
Setelah mengungkapkan semua masalahnya itu, Norman tidak pernah keluar kamar, bahkan untuk sekedar menghabiskan uang yang telah diterima olehnya. Entah apa yang dia pikirkan dan lakukan di sana, tapi ini justru menguntungkan untuk Marwah.
"Jam segini dia pasti sudah tidur nyenyak," kata Marwah pelan. "Ini saat yang bagus untuk mengambil surat-surat nikah dan dokumen lain untuk mengurus perceraian. Tapi sebelum itu, sebelum benar-benar pergi dari sini, aku harus memastikan satu hal----tentang siapa orang yang tega melakukan ini padaku. Dia yang sudah memerintah Pak Norman. Aku harus cari tahu dulu tentang itu, setidaknya aku harus dapat nomor ponsel orang itu dari handphone Pak Norman."
Jadi saat ini, Marwah mengambil langkah untuk masuk ke kamar Norman dan bersiap untuk mengambil barang-barang itu dari lemarinya. Ia tidak bisa berdiam diri saja, semakin cepat semakin bagus, setelah mendapatkan surat nikah dan informasi nomor telepon si 'orang jahat', ia akan segera pergi dari rumah itu meninggalkan Norman dan bercerai dengannya, lalu persoalan tentang orang jahat itu bisa ia selesaikan bersama Rambo.
Dengan hati-hati Marwah menekan gagang pintu dan perlahan masuk ke dalam, matanya yang jelita begitu awas untuk mengamati Norman. Suaminya itu rupanya tengah meringkuk di atas kasur. Benar-benar sudah tidur, pikir Marwah.
Napasnya semakin kencang setelah berdiri di depan lemari dan mengacak isinya perlahan-lahan, mencari buku nikah dan dokumen lainnya.
"Jangan---"
Marwah langsung berhenti, ketika mendengar suara berat Norman. Tapi bukannya segera mencari persembunyian, ia malah menoleh dan memberanikan diri untuk menghadap Norman. Setidaknya kalau Norman sudah mengatakan itu, berarti dia sudah melihat Marwah di sana, jadi untuk apalagi bersembunyi.
"Ma-af, aku sedang menyusun pakaianmu di lemari." Kata Marwah sambil memejam.
Tapi, tak ada jawaban. Norman hanya diam, sehingga Marwah memberanikan diri untuk membuka mata. Dilihatnya, Norman masih tidur nyenyak di sana.
"Ternyata dia cuma mengigau." Kata Marwah sambil mengelus dada.
Lalu dia kembali memutar badan melanjutkan kegiatannya untuk mengambil berkas-berkas pernikahannya kemarin, Norman sudah menyimpan semua berkas itu setelah mereka menikah dulu.
__ADS_1
"Dimana ya dia sembunyikan? Pasti ada di sini! Tidak mungkin di tempat lain, kan?" Kata Marwah, mulai frustasi. Barang yang dicari tidak kunjung ditemukan, tapi tidak ada yang bisa menjamin apakah Norman akan tetap lelap untuk waktu yang lama.
"Jangan menyerah Marwah! Kalau berkas itu tidak kamu temukan, bagaimana caranya kamu akan cerai?" Lanjutnya dengan suara pelan.
Marwah kemudian menghela napas, dan kembali mengobrak-abrik isi lemari Norman. Tapi tetap saja, berkali-kali pun ia mencari hasilnya tetap sama. Berkas yang dicari tidak ada di lemari itu.
Dia mulai cemas, kemudian dia mulai mengedarkan pandangan ke tiap penjuru kamar Norman, mencari tempat yang mungkin saja dijadikan Norman untuk menyimpan berkas pernikahan mereka dulu.
Hingga matanya membulat, tatapannya terkunci pada benda kecil digenggaman Norman.
Dia tak berhenti menyorot ponsel yang dipegang oleh suaminya itu.
"Ponsel itu,----" Katanya pelan. "Setidaknya kalau belum dapat berkas nikah, aku harus dapat nomor telepon orang jahat yang menyuruh Norman dalam ponsel itu. Kesempatan tidak datang dua kali, maka harus ku manfaatkan sebaik mungkin."
Norman tidak bangun sedikitpun, walaupun Marwah sudah berada di dekatnya dan menunduk bersiap untuk melewati badannya untuk mengambil ponsel yang ia genggam dekat wajah.
Sedikit lagi... Sedikit lagi ponsel ini bisa ku ambil. Gumam Marwah dalam hati.
Dan benar saja ia benar-benar berhasil menyentuh ponsel Norman, tinggal sedikit langkah saja untuk merebutnya dengan gerakan cepat dan cengkeraman yang lebih kuat. Tetapi sebelum Marwah berhasil merebutnya, sebuah gerakan tak terduga dilakukan oleh Norman. Dia mengubah posisi tidur, dari meringkuk jadi terlentang, sehingga membuat membuat wajahnya dan Marwah di jarak yang sangat dekat.
Degup jantung Marwah kembali berdebar kencang. Ia kini memiliki jarak pandang yang sangat dekat dengan suaminya sendiri, ia dapat memandang lebih jelas setiap detail wajah pria itu dan melihat semua keindahannya yang tak pernah nampak ketika Norman bangun.
__ADS_1
Marwah sejenak memandangi Norman beberapa detik, menyesapi bagian wajah yang selama ini begitu seram untuk dipandang lebih dalam. Karena selalu membuatnya ketakutan.
Bekas luka di dahinya... ternyata lumayan besar. Apakah ini didapat dari perbuatan ibunya dulu? Marwah bergumam, namun tidak lama langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia tidak bangun?! Kata Marwah dalam hati, dia kembali menyadarkan diri, dan kembali merebut ponsel itu dengan segera.
"Dapat!!!"
Marwah langsung berdiri begitu berhasil mendapatkan ponsel Norman. "Dimana nomornya? Dia tidak menyimpan satu nomor pun di kontaknya, bagaimana aku bisa tahu nomor telepon orang jahat itu?" Marwah kembali cemas, berkali-kali bola matanya bolak-balik memandang, sesekali pada ponsel tapi juga tak lepas untuk mengawasi Norman, sebelum bangun. "Baiklah tenang... tenang... Dia tidak pernah teleponan dengan siapa pun setelah terakhir menelpon orang jahat itu. Berarti nomor terakhir yang ada di riwayat panggilannya adalah nomor orang itu!" Katanya sumringah dan secepatnya kembali mengotak-atik layar handphone suaminya itu, hingga akhirnya bersiap mengambil pulpen dan kertas dari saku rok nya.
"Ini dia, Pasti ini!"
Marwah yang cerdik, segera mencatat nomor yang ia dapatkan dari ponsel Norman, dan menyimpan kertas itu baik-baik. Dia tersenyum simpul setelah selesai melaksanakan salah satu tugasnya. Ada setitik harapan untuknya tahu sedikit kebenaran, Ponsel Norman sudah mantap kembali berada di kasur, dan Marwah pun sudah siap pula untuk kembali ke kamarnya.
"Dengan begini, aku bisa meminjam ponsel dari tetangga nanti untuk menghubungi Om Gondrong lebih dulu, dan untuk nomor telepon 'orang jahat' ini bisa ku serahkan padanya, aku yakin Om gondrong lebih bisa menangani kejahatannya dibanding aku sendiri."
Tapi, ketika dia hendak melangkah dan meninggalkan Norman... tiba-tiba dari belakang, tangannya digenggam erat oleh seseorang. Tangan yang besar dan hangat, ini adalah tangan seorang pria... tangan siapa lagi kalau bukan tangan suaminya sendiri, Norman.
...****************...
Baru berhasil selangkah, dah dipegang aja...
__ADS_1
Pada BAB malam ini, Author ingin berkata; Pelan-Pelan pak supir..... Pelan-Pelan Pak supirr...
Jangan lupa kasih like, author maksa banget 🗿✌