Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 80 - Rahasia Besar Terungkap


__ADS_3

Cahaya lampu begitu temaram, menemani Marwah dalam kesunyian. Tak ada kegiatan apa pun, semua sudah dilarang Rambo, dan ini membuat Marwah merasakan kebosanan yang membuncah.


Matanya berkeliling menjelajah seisi kamar, sambil menghela napas dia mulai berjalan pelan. "Membaca buku mungkin tidak terlalu buruk." Marwah menggumam, selagi memusatkan perhatian pada rak buku Rambo dekat jendela kamar.


Marwah dapat merasakan dari mana kepintaran sang suami itu didapat, dibalik pembawaannya yang ugal-ugalan ternyata Rambo adalah sosok pencinta pengetahuan. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, persis seperti Marwah.


Selagi Rambo bekerja dan menunggunya pulang, Marwah mencari dan memilah beberapa buku yang dirasa bagus untuk dinikmati bacaannya.


Tapi hal mengejutkan datang, saat Marwah menarik salah satu buku, selembar kertas jatuh. Kertas kecil yang tak asing.


"Ini kan nomor telepon orang jahat," katanya pelan. "Masih disimpan oleh Mas."


Dipandang-pandang, dipegang-pegang, membuat Marwah merasa gemetar dan terpanggil, haruskah ia bertekad ada sedikit rasa penasaran meski Rambo mengatakan nomor itu sudah tak bisa dihubungi, 1 setengah tahun yang lalu.


Marwah selalu bertanya-tanya mengenai 'orang jahat' itu, mengenai keberadaannya, mengenai motif, mengenai sosoknya, kalau pun Rambo dan Norman tak bisa memberi penggambaran yang jelas namun apa salahnya jika ia mencoba.


Dia tertawa kecil dan mulai mencari-cari. "Sudah lewat satu tahun sejak saat itu, entahlah penasaran saja. Dicoba tidak masalah kan?"


Alis Marwah mengerut saat mengetikkan nomor telepon di kertas itu, angka demi angka menyalinnya di papan angka ponselnya. Ketika menekan panggilan, Dia berdebar hebat, panggilan telepon itu berdering; tandanya nomor itu aktif.

__ADS_1


Ia terus mengawasi layar ponselnya dan mengangguk senang, "Aku harus tahu siapa kamu... "


Dia langsung terdiam saat panggilannya terjawab, "Halo?" Orang itu menjawab dari tempat yang tak diketahui arahnya.


"Saya bicara dengan siapa?" Orang itu melanjutkan, suaranya begitu jelas dan lembut, seakan-akan terdengar bukan suara seorang penjahat. Tapi Marwah malah mematung, kepalanya berpikir dan berusaha terus menggali ingatan. Dia merasa, mengapa tak asing dengan suara itu?


"Halo? Apa kamu mendengar suaraku? Ini siapa, kalau masih tidak menjawab aku akan menganggap ini salah sambung dan segera mematikan panggilannya."


Jika diberi kesempatan sedikit saja, sekejap saja untuk Marwah membuka bibir, dia ingin berkata langsung; Akulah perempuan yang kamu inginkan penderitaannya... sementara seharusnya aku lah pula yang bertanya begitu, siapa kamu? Dan kenapa ingin aku menderita?


"Baiklah, aku matikan teleponnya."


"Iya, ini siapa? Ada perlu apa menelpon saya? Ini nomor ponsel pribadi, mohon diperhatikan jika memang memiliki keperluan penting. Saya tidak mau malah mengganggu pekerjaan." Sahut orang itu tergesa-gesa, lalu sebelum Marwah menjawab dengan kata yang tepat, suara seseorang yang berada dalam ruangan yang sama dengan lelaki itu terdengar. "---Mas? Ayo makan malam, ibu sudah menunggu di meja makan---oh maaf ada pekerjaan lagi ya? kami tunggu di ruang makan kalau begitu."


Dan betapa terkejutnya Marwah mendengar suara perempuan itu, suara orang yang kali ini diyakininya tak asing. Mbak Rani? Itu suara Mbak Rani...Marwah langsung menangkup mulutnya, ia merasakan ketakutan yang memuncak, pandangannya membeku pada satu arah dan semua hening tanpa suara.


Suara perempuan yang diketahui sebagai iparnya itu, memang sangat akrab di telinga Marwah, sejak mereka mengakrabkan diri dan rajin memasak bersama di toko kue Kania. Marwah tahu betul itu adalah suara lembut si dokter.


Kalau itu Mbak Rani, berarti laki-laki itu---mungkinkah Mas Erwin?

__ADS_1


Marwah menerka-nerka, dan sangat wajar karena memang sejak menikah dengan Rambo ia tak pernah mengobrol intim dengan Mas Erwin, tidak dekat sama sekali sebab Mas Erwin sendiri sangat menjaga jarak, jadi Marwah pun tak menyimpan sama sekali kontak iparnya itu.


Pantas kamu menutupi ini dariku Mas... Hardik Marwah penuh kekecewaan, Mereka adalah keluargamu sendiri...


...****************...


Kuis :


Apa yang akan dilakukan Marwah setelah mengetahui penjahat sesungguhnya?


A. Masak Roti.


B. Ngereog.


C. Minta Penjelasan Rambo.


D. Menutup Hati.


JANGAN LUPA TEKAN JEMPOLNYA KAK, SUDAH BAB 80, MOHON DUKUNGAN KALIAN. (´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡

__ADS_1


__ADS_2