Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 49 - Hati Yang Kasar


__ADS_3

Sekarang Marwah membeku, tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tangan Norman masih kuat menggenggamnya, apakah ini berarti Norman sudah memergoki perbuatan yang dilakukannya barusan.


Tenang... kamu harus tenang Marwah. Om gondrong selalu ingatkan kamu untuk tenang. Pikir Marwah.


Dia kemudian menghela napas, dan memasang wajah lebih santai. Sebisa mungkin mempersiapkan alasan yang tepat untuk mengelak dari Norman.


"Ma-af-----" Marwah mulai menyeletuk, pelan dan terbata.


"Jangan---" Norman menyela, bahkan sebelum Marwah menoleh padanya. "Jangan tinggalkan aku bu! Aku janji akan jadi anak yang berguna untuk ibu----"


Ketakutan macam apa yang dimiliki Norman saat ini? Pertanyaan itulah yang muncul di benak Marwah begitu membalik badan, keningnya langsung mengkerut melihat mimik wajah Norman yang masygul, seakan menyimpan penuh kesedihan.


"Dia mengigau lagi?" Kata Marwah pelan. Sudah satu tahun berlalu sejak terakhir kali dia menaruh empati pada Norman. Dan suaminya ini telah menghancurkan perasaannya, kepercayaannya. Mengorbankan hidup Marwah demi uang dan kesenangannya sendiri. Dan Marwah pun menemui kenyataan paling pahit yang pernah ada, diperkosa, dipukul, hanya untuk memenuhi hasrat kegilaan orang-orang jahat yang tak pernah dibayangkannya ada di dunia ini.


"Jangan tinggalkan Norman bu!---"


Kening Marwah kembali mengkerut, dia mulai menyadari sesuatu, ada yang lain pada diri Norman sekarang seperti butir keringat yang tiba-tiba sudah mengalir deras, padahal tadi belum ada. Gelagat Norman pun sangat gelisah, tidak seperti biasanya.


Akhirnya, walau merasa takut, Marwah memutuskan untuk memberanikan diri menyentuh Norman. Mengambil resiko untuk terang-terangan berada di dekatnya. Tangan kecil itu ia beranikan untuk menyentuh kening Norman, dan jelas yang ia rasakan. Panas, sama seperti yang ia rasakan saat berada di dekat Rambo. Tapi ini bukan panas asmara, tapi panas demam.

__ADS_1


"Dia meriang?!" Sebuah jeritan memecah keheningan malam, dan Marwah langsung memasang ekspresi jengkel dengan diri sendiri.


Seharusnya bagus kalau dia sakit, aku bisa bebas. Lagi pula dia sudah jahat, ini mungkin karma. Pikirnya.


Tetapi pikiran itu tak cocok dengan hati nuraninya, bagaimana mungkin ia membiarkan Norman sakit begitu sendirian dan mungkin Norman sakit karena guncangan mental setelah kembali membicarakan soal ibunya? Jelas Marwah merasa bersalah, karena ia yang membuat Norman mengatakan soal itu.


Marwah memberengut, ingin sekali ia tak memperdulikan Norman. Tetapi mau bagaimanapun juga, dia masih istri sahnya Norman. Lagipula, saat ia luka dan sakit, lelaki iblis itu masih sangat baik hati untuk mengobatinya.


Dia segera pergi ke dapur, mengambil baskom untuk mengompres dan obat penurun panas dari kotak makan di lemari penyimpanan. Betul, seperti kata Marwah semua barang akan bermanfaat di tangan kreatif. Termasuk kotak makan dipakai untuk menaruh obat-obatan, atau baju bekas bisa jadi kain lap.


Pelan-pelan dan sangat telaten. Marwah mengusap kening Norman dengan handuk basah, untuk kali ini saja mereka bisa terlihat sebagai sepasang suami dan istri yang rukun. Meski tidak seperti yang terlihat.


Norman masih saja mengigau, bahkan berkali-kali. Ekspresi maupun kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat hati Marwah terenyuh dan sedikit menumbuhkan rasa iba di dirinya.


Marwah melakukan itu berkali-kali, sampai akhirnya Norman berhenti mengigau dan membuka matanya perlahan.


"Kamu?"


"Maaf, aku masuk ke kamar kamu karna dari tadi aku mendengar kamu teriak-teriak. Aku pikir ada masalah, jadi aku langsung masuk." Kata Marwah berpura-pura. "Rupanya kamu mengigau, dan setelah ku periksa, kamu demam tinggi Pak."

__ADS_1


"Bod0h! kamu mau bertingkah baik di depan, tidak mempan. Tinggalkan aku! Aku bisa mengurus diriku sendiri, ini cuma demam biasa dibawa tidur juga, besok sudah sembuh." Jawab Norman ketus, sambil memiringkan badan ke kanan.


Tapi tanpa gerakan terduga, tiba-tiba saja badannya langsung ditarik dari belakang dan dia dipaksa untuk duduk sejenak oleh Marwah.


"Dasar! tetap saja keras kepala, aku kan sudah ngomong duduk sebentar, minum obat. Demam itu tidak semudah itu sembuh, apalagi kalau sudah sampai mengigau." Kata Marwah jengkel. Lalu membantu Norman untuk minum pil pereda panas itu.


"Nah kamu sudah makin berani bentak-bentak aku ya?!" Kata Norman langsung setelah selesai minum obat dan air putih. "Aku sedang tidak enak badan saja, coba kalau aku sehat sudah ku hajar lagi kamu seperti biasanya."


Marwah langsung kesal mendengar kata-kata Norman barusan, membuatnya emosi dan segera memilih meninggalkan suaminya lagi.


"Lain kali jangan masuk kamarku lagi, dengan sembarangan. Kalau aku sadar ada sesuatu yang aneh. Kuhabisi detik inilah."


"Memangnya apa yang bisa ku ambil dari kamar ini? sudah, aku mau ke kamar ku sendiri."


Norman hanya diam memandangnya sekilas sebelum akhirnya kembali tidur untuk beristirahat.


Sementara di kamarnya sendiri, Marwah berkali-kali memandangi kertas berisi nomor ponsel orang jahat itu.


"Om, aku berhasil. Nanti bantu aku untuk mengungkap siapa orang ini, aku rindu kamu Om aku tak sabar ingin bertemu lagi seperti waktu itu. Besok pagi aku usahakan cari pinjaman ponsel untuk mengabari kami."

__ADS_1


Tetapi rupanya di kamar yang lain tadi, kamar Norman. Lelaki berotot yang masih demam itu malah kesusahan untuk kembali tidur, dia hanya membisu sambil menekan-nekan dada.


"Sial! kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang begini? Kenapa tiba-tiba aku tidak bisa menghilangkan bayang wajahnya barusan dari pikiranku." Kata Norman. "B0doh!!"


__ADS_2