
Memang harus gerak cepat, mungkin seperti itulah pikiran Rambo saat ini. Coba untuk mulai mengambil langkah, sebelum semua semakin rumit dan runyam.
Hubungannya dengan Marwah tak bisa selamanya bersembunyi di balik daun. Sebab mau bagaimana pun, kini ia telah bertemu lagi dengan cinta sejatinya itu. Bahkan mereka telah sepakat untuk menjalin hubungan bersama.
Maka besok, mulai dari Suami Marwah, tentang siapa ia sebenarnya, dan benarkah ia telah memperkos4 Marwah sebelum menikahinya? Rambo akan mencari tahu. Sedangkan soal Erin, Rambo pun akan mulai mengakhiri secara baik-baik, karena setelah keributan ini, memang tak ada lagi alasan untuk bertahan dan tetap hidup bersama.
"Om, apakah kamu mengalami ini setiap hari?" Ucap Marwah.
Rambo mengangguk, mengangguk untuk mengiyakan.
"Tapi, sudahlah. Justru bagus kan kalau kami ribut terus seperti ini, Erin jadi jenuh, dan kami bisa lebih mudah pisah. Besok aku akan mulai langkah mengakhiri semuanya."
Aku boleh kehilangan segalanya, kecuali Marwah. Gumam Rambo, kali ini tekadnya telah bulat untuk mengakhiri semua lebih cepat. Sebab bila mengingat apa yang terjadi sekarang, permainan gila ini hanya akan semakin menyakiti.
Sebagai lelaki, Rambo mempunyai beban tanggung jawab yang diberikan Sang Pencipta untuk mengambil keputusan secara adil dalam memimpin. Setiap gerak dan segala arah yang dituju, Rambo lah yang memiliki peran paling besar.
Dan sebagaimana seorang suami, ia juga memiliki tanggung jawab paling besar, bagaimana dia akan membawa bahteranya berlayar. Bila memang tak bisa lagi memimpin Erin, maka ia harus melepasnya dengan cepat sebelum mereka karam dan tenggelam. Erin dan dia memang pada dasarnya ingin terbebas dari dimensi paksaan ini agar mereka bisa fokus pada asanya masing-masing. Fokus berkarir, menciptakan kebahagiaan diri, dan kembali pada cinta sejati.
__ADS_1
Perhatian Rambo tidak boleh teralihkan dari tugas yang dibebankan Tuhan padanya. Rambo naik ke atas, menuju kamar Erin.
"Aku mau bicara denganmu." Katanya begitu masuk. Ia hampir tak mendapat sahutan apa pun dari Erin. Rambo hanya mampu memandangi punggung Erin dari belakang. "Aku tahu kamu belum tidur, aku rasa kita perlu bicara soal ini sekarang juga."
Tapi bahkan saat memikirkan apa yang akan dibicarakan Rambo, Erin masih berusaha menahan isak di tempat tidur. "Jangan dulu Mas, aku tahu ini sesuatu yang buruk." Jawabnya dengan nada bergetar.
"Aku tak bisa mengalihkan pembicaraan ini, sekalipun aku tahu mungkin terasa tak enak untuk pasangan suami istri. Ayo bangunlah sebentar, dengan emosi yang baik semua ini tidak akan berakhir buruk."
Dengan susah payah dan berat hati, Erin mulai menaikkan tubuhnya dari kasur. Masih sangat sulit untuknya menahan manik bening itu dari mata, tapi meski begitu emosi semacam ini lebih baik bagi Rambo daripada Kemarahan yang menyala-nyala seperti sebelumnya di meja makan, Erin akan susah diajak bicara. Dan apa pun yang dikatakan Rambo akan berakhir percuma.
Erin mengangguk, untuk pertama kalinya dia menampakkan kelemahan paling rendah di hadapan orang meski hanya dengan mata berkaca.
"Baiklah. Sebelumnya, maaf karena mengajakmu bicara malam ini juga, entah mengapa aku merasa harus membahas ini secepatnya. Sudah tiga bulan pernikahan kita berjalan kan, Erin? bagaimana menurutmu tentang pernikahan kita? apakah kamu bahagia? apakah pernikahan kita ini adalah masa depan yang selalu kamu impikan?" Tanya Rambo, kali ini dengan nada bicara paling lembut tapi juga penuh wibawa sehingga semua orang yang dengar atau menjadi lawan bicaranya pun akan segan.
"Pernikahan kita masih seumur jagung, masih belum menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi, bagiku itu masih sangat wajar. Kamu juga berpikir begitu kan, Mas?"
Rambo menggelengkan kepala, "Tidak. Kebahagiaan itu tidak dilihat dari umur pernikahannya. Tapi dilihat dari bagaimana perasaan pasangan satu sama lain, persoalan ini memang agak sulit untuk kita yang menikah terpaksa karena perjodohan. Aku dan kamu yang sebelumnya belum pernah ketemu, tapi tiba-tiba menikah, jelas tak ada perasaan apa pun. Ini wajar, tapi hal ini tidak mutlak jadi alasan kebahagiaan dalam rumah tangga tak bisa ditemukan. Karena, selain dari perasaan itu sendiri, kebahagiaan itu bisa tercipta dari kita yang berjuang untuk saling mempertahankan."
__ADS_1
Rambo diam sejenak setelah menelan ludah.
"Singkatnya, Rumah tangga bisa awet kalau pasangan itu bisa saling mempertahankan meski belum ada perasaan. Tapi coba lihat kita?! selama tiga bulan ini, aku tak melihat itu. Kita seperti gunting, berdiri di sisi yang bersebrangan dan pergi ke arah yang berbeda-beda, sibuk dengan urusan masing-masing sampai menyakiti satu sama lain. Aku tahu kamu belum siap untuk menjadi istri, emosi yang masih menyala-nyala layaknya remaja dua puluh tahunan yang masih belum sempurna mengurus diri, apalagi mau urus suami? Tapi ku akui, kamu memang terlalu baik sebagai anak, kamu sangat berbakti dengan orang tua."
Suara Rambo yang tenang dan hati-hati menyatu bersama keheningan Malam di jam dua pagi. Seekor cicak melesat menjauhinya dari dinding. Belum ada satu kata pun keluar dari mulut Erin, ia sadar pembicaraan ini akan mengarah kemana.
"Sama seperti kamu. Aku juga belum memiliki ketegasan yang sempurna sebagai suami, sampai aku tak berani untuk menegur kamu secara keras karena selalu membangkang. Dalam hatiku, aku sangat menghormati kamu yang begitu disayang keluarga, kamu yang tak tahu mengurus dapur, mengurus urusan suami, melayani keluarga dengan baik. Tapi, aku juga normal, aku memiliki hak untuk menuntut itu semua dari mu, tapi sifatmu terlalu tinggi untuk bisa ku tundukkan. Karena itu aku sadar, pernikahan kita bukanlah pelabuhan yang tepat untukmu sekarang. Kamu masih harus meneruskan hasrat ambisimu yang besar, dan itu bukan padaku, tapi pada karir dan dirimu sendiri." Mendadak Rambo berhenti sejenak untuk menarik dan menghela napas, kali ini agaknya akan tiba kalimat utama dari kehendak Rambo yang selalu ditahan.
Aku tak bisa berdiri di antara dua wanita, dan aku telah memilih Marwah, karena itu aku harus melepaskan Erin. Gumam Rambo, sebelum melepaskan kata-kata terakhir di malam ini untuk Erin.
"Aku tak pernah menyesali apa pun yang hadir dalam hidupku. Dan apa pun jalan yang telah ku pilih, termasuk menerima perjodohan dan menikah denganmu. Tetapi setelah semua ini, Erin... Maaf, tapi aku rasa kita harus berhenti di sini." Ucap Rambo sambil mendengus.
Berbulan-bulan menjalani kehidupan dan arus keributan yang konstan bersama Erin telah mengajari Rambo, berhenti dan mundur tidak selamanya buruk. Jadi di sinilah ia sekarang, di tengah-tengah dua wanita, mengikuti jejak hatinya untuk memilih cinta yang kini telah kembali. Rambo tak pernah gagal memilih takdir, dan sekarang pun ia yakin pada pilihan untuk meninggalkan Erin.
"Siapa Mas?" Erin mulai melangkah, suara langkahnya yang tenang nyaris tak terdengar bersentuhan dengan ubin. Dia berjalan ke arah Rambo dengan air mata dan kesedihan.
"Katakan padaku, siapa perempuan itu, Mas?"
__ADS_1