Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 62 - Cinta Sejati Penuh Keikhlasan


__ADS_3

Marwah menghela napas, dalam balutan kemeja putih dia terus menengadah memandang pada langit biru dari kursi tunggu Pengadilan Agama.


Selama proses perceraian ini, ia meminta agar Rambo tak mendampingi demi menghormati semua pihak, termasuk Norman yang duduk termenung di kursi seberang. Walau masih takut-takut, tapi entah mengapa pula Marwah bisa mempercayai Norman yang sekarang.


Setelah menunggu beberapa saat, tiba gilirannya dan Norman masuk ruang sidang, sebelumnya dua minggu sejak Marwah mendaftarkan gugatan, Norman nampak lebih pasrah pada semua perintah Rambo.


Ada empat orang yang duduk di depan ruang sidang. Seperti biasa, satu di tengah adalah Hakim Ketua, karena beliaulah yang paling banyak bicara. Dua lainnya yang duduk di kanan dan kiri beliau, adalah hakim anggota. Sedang satu orang lagi yang duduk paling pojok adalah orang yang bertugas memanggil nama-nama pasangan yang akan sidang.


Di sidang pertama perceraian Norman dan Marwah, Hakim mencoba mendamaikan agar perceraian tidak terjadi. Tapi, sekali lagi, setelah Marwah menceritakan semuanya, dan Norman yang hanya pasrah tanpa pembelaan, Hakim menyerah. Setelah meyakini keputusan mereka berdua masing-masing yang tidak berubah dan tidak mungkin berubah untuk melanjutkan proses, Hakim hanya fokus pada proses administrasi.


Hari ini sidang hanya berjalan sebentar karena ada beberapa dokumen yang masih kurang dan sidang akan dilanjutkan pada sidang ketiga yang bisa menjadi sidang terakhir atau pembuktian jika dokumen surat keterangan visum dari dokter dapat ia bawa ke dalam sidang.


Beberapa minggu saja setelah itu, sesuai jadwal yang sudah diberikan, Marwah dan Norman kembali hadir di persidangan, sebuah tim dari kantor memanggil mereka sebagai salah satu proses dalam pemberian surat keterangan yang diperlukan di pengadilan.


Anggota tim tersebut, sama seperti pihak lain yang berusaha untuk menggagalkan terjadinya perceraian. Hasilnya, sama juga seperti yang terjadi sebelumnya.


Dalam proses hari itu, tim memanggil mereka secara bergantian sebelum akhirnya dipertemukan dalam satu ruang. Di sela-sela menunggu Norman itu, Marwah mengisi waktu sambil menulis sebuah puisi singkat "Di bawah langit Pengadilan Agama."


...Ku kira kamu adalah kaktus berduri, yang bila kusentuh akan menyakiti......


...Tapi, saat ini, di bawah langit Pengadilan Agama...


...Aku telah menyadari, kamu adalah kuncup yang juga gemetar diterpa angin....

__ADS_1


...Dan kelak, angin itu akan membawamu pada cahaya mentari, dan kamu akan mekar karenanya......


Sama seperti dua sidang sebelumnya, sidang yang akan mereka jalani akan dilaksanakan di dalam Ruang Sidang I. Sama juga seperti sidang sebelumnya, para hakim yang bertugas di ruang tersebut datang lebih lambat dibandingkan dua uang sidang lainnya. Sidang pertama di Ruang Sidang I baru dimulai setelah ruang sidang lain telah melaksanakan beberapa proses sidang.


"Mengadili --- Memutuskan menerima gugatan cerai saudari Penggugat. Sehingga dengan demikian saudari Cantika Marwah dan saudara Norman Aditya Purnama dinyatakan sah dan resmi bercerai."


Hembusan napas kelegaan terakhir di ruang sidang ini menemani Marwah dalam rasa keharuan, saat sepersekian detik hakim membacakan putusan. Ia akhirnya bercerai dan pisah dari Lelaki bernama Norman.


"Saudari Penggugat, apakah saudari menerima putusan tersebut?"


Dengan berderai air mata, Marwah menjawab sampai pada getaran nada yang tak bisa dijelaskan bagaimana rasa syukurnya. "Saya terima Yang Mulia."


"Baik kepada para pihak yang merasa penolakan atau kurang puas terhadap putusan ini dipersilahkan untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama dalam tempo 14 hari sejak putusan ini dibacakan. Sidang masalah perdata cerai gugat dengan nomor register perkara-----Pada hari ini tanggal 23 Juni dinyatakan ditutup dan selesai."


Marwah sempat memalingkan pandangan, menatap mantan suaminya di kursi yang berjarak sekitar satu meter dari tempatnya duduk. Kemudian ia mendekat, mengambil napas panjang, dan memejamkan mata selagi mengeluarkan napas yang menyesakkan itu menjadi embusan yang panjang dan perlahan.


"Terima kasih Pak." Marwah mengangkat bahu, menggeleng dan berkata, "Terima kasih karena sudah mengikuti proses sidang dengan kondusif. Aku tahu kita telah berpisah, dan banyak yang sudah terjadi di antara kita sebelumnya, tapi aku ingin berterima kasih pula padamu. Sebersit entah ku sadari atau tidak, ada saja kebaikan yang sudah kamu berikan padaku baik secara langsung atau tidak."


"Lupakanlah," Kata Norman. "Setelah perpisahan ini, jangan pernah mengingat apa pun lagi tentang aku."


Marwah menyipitkan mata dan memandang Norman. "Aku minta maaf jika kamu membenciku, Pak."


"Bukan itu," kata Norman dan mendorong kursi untuk berdiri. Dia memandang ke depan pintu, sudah ada dua orang suruhan Rambo yang menunggu. Selama persidangan berlangsung, tanpa disadari Marwah sedikitpun, Norman bergerak di bawah pantauan Rambo.

__ADS_1


"Melupakan aku adalah langkah awal untuk memulai hari baik, dan sambutlah kehidupan barumu setelah ini. Aku pun ingin menjalani hari tanpa kamu, karena aku sudah bosan dengan perintah."


Marwah tertegun, tangannya sampai gemetar begitu mendengar kata itu lolos dari mulut Norman. Satu sisi terdengar seperti doa, tapi satu sisi pula terdengar keputusasaan.


"Apa kamu ditekan oleh laki-laki gondrong waktu itu?" Kata Marwah sambil memalingkan muka.


"Tidak," jawab Norman sambil mendongak pada langit-langit ruang sidang. "Aku hanya mengikuti pilihan hidupku. Sama seperti kamu, aku merasa lebih bebas saat tak ada lagi kamu di hidupku."


Saat Norman menyisir rambut depannya dengan jari, bekas luka di jidat itu kembali terlihat. Ia nampak lebih cerah dan berwibawa, dan betapa anehnya ketika matahari datang menerobos wajah indahnya dari kisi ruang sidang, matanya menampakkan kebohongan.


Bukan tak ingin hidup lagi bersama Marwah, tapi ia tengah jatuh cinta pada perempuan yang ia sakiti dari awal pertemuan. Dan sekarang adalah masanya ia membuktikan cinta itu, dengan melepaskan Marwah dari belenggu hatinya.


Selamanya, perasaan itu harus tersimpan dalam-dalam tanpa seorang pun yang tahu, termasuk Marwah sendiri.


"Suatu saat kamu pasti akan menemukan kebahagiaan kamu Pak. Aku yakin!" Seru Marwah ketika Norman beranjak pergi.


Norman menoleh dan membalasnya dengan senyum remeh. "Apa sih, berisik! Tidak usah sok peduli. Kamu bukan siapa-siapa ku lagi, pergi sana!


Waktu akan terus berputar. Detik akan kembali pada detik yang sama, demikian pula dengan menit, jam, tanggal, dan bulan. Hari ini tepat satu tahun 4 bulan berjalan, dan tepat hari ini pula hubungannya dan Norman berakhir.


Dan Marwah berdiri hangat tanpa menghiraukan kata Norman, sorot matanya tak hilang dari sosok lelaki itu, dengan senyum dinginnya seperti biasa pergi dari balik pintu, dan menghilang bersama rasa cinta dan penyesalannya jauh-jauh ke tempat yang menantinya setelah ruang sidang pengadilan agama, tempat dingin untuk menebus kesalahan, di balik jeruji besi.


Di bawah langit Pengadilan Agama, Marwah mulai mencari kebahagiaan....

__ADS_1


__ADS_2