
"Kau benar-benar mengumpulkan kami."
"Ya." Jawab Rambo sambil melirik ke wajah mertua lelakinya, Papa Hendro. Begitu dia memanggilnya.
"Aku tak mau berpikir terlalu jauh, tapi aku berharap pertemuan ini tidak seperti yang ku bayangkan."
Rambo m3ndesah lalu mengangkat segelas kopi, dan meneguknya lama. Setelah keputusan dan perdebatannya dengan Erin semalam, ia begitu menyambut hari ini untuk mengembalikan kembali istrinya tersebut ke orang tuanya, kemudian mereka akan saling memulai hidup baru dan berhenti pada arus saling menyakiti tanpa akhir. "Maaf Pa, jika ini mengecewakan harapan Papa. Tapi, semalam aku dan Erin sudah sepakat untuk berpisah."
"Tunggu sebentar," Sela ibu kandung Rambo dari sofa sebelah kiri. "Apa yang kalian bicarakan? Sepakat berpisah apa?"
"Seharusnya Rambo menceritakan semua ini lebih dulu padamu sebelum memutuskan." Ucap Papa Hendro, mertua Rambo.
"Papa benar," jawab Rambo singkat. "Seharusnya aku memberi tahu ibu tentang ini, tapi aku yakin ibu akan sama memakluminya seperti Papa dan Mama."
Rambo berhenti sejenak kemudian mendekat ke tempat duduk ibunya di seberang, Ia duduk jongkok di hadapan sang ibu dan memajukan kepala. "Bu, maafkan Rambo ya. Rambo dan Erin harus berpisah mulai sekarang, pernikahan kami sudah tak bisa lagi dijalani."
"Hah?" Ibu Rambo melongo, matanya membelalak bulat begitu mendengar jawaban anak lelakinya yang menohok. "Kamu ini ngawur toh, Rambo. Gampang sekali mulutmu ngomong cerai pisah. Ibu susah-susah cari calon istri yang bagus untuk mu, lalu kamu mau pisah! baru jalan berapa bulan, ini orang tua mu satu-satunya, mikir tah ibu malu kalau rumah tanggamu berantakan."
"Aku serius bu, aku mau pisah dengan Erin. Ada banyak ketidakcocokan antara kami berdua. Kalau terus dipaksakan hasilnya begini, Sama-sama tak enak."
__ADS_1
"Masalahnya apa Rambo?"
Rambo menghela napas, matanya yang tajam memandang pada langit-langit rumah yang putih kecoklatan. Ia tahu ibunya mulai menaikkan nada bicara, tentu saja murka.
Ia kembali menundukkan pandangan pada Amy, ibunya. "Begini bu---Aku ini bukan lelaki yang mengharap kesetaraan, bagiku menikah itu bukan tentang umur dan kejar-kejaran. Aku telat menikah, bukan karena tak minat cari calon. Tapi, aku benar-benar mencari yang pas dan bisa memahami dirinya dengan baik begitu juga dia." Ucap Rambo sedikit berjeda, kemudian melanjutkan. "Bu, yang aku khawatirkan bila menikah dengan orang yang tak ku kenal dengan baik, ya begini; akan berakhir seperti ini. Aku merasa Erin belum bisa memikul tanggung jawabnya sebagai istri. Tiga bulan aku mencoba, semua dari dirinya ku terima dengan baik, aku memaklumi jika dia belum pandai mengurus rumah tangga. Tapi, hatiku sakit saat dia tak segan memerintah dan membangkang padaku."
Dari sofa seberang, mertua Rambo duduk menyimak, ada rasa jenuh dan marah namun masih bisa ditahan oleh Papa Hendro maupun Istrinya, Santi. Menghormati sosok Amy, sahabat sekaligus rekan kerja yang cukup mereka segani. Dasaran Rambo, pria sombong dan keras kepala. Dia hanya ingin membenarkan dirinya sendiri dan melempar semua masalah hanya pada Erin. Pikir Mama Santi sambil menggosok punggung Erin yang frustasi.
Lalu suaminya Hendro, menyela dengan berkata, "Huh! Menurutku penting sekali untuk mengetahui peran mu juga sebagai suami. Jangan pantang koreksi diri, sebab istrimu ini juga butuh bimbingan. Bukan cuma kamu yang menuntut. Erin, anakku memang salah karena belum bisa melayani kamu dengan baik. Tapi, sebagai suami sudah sepatutnya kamu membimbing."
Rambo menghela napas untuk kesekian kalinya, lalu menoleh ke hadapan Papa Hendro di belakangnya. "Aku tahu Pa, ini adalah saat yang bagus sekali. Sudah ada Erin juga di sini, Papa boleh tanya bagaimana aku bersikap padanya. Apakah selama ini aku cuek pada tugasnya sebagai istri?" Rambo berhenti sejenak, kemudian melirik kepada Erin.
Erin langsung turun dari kursi dan berputar agar dapat lebih dekat dengan suaminya di seberang meja, Ia bersimpuh sekali lagi, untuk kesekian kalinya, menangis dan memohon.
"Mas maaf kan aku Mas. Aku menyesal Mas, aku tidak mau jadi janda. Bagaimana nasibku kalau orang lain tahu aku bakal menjanda! Tolong Mas, aku tidak mau!!!"
Rambo memandang ke arah luar, kemudian mengangkat badannya, kemudian bertanya sebelum kedua orang tua Erin ikut mendekat dan marah dengannya. "Kamu menahan ku cuma karena tak ingin menjadi janda?"
"Cukup Rambo!" Mama Santi menaikkan nada bicaranya, sambil menyusul Erin yang masih bersimpuh di kaki Rambo. "Mama berkali-kali coba memaklumi pernikahan kalian, mama hormati urusan rumah tangga kalian berdua. Tapi di sini, di depan kami semua, bahkan di depan orang tua kandung Erin. Kamu berani membiarkan anak kami bersujud memohon denganmu, lalu bagaimana di belakang kami?! Anak ku seperti rak ada harga dirinya di mata mu."
__ADS_1
Sial, situasi dan tatapan ini membuat Rambo seolah menjadi biang kejahatan dari manusia-manusia br3ngsek. Dia berusaha menenangkan diri, dengan tak menjawab apa pun.
"Bangun, nak." Kata Mama Santi, sambil membimbing Erin untuk bangkit.
"Kamu benar-benar sudah tak menghargai kami sebagai mertua sekaligus orang tua Erin. Anakku sudah tak ada harga dirinya di depan kami, oleh perlakuanmu. Jika memang keputusanmu untuk bercerai sudah matang, baiklah akan kami ambil kembali Erin dari mu. Asal kamu ingat satu hal, jangan pernah menyesalinya suatu saat, karena putriku tak akan pernah ku serahkan dua kali pada lelaki tak punya pedoman hidup sepertimu." Papa Hendro bangkit dari tempat duduknya dan mengepakkan jasnya yang mulai kusut.
"Maaf saja Mbak Amy, aku menyesal sekali menerima permintaanmu untuk menjodohkan anak kita. Kalau tahu putramu orang tak bertanggung jawab, aku pun tak akan rela menikahkan Erin dengannya." Lanjutnya sambil melirik Amy, ibu Rambo.
"Tunggu dulu Hendro, Santi. Kita jangan ikut emosi dulu, coba kita dengar kan dulu penjelasan anak-anak. Barangkali kita bisa bantu mengarahkan, mungkin terjadi kesalahpahaman diantara mereka, dan sudah sepatutnya kita sebagai orang tua membimbing dan mengarahkan mereka yang baru menikah beberapa bulan ini. Sayang sekali jika kita ikut tersulut emosi dan membiarkan pernikahan mereka kandas dalam usia seumur jagung... " Pinta ibu Rambo dengan ekspresi masygul namun masih sangat berwibawa.
Kemudian dia menoleh ke samping kiri, melirik Rambo. "Jelaskan Rambo! kamu masih punya waktu untuk mempertahankan rumah tanggamu."
Ibu Amy mendekat pada Rambo, kemudian berbisik, "Jangan buat kami malu Rambo, Ingat pesan mendiang bapakmu."
...****************...
Author sanskeh di sini.. Mohon maaf kemarin ketiduran 😩 ✌ menjelang 40 BAB ini, author akan yakinkan kejelasan hubungan Rambo dan Erin.
Menurut kalian gimana? kira-kira bakal lanjut proses pisah, atau justru.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan likenya Ya! author maksa banget wkwkakak. Selamat membaca, author lanjut nulis.