Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 63 - Ku Lamar Kau dengan Pragma


__ADS_3

6 bulan berlalu pasca cerai, kini Marwah telah memegang akta perceraian dari pengadilan. Perjalanan yang panjang, dan banyak sekali perubahan di dunia ini daripada yang sanggup dimengerti Marwah. Dan, Marwah mengingatkan diri bahwa meskipun hidupnya berada di ujung tanduk dan penuh derita, Rambo sepertinya sangat bertekad menjauhkan Marwah dari segala marabahaya. Yah, pria itu akan melawan apa pun demi kebahagiaan Marwah.


Dan Marwah pun tak akan diam begitu saja, mereka masih saling cinta meski telah terpisah jarak. Sebagaimana perjuangan mereka untuk kembali bertemu dan bersatu, dan ia sendiri tak kan membiarkan Rambo melakukan perjuangan sendirian demi dirinya.


"Aku sudah mengatakan, jangan menunduk terus. Apa yang kamu lihat di bawah sana?" tanya Rambo sambil membenarkan jas hitamnya.


"Ti-tidak ada."


"Aku izin tidak patroli malam ini, bukan untuk memandang rambut kepalamu. Ayo coba tegakkan wajah, biar makan malam ini lebih hidup."


"Maaf aku cuma sedikit malu Om."


"Jangan malu-malu begitu. Aku jadi ikut salah tingkah, santai saja. Memang tidak bisa bersikap wajar seperti biasanya?"


Di tengah pembicaraan, pelayan resto datang membawa pesanan. Pelayan dengan dasi kupu-kupu merah yang bodoh.


"Tolong bawakan yang aku minta tadi, ya?" Kata Rambo.


"Baik Pak," jawabnya, kemudian pergi dari meja Rambo dan Marwah.


Mereka saling diam, saling bertanya-tanya barangkali ada sesuatu yang tak terduga. "Ayolah, sampai kapan mau menunduk terus? Kurang nyaman dengan tempatnya ya? Kamu terlihat tidak senang. Kejam sekali, aku jadi merasa bersalah dan ikut canggung." Kata Rambo kembali, sedikit membuat Marwah tertekan.


"Tidak Om, bukan begitu. Aku sedikit gugup karena tiba-tiba kamu memberikan aku gaun cantik ini untukku, berdandan, dan makan malam di tempat mewah seperti ini. Ini pertama kalinya ku rasakan, jadi aku sedikit gugup."


"Kamu nyaman tidak?" Tanya Rambo padanya.

__ADS_1


"Iya."


"Minumlah jusnya, jangan diam kaku seperti itu. Atau potonglah daging steak itu, lalu makan. Aku mau lihat kamu yang rakus."


Bibir Marwah langsung mengkerut karena godaan Rambo. Diambilnya jus warna merah hati itu. Lezat dan sedikit sengak sampai di dasa. Aromanya sangat harum dan hanya di isi seperempat gelas saja. Akhirnya setelah itu Marwah berani menatap Rambo.


"Rasanya enak?"


"Sesak Om, pait."


Rambo langsung tertawa dengan kepolosan itu. Hilanglah langsung rasa jengkelnya barusan, saat mendapat pemandangan wajah Marwah yang sederhana dan apa adanya.


"Jangan diminum lagi, nanti aku minta pelayan bawakan es krim vanilla saja." Kata Rambo sambil menyilangkan kaki. "Kamu cantik sekali malam ini, aku tidak tahu bagaimana menemukan rupa jelekmu lima tahun yang lalu. Begitu cantik, sampai aku terpesona berkali-kali."


"Berhenti bicara Om! Kamu suka sekali merayu orang lain, bagaimana aku bisa percaya?"


"Entahlah, aku tak punya kata-kata untuk meyajinkanmu. Tapi tanpa ku jawab pun, kamu bisa lihat bagaimana caraku menatap. Bagaimana mataku memandangmu. Ada pepatah mengatakan; saat laki-laki jatuh cinta kamu bisa melihatnya dari caranya menatap, dan saat wanita jatuh cinta kamu bisa melihatnya dari caranya tersenyum." Cakap Rambo, sambil memajukan badannya dan tersenyum tipis.


"Aku mengatakan ini dari awal, dan perasaanku tidak berubah bahkan dari pertama kali aku bertemu kamu. Aku mencintai kamu, melebihi rasa cinta pada diriku sendiri."


Ia berhenti sejenak untuk meneguk jusnya, sampai pelayan datang kembali membawa pesanan yang diminta Rambo. Sebuah hidangan tertutup tutup aluminium setengah lingkaran mendarat di meja.


"Izinkan aku, melihat senyummu biar aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku tak memiliki hadiah apa pun untuk pertemuan malam ini, layaknya anak muda kencan dengan kekasih. Aku sudah merasa tak pantas lagi untuk itu, hanya saja aku tak ingin menjadikan malam ini lewat dan biasa saja. Untuk meyakinkan dirimu, aku memiliki hadiah kecil.... " lanjut Rambo kemudian meraih ujung tutup hidangan, dan membukanya perlahan.


Dan muncullah benda kecil hitam yang tak asing untuk keduanya. "Gelang pragma... " Kata Rambo sambil tersenyum.

__ADS_1


Marwah hanya diam sambil memandang benda itu dengan gemetar. Bola matanya membulat di bawah naungan kelopaknya yang jelita, cahaya lampu berpijar memantul pada bayangan pupil matanya yang berkaca-kaca.


"Om... ini---kamu masih menyimpannya."


"Tentu saja, memangnya kamu pikir bakal ku buang. Seorang wanita berjuang mati-matian untuk menghadiahkan benda ini padaku, padahal dia sendiri juga kesulitan." Balas Rambo, ekspresinya langsung berubah. "Gelang Pragma, Istilah cinta dalam mitologi Yunani. Artinya Cinta yang abadi. Penuh akan makna yang sangat dalam. Dimana sudah tak ada lagi keegoisan antara dua orang dalam satu hubungan, semua yang dilakukan mereka adalah berusaha untuk membuat kebahagiaan dan membahagiakan pasangannya."


Rambo menaikkan wajahnya, dan mereka saling memandang kembali. "Seperti perjuangan wanita itu untukku. Mati-matian cari uang, beli benda-benda romantis untuk hadiah pernikahan. Padahal hatinya sendiri hancur parah, dia berpikir aku akan hidup bahagia dengan pernikahan itu. Secara tidak langsung, dia memberikan gelang ini untuk menunjukkan bagaimana perasaannya saat itu."


"Saat Kania, sahabatnya memberikan ini padaku, dia berkata; Sepasang gelang dengan lambang 'Pragma' atau 'Cinta yang abadi'. Dia ingin aku memakainya dengan pasangan ku, agar cinta kami matang dan berkembang sebagaimana makna dari lambang 'Pragma' itu sendiri." Lanjut Rambo, sementara Marwah tak kuasa memandangnya... Jiwanya terasa penuh dengan latar cahaya remang.


Malam yang semakin legam, namun bulan tetap terang. Di balik pertemuan ini, udara berdesir meniup dada mereka yang berdebar. Rambo masih belum menyelesaikan kata-katanya, dia masih menggenggam dan memandang tiap detil gelang pemberian Marwah untuknya.


"Aku tak pernah memakaikan gelang ini pada wanita manapun, karena bagiku seperti keinginannya, hanya dialah yang pantas menjadi pasanganku, dan hanya dialah yang berhak memakai gelang ini bersama ku. Dan dia yang ku maksud itu adalah kamu, Marwah." Tutur Rambo.


Terdiam Marwah seketika itu, matanya langsung membulat hebat ketika Rambo mendorong kursinya untuk bangkit dan merubah posisi, dia berdiri di hadapan Marwah dan berjongkok di depannya sambil menyodorkan gelang.


"Marwah, aku mencintaimu melebihi apa pun yang ada dalam diriku. Meski dulu aku tak menyadari apa pun termasuk perasaan ini, hingga akhirnya kamu pergi. Aku tahu, aku mencintaimu ketika aku menyadari betapa aku sering memikirkan keadaanmu setiap waktu. Aku terjaga dari pikiran itu dan tersadar bahwa dirimu telah menjadi begitu penting bagiku. Malam ini, secara terbuka dan formal, aku melamar kamu menjadi tambatan hati dan pelabuhan terakhir kapal cintaku. Aku ingin kamu menjadi istri, wanita yang menemaniku hidup sampai mati. Sehingga malam ini pula ku tanyakan padamu, bersediakah menerima pinanganku?"


Air mata memenuhi mata Marwah. Dia menundukkan kepala sambil mengusap kelopak matanya dengan jemari. Sementara lampu semakin redup, saksi sebuah sejarah yang akan terwujud.


Marwah mengangguk pelan penuh keharuan. Seakan ia merasa tak percaya dengan ini semua. Ya Tuhan, semua orang pun tahu... hari ini datang tidak semudah yang terlihat, banyak perjuangan dan peristiwa yang terjadi hari-hari ke belakang.


"Jangan menangis."


"Tidak... aku cuma terharu." Jawab Marwah, kemudian dia memandang Rambo dengan mata berkaca. "Kamu sudah tahu jawabannya Om. Aku menerima lamaranmu."

__ADS_1


__ADS_2