahun---"
"Tidak Mbak! Kalau memang ibu beri kesempatan, ibu tidak akan suruh Mas Erwin minta orang lain menikahi Marwah, dan mengekang Marwah biar tidak keluar rumah." Kata Rambo, bahkan sebelum dokter Rani menyelesaikan perkataannya.
"Itu karena Ibu memang sudah mengatur perjodohan kamu dengan Erin! kenapa sih kamu tidak bisa ngerti?! Kamu jadi buta karena cinta cintaan kamu itu, Mbak capek dengan pilihan kamu Rambo. Kamu sungguh egois, mengacaukan keluarga kita sendiri."
Malam yang begitu sunyi, bulan hanya menyendiri. Angin berdesir masuk melalui pintu terbuka samping kolam berenang. Makan malam yang awalnya sudah datar kini menjadi lebih tegang. Terutama ketika, sang kakak angkat bicara.
Jantung Rambo seperti dihujam puluhan bambu, teriris begitu pedih ketika dokter Rani menghardiknya dengan kata-kata tajam yang menyiksa. Andai semua itu sungguh benar adanya, itu semua bukan keinginan Rambo. Rasa cinta adalah anugerah dari Tuhan yang harus dibelai dan dirawat penuh kasih sayang agar ia tak melukai, karena itu Rambo percaya, cinta ini bukan sekedar rasa keegoisan melainkan rasa yang harus diperjuangkan.
"Mbak, Kita tidak akan kehilangan semua itu. Aku masih sama, hanya andai kata kita sama-sama saling menghormati sebab di sini bukan hanya aku yang egois. Andai ibu bisa menerima Marwah apa adanya, kita semua bisa saling hidup rukun sebagai keluarga. Tidak akan sejauh ini Mbak... " Rambo merintih sambil menunduk. "Aku sungguh minta maaf jika kalian merasa aku sudah mengacaukan keluarga, tapi tolong jangan menganggap Marwah penyebabnya. Aku berharap padamu Mbak, karena kamu yang kuanggap paling paham perasaanku. Saat kamu mengatakan ini, hatiku hancur berkeping-keping."
Suasana menjadi hening, Dokter Rani sadar betul bagaimana Rambo sangat berharap padanya. Namun ia sendiri tak mampu menampikkan bagaimana rasa kecewanya pada kekacauan rumah tangga ini. Ia merasa Rambo telah berubah, dan itu semua terjadi sejak adik lelakinya itu mengenal Marwah dan jatuh cinta padanya.
Ini begitu melukai semua pihak.
"Pergilah---" Pinta Dokter Rani pada Rambo. "Jangan sampai Ibu menangis semakin dalam, kamu tidak tahu bagaimana kalau asam lambungnya kambuh. Pergilah, dan peluklah perempuan yang kamu cinta itu. Tidak usah perduli kan kami."
__ADS_1
Oh, makin hancur hati Rambo mendapati pengusiran itu. Ini sudah biasa, seharusnya tak membuatnya begitu terkejut. Tapi, malam ini berbeda, kakaknya sendiri yang mengusir. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah karena dokter Rani telah beranggapan salah pada Marwah. Ini yang lebih membuat Rambo terluka.
Rambo masih terdiam kaku, membisu seperti patung. Ia sendiri dan tiba-tiba merasa hatinya begitu sempit, apalagi saat melihat Dokter Rani berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Ibu Amy, kemudian membantunya berdiri dan berangkat meninggalkan dapur.
Kini, hanya tersisa Rambo dan Mas Erwin.
Waktu berjalan sangat kejam. Sementara langit menatapnya begitu dalam, Mas Erwin dengan raut wajah masygul datang menghampirinya.
"Pulanglah dulu Rama, sementara Ibu dan Mbakmu masih sangat sentimentil. Bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan kehendakmu pada mereka."
Dalam sekejap, sosok Mas Erwin yang licik beberapa waktu lalu terungkap tiba-tiba menjadi sirna lewat tatapan matanya yang tak bisa berbohong. Dia, memberikan pengertian pada Rambo.
Mas Erwin hanya diam sambil menepuk pundaknya.
"Mas, ini bukan cuma keegoisan ku. Kita semua punya kehendak masing-masing, dan kehendak itu memaksa kita untuk saling mewujudkannya. Ibu yang tak ingin cita-cita dan harapannya pada anak berantakan, Mbak Rani yang ingin kita terus sama-sama, Mas yang butuh jabatan untuk selamatkan perusahaan keluarga dan aku yang ingin memperjuangkan hak Marwah dan ingin hidup bahagia bersamanya. Kita sama sama memiliki kehendak Mas, dan tanpa kita sadari pula kita menumbuhkan keegoisan tersendiri hanya untuk mewujudkannya." Tukas Rambo membela diri. "Karena itu, kita harus saling hormat-menghormati Mas. Tapi, sayangnya aku lah yang tersudut, semua orang menyalahkan aku. Aku merasa sendiri Mas----"
Mas Erwin mendatangkan satu tepukan di bahu Rambo, untuk menguatkan mungkin. Dia memandangi Rambo penuh hormat, dan dalam sorot matanya itu, Rambo kembali mendapati kehangatan Mas Erwin seperti dulu, sebelum ia tahu keterlibatan Mas Erwin dalam kasus Marwah.
"Kamu adalah laki-laki, adik sekaligus anak yang baik Rama. Mas iri padamu... " bisiknya. "Pulanglah dulu, mereka masih sensitif. Tak ada gunanya kamu bernegosiasi dengan Mereka, Aku, juga akan coba beri pengertian pada Rani. Sekali lagi, Maaf."
__ADS_1
Rambo mengepal tangan, dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Sebelum itu, sampaikan pesanku; Aku tetap akan menikahi Marwah, dengan atau tanpa restu kalian. Dengan atau tanpa kehadiran kalian. Jika memang berkenan, aku akan menantikan, ini adalah jadwal pernikahanku Mas---walau masih sulit, aku tetap akan percaya padamu."
Selepas itu, dengan langkah pelan ia meninggalkan rumah Ibu Amy dan meneruskan perjalanan ke rumahnya bersama Erin dulu.
Dua hari setelah permintaan Rambo itu, semua berjalan datar seperti biasanya. Persiapan pernikahan pun mulai dicicil, dan pagi ini Marwah mulai menyusun daftar barang-barang untuk hantaran.
Pagi yang dingin, dan di tengah kesibukannya itu, Marwah berlari ke pintu depan saat bunyi ketukan pintu datang. Pasti Om, pikirnya.
Tapi rupanya salah, ia mendapati orang lain yang berdiri di depannya. Perempuan tua yang elegan, terlihat sekali aura kepemimpinan dan kekayaannya.
"Maaf, cari siapa bu?" Katanya tiba-tiba kikuk.
"Kamu Marwah?" Jawab Ibu Amy dengan pertanyaan balik. "Aku Ibu kandungnya Rambo. Bisa kita bicara sebentar?"
Tak bisa dipercaya, Marwah membisu beberapa saat berusaha meyakinkan diri bahwa ia tak salah mendengar. Ibu Amy? Ibu Rambo? Dia datang ke rumah rahasia Rambo di ujung kota? Bagaimana bisa terjadi?
Mungkin Om gondrong yang memberi tahu, mungkin Om sudah minta restu pada keluarganya. Tapi sayang saja seharusnya aku yang menemui mereka, bukan sebaliknya. Astaga aku malu sekali. Marwah menggumam dalam hati...
"Boleh bu, mari silahkan masuk." Sambutnya lembut. "Silahkan duduk di situ bu, saya buatkan teh... "
__ADS_1