
"Mas, kenapa menangis?" ucap Marwah.
Kini dia telah sadar. Selagi kelopaknya mengangkat sempurna tangannya beralih menggosok rambut Rambo. Segera lelaki gondrong itu meraih tangan istrinya kembali.
"Sayang kamu sudah bangun?" ucapnya, sambil menyentuh pipi manis Marwah.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya kelelahan" jawab Marwah penuh dusta.
Kelelahan, kelelahan, kelelahan.
Sampai kapan dia mau membohongi Rambo, sampai kapan menjadikan kelelahan sebagai alasan. Kebohongan itu sudah sangat cukup mengorek luka Rambo lebih dalam.
"Marwah, aku keluar sebentar ya, aku mau belikan kamu buah segar, supaya kamu tidak kelelahan lagi."
Rambo keluar dari ruang rawat istrinya, kaki jenjangnya berjalan tidak karuan, tidak tahu mau kemana, sampai kemudian ia duduk di kursi tunggu.
Aku sangat sedih, kenapa harus seperti ini lagi, kenapa kamu menyembunyikan ini semua Marwah.
Kenapa kamu berbohong? Apakah kamu mau meninggalkan aku lagi? Apakah aku harus kehilangan kamu, aku tidak mau Marwah, aku tidak mau.
Kita memang begitu mendambakan seorang buah hati, namun saat kita memiliki nya, kenapa harus beresiko seperti ini? Apakah hidup begitu tidak adil, kenapa saat ada bahagia selalu ada sedih? kenapa aku harus diberikan pilihan sulit seperti ini, antara kamu dan bayi kita, atau resiko yang paling buruk, aku kehilangan kalian berdua sekaligus. yang mana Marwah, yang mana yang harus aku pilih?
Aku benar benar laki-laki sialan, kenapa aku harus menghamili kamu, seharusnya aku sadar kalau kamu anemia, kalau kamu ada infeksi ginjal, kalau kamu minum obat setengah-setengah.
Marwah...
Aku tidak mau kehilangan kamu...
Sambil terduduk lesu, Rambo terus melakukan perdebatan batin itu. Mengeluh, menyalahkan, mengutuk keadaan. Dia nampak sangat terpukul dengan ini semua.
__ADS_1
"Rambo, kamu baik-baik saja?" Ucap Anta Reza. dia tiba-tiba muncul, di samping Rambo.
"Sejak kapan kamu di sini? Kenapa bisa ke rumah sakit?" tanya Rambo setelah menengadah.
"Aku mendapat kabar dari Mbak Rani. Marwah masuk rumah sakit, jadi aku bersama Kania dan anak-anak langsung ke sini." jawab Anta seraya kemudian duduk disamping sahabat lamanya itu.
"Aku izin lagi, ya. Tolong dimaklumi." Kata Rambo.
Kemudian sambil mengusap wajahnya kasar, dia menghela napas lalu berkata, "Reza, bagaimana jika kamu di hadapkan pada sebuah situasi, kamu mempertahankan sesuatu yang berharga, maka kamu akan kehilangan juga sesuatu yang berharga, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku agak maruk, pasti ingin mempertahankan keduanya. Jadi mungkin kamu salah menanyakan ini padaku. Tapi, sejak saat aku mengenal Kania dulu, dia mengajarkan aku tentang sesuatu yang namanya 'kepercayaan'. Saat aku meragukan sesuatu yang dia pilih, Kania selalu menunjukkan keyakinannya. Dia berkata padaku, sebagai pasangan cobalah untuk saling percaya." jawab Anta Reza tersenyum.
"Hmph! Aneh!" hardik Rambo sambil tertawa kecil.
"Maaf aku bodoh untuk tidak mengingat kata kata awal Kania saat menceritakan keadaan Marwah saat itu, saat Marwah pertama kali diketahui hamil. Kania mengatakan kalau Mbak Rani memberikan peringatan rama saat itu, ku pikir itu hal biasa. kalau hamil ya hamil saja." Ucap Anta Reza.
"Sudahlah, semua sudah terlanjur. hanya bagaimana aku dan Marwah menghadapinya" jawab Rambo menepuk pahanya.
Saat Rambo masuk, matanya melirik pada suami istri itu seakan tengah memberi isyarat agar Mang Abu dan istrinya untuk keluar dulu dari ruangan, dan kedua orang itu begitu tanggap memahami kehendak tuannya, dengan penuh pengertian mereka keluar meninggalkan Rambo dan Marwah berduaan.
"Mas Rambo sudah kembali? Mana buahnya?" ucap Marwah sambil mengulurkan tangan.
"Sayang, kamu sudah baikan? Maaf ya, buahnya tidak ada di sini." Jawab Rambo sambil mengelus rahangnya.
Reflek bibir mungil Marwah mengkerut. "Yah sayang sekali, padahal aku mau makan jeruk" ucapnya penuh kecewa.
"Marwah, aku boleh ngomong sesuatu?" Rambo menarik kursi di samping tempat tidur Marwah dan mendudukinya.
"Ngomong apa Mas? katakan saja."
__ADS_1
Mata Rambo berputar ke sana kemari, sambil menghela napas dan terus menggosok rahangnya yang tegas, Rambo berkata. "Ehm Marwah, bagaimana jika kamu gugurkan saja kandungan kamu saat ini, nanti kita bisa memilikinya lagi, sayang."
Tentu sangat berat untuknya mengatakan ini, namun hanya ini, hanya ini satu satunya pilihan. Marwah langsung tersenyum saat Rambo mengatakannya.
"Mas sudah tahu ya?" jawabnya. "Maaf kan aku ya Mas, sudah membohongi kamu."
"Sayang, aku tahu ini mungkin berat tapi hanya ini pilihan kita." Kali ini Rambo memusatkan pandangannya pada sang istri sambil memegang kedua tangannya.
Marwah meraih kepala lelaki itu, dan menyatukan kening mereka dengan lembut. Dia memejamkan matanya dan berkata.
"Pilihan kita saat ini hanyalah percaya sepenuhnya padaku, Mas. apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan anak kita. kami kuat, jadi kamu juga harus kuat ya." katanya
"Bagaimana bisa? Infeksi ginjal itu bahaya saat hamil... Aku tidak mau kehilangan kamu." ucapku sambil memejamkan mataku.
"Kamu tidak akan kehilangan siapapun Mas. Aku selalu ada di mana pun kamu menginjakkan kaki, karna aku ada disini, di hati kamu." Bisiknya sambil meraba dada Rambo.
"Kamu harus percaya padaku dan anak kita, pingsan, demam, bahkan pendarahan pun, itu hanya tantangan kecil untukku, benarkan sayang? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan mencintaiku karena aku adalah perempuan yang kuat. Kamu selalu menyemangati ku dan menguatkan aku, jadi dimana keyakinan itu sekarang, apakah sudah hancur, karna di lempar batu kecil? jawab Marwah kembali, penuh kelembutan.
Dan entah kenapa, ucapan Marwah itu seperti memberikan tiupan angin yang memberikan kesejukan, membuat Rambo kembali tegar, dia bisa segini kuat, tetap tersenyum seperti tidak ada masalah sama sekali, dia benar benar tikus kecil yang pantang menyerah untuk kabur dari kandang yang menghalanginya.
Kenapa aku tidak bisa. tidak bisa seperti dia, Marwah kali ini aku akan mempercayai kamu, sama seperti singa yang mempercayai tikus, untuk membantunya keluar dari jaring pemburu. Rambo menggumam untuk kesekian kalinya di hari ini.
"Tidak, keyakinanku padamu abadi, tidak akan pernah memudar, dan tidak akan pernah hancur. Aku akan selalu mempercayai kamu dan selalu mendukungmu, jadi jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dari suamimu ini. Mari kita berjuang sama-sama. Membesarkan anak kita bersama-sama." Ucap Rambo.
...****************...
Assalamu'alaikum, halo ini author 🙋
Apa kabar seyeng? Semoga sehat selalu. Terima kasih sudah mendukung kami sampai sekarang.... Sayang kalian banyak-banyak.
__ADS_1
Semangat membacanya!!! dan author akan semangat nulisnyaaa... 😖