
Awal hari di kantor polisi, Jantung Rambo berdetak kencang, ia tak akan heran jika dadanya seperti meluap-luap seakan ada udara yang memaksa menembus tulang iga.
Bukan hanya karena keyakinannya yang membuatnya begitu berdebar. Tapi juga Anta Reza. Ya Tuhan, ini mengingatkan satu pedoman hidupnya selama menikah: 'Sekali kamu, maka selamanya tetap kamu', Sensasi menyerbu pikiran Rambo, seakan-akan tubuhnya kini hanya terjaga untuk mengetahui bagaimana jika sahabatnya itu tahu ia ingin meminta surat pengajuan cerai?
"Semangat Ndan! kami siap membantu jikalau diperlukan!" Satu dukungan moral datang dari Davin.
Tangan lain datang menepuk pundaknya dari belakang. Zico menatapnya saksama, untuk menguatkan. "Jika alasan anda belum cukup kuat bagi Pak Anta, kami siap bantu menguatkan alasan itu!"
Rambo mengangguk kemudian kembali menatap pintu.
Satu keyakinan dan Rambo langsung terbakar ketika menyentuh gagang pintu ruang kerja Anta Reza. Satu helaan napas, lalu tubuhnya menjadi panas dan bergelora, siap untuk pria itu.
"Apa hidupku baru terendus lagi olehmu, Rambo?" Anta Reza menyambutnya dengan senyuman, tapi juga sedikit sindiran. "Sejak menikah, kamu jarang sekali menemui aku. Ku pikir sudah lupa dengan sahabat sendiri."
"Perasaanmu saja," jawab Rambo dengan suara lirih. "Aku memang sedikit lebih sibuk setelah menikah."
"Oh ya? Aku paham sekali maksudmu. Jadi bagaimana rasanya setelah menikah?"
"Tak ada yang istimewa, hanya aku lebih merasa gila." Rambo menarik kursi di depan meja Anta Reza, sahabat sekaligus atasannya.
"Aku kemari karena butuh bantuan kamu!"
__ADS_1
Sementara Anta mengernyit dengan jawaban Rambo barusan. "Bantuan apa?"
"Berikan aku surat persetujuan melakukan perceraian," jawab Rambo tanpa beban lagi. "Aku ingin bercerai dari Erin."
Anta memandang Rambo beberapa saat, Kemudian menopang dagu dengan ibu jari di atas meja, dan seketika itu helaan napasnya sangat hangat saat jemarinya berada di depan hidung.
"Apa yang kamu lamunkan Anta Reza?" Kata Rambo memandang Anta dengan kesal. "Aku butuh surat itu cepat, aku harus segera berpisah dari Erin."
Anta memutar bola mata ketika melihat sikap keras sahabatnya, namun ia telah belajar dan mengenal Rambo lebih dari sebulan dua bulan, sikap Rambo dari ujung ke ujung Anta Reza paham dengan baik semua itu.
"Apa ini semua masih berkaitan dengan Marwah?" Kata Anta, sambil mengambil air minum kemasan untuk Rambo. "Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Maksudku.... " Anta menjaga suaranya tetap pelan agar tak ada orang lain yang mendengar, seandainya ada anggota yang lewat di depan ruang kerjanya.
"Kamu sudah berpisah dengannya lebih dari 5 tahun, dulu aku sangat memaklumi kalau kamu bersikap acuh, semaunya sendiri dan hanya memikirkan tentang Marwah. Tapi posisinya sekarang kamu sudah menikah, aku sangat berharap keinginanmu untuk cerai ini tidak ada kaitan sama sekali dengannya, kamu tidak pernah lagi memikirkan tentang Marwah selama pernikahan kalian, kan?"
"Begini, aku tahu sejak kehilangan Marwah, emosimu suka meluap tidak karuan. Dan aku yakin, sekarang kamu juga berada dalam kondisi kurang baik. Aku tidak ingin kamu salah mengambil langkah, Maksudku---coba kamu renungi lagi permintaanmu barusan. Pernikahan bukan untuk main-main, pernikahan bukan untuk main sambung pisah sambung pisah. Apalagi kalau ternyata alasanmu begini, karena masih suka terbayang masa lalu."
Anta mengangkat kepalanya dan menghujam Rambo dengan mata gelap yang menuntut agar diperhatikan. Menuntut kepatuhan lelaki gondrong itu, lagi dan lagi. "Soal Marwah, aku tidak benar kan?"
"Kalau benar bagaimana?" Balas Rambo, dengan tatapan yang sama tegasnya. Seakan ia memandang Anta Reza murni hanya sebagai sahabat, bukan atasan.
Anta menggeleng dan berkata, "Kalau begitu kubur saja permintaanmu. Aku tidak akan pernah menyetujuinya."
__ADS_1
Dan lagi-lagi, Anta terpaksa mengakui perubahan sikap sahabatnya, ia dapat merasakan kekuatan tatapan itu menusuk hatinya, ketika Rambo menyunggingkan senyum tipis.
"Dengar Rambo, sedikit nasihat dariku sebagai sahabat. Pernikahan itu bukan ajang main-main, saat kamu mengucapkan ijab dan dikabulkan oleh walinya, saat itu pula kamu sudah mengemban kehormatan diri seorang perempuan. Kamu bukan lagi memikirkan tentang dirimu sendiri, tapi tanggung jawabmu lebih besar, melanjutkan tanggung jawab seorang ayah. Lalu menurutmu, memutuskan cerai hanya karena masih memikirkan masa lalu, apakah itu adil untuk wanita yang kamu nikahi Rambo?" Anta Reza mengusap wajahnya kasar, seperti tengah mengalami dilema berat.
"Kamu dengar aku kan? Bagaimana aku harus menyadarkan kamu? Cobalah untuk menerima keadaan Rambo, apakah hanya karena perempuan sikapmu jadi berubah total? Kamu sudah kehilangan dirimu. Lain kali, ingatlah dulu bagaimana kamu menyanggupi untuk mengemban kehormatan istrimu, bagaimana kedua orang tuanya menjaga itu sebelum akhirnya mereka mempercayakan segalanya padamu. Jangan pernah sekali pun berpikir untuk merusak harga diri wanita, hanya karena keegoisan kamu."
Suara Anta Reza barusan menyentuh pikiran Rambo. Iramanya yang lembut dan tegas terdengar mendesak sekaligus menjengkelkan.
"Sudah kembalilah ke tempat kerjamu, setelah waktu pulang nanti ayo kita minum kopi bersama di Caffe biasa, kita bisa mengobrol lagi seperti dulu, segala keluhan, kesenangan, masalah. Aku akan mendengarkan semua itu darimu." Kata Anta lagi sambil mundur sedikit ke arah belakang.
"Kita bicara sekarang saja, Anta." Ucap Rambo, dia menghela napas dalam-dalam. Lebih tenang dari tadi dan kembali melirik Anta Reza. "Aku tidak menyalahkan semua yang kamu katakan, ku akui mentalmu jauh lebih kuat dibanding aku dalam berkeluarga. Aku pun ingin sekali belajar menerima dan mencintai segala kekurangan dan kelebihan Erin, sama seperti kamu kepada istri. Tapi, sayangnya permohonan ceraiku ini, bukan semata karena Marwah. Aku memiliki alasan kuat tersendiri, yang kamu mungkin tidak akan menduga, karena kamu tidak pernah merasakan apa yang ku rasakan ini, dalam kehidupan rumah tanggamu."
Anta merasa tersindir, kemudian mengangkat dagu sambil berkata, "Jika memang ada alasan lain, katakanlah. Aku akan dengar dan pertimbangkan dengan baik. Tidak usah khawatir."
"Ya, baik." Rambo tersenyum singkat dan mengangguk hormat pada Anta. "Aku izin memanggil dua orang, yang bisa menjadi saksi alasanku di depanmu. Sebentar----Masuklah kalian!"
Tidak selang lama, hanya sekitar beberapa detik saja pintu ruang kerja Anta kembali terbuka, Davin dan Zico masuk bersama-sama.
"Selamat pagi, Pak!" ucap mereka serempak sambil memberi hormat.
"Tutup pintunya, dan cobalah bicara tentang ini." Titah Rambo sambil melirik mereka dengan tatapan saksama, seakan tengah mengisyaratkan agar Zico dan Davin menyampaikan semua sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki dan pengalaman yang mereka alami di rumah Rambo kemarin.
__ADS_1
Anta Reza mengangguk pelan, seakan telah merestui kesaksian yang akan disampaikan oleh mereka berdua.