
Rambo mendengus, sekilas senyum tipis hadir menghiasi wajahnya yang gelap. "Aku memang beruntung, kamu atasanku. Kalau bukan kamu, pasti aku sudah di depak dari kesatuan kan, Reza?!" Kata Rambo diterpa angin. Matanya terus memandang surat keramat di tangannya kemudian menoleh ke depan, memandang pada langkah sahabatnya yang mulai jauh. "Terima kasih." Katanya pelan. Bicara sendiri pada bayangan Anta Reza.
Setelah Anta Reza benar-benar pergi dan semakin jauh dari pandangannya. Rambo kembali masuk ke rumah untuk berpamitan pulang.
"Marwah?!"
"Om!!!"
Kata pertama yang ia ucapkan setelah kembali masuk. Yang membuatnya terkejut adalah, karena Marwah berdiri menunduk depan jendela.
"Kamu sedang apa di situ?" Tanya Rambo.
Marwah meneguk liurnya kasar, seakan ia tengah berusaha untuk berkelit namun tak mampu. Dia telah tertangkap basah mengintip, jadi apa lagi gunanya berbohong. "Maaf Om, yang tadi itu suaminya Kania kan? Dia sudah tahu tentangku di sini ya?"
"Ya, itu Anta Reza." Jawab Rambo. "Dia sudah tahu semuanya, tapi jangan khawatir dia mengerti bahwa aku minta berpisah dengan Erin, karena memang sikap Erin yang sulit untuk dimaklumi sebagai istri."
__ADS_1
Ekspresi Marwah berubah, berubah menjadi tatapan masygul dalam ratapan sentimentil. "Om---Aku sedikit malu mengatakan ini, tapi ini adalah kekhawatiran yang ada dalam diriku, aku takut mereka memandang rendah terhadapku. Apalagi saat tahu kalau dekat dengan kamu yang sudah menikah."
Seketika jidat lebar mengkilat itu disentil oleh jemari Rambo yang besar. Marwah meringis. "Jangan terlalu banyak berpikir, sesuatu itu tidak serta merta seperti yang kamu bayangkan. Memangnya sahabatmu Kania orang yang suka merendahkan?"
"Tidak," Marwah menjawab dengan suara paling pelan. Suara itu bahkan tidak jauh lebih besar dari hembusan napasnya sendiri.
"Makanya---aku yakin sahabatmu itu pasti sangat senang kalau bertemu. Selain aku, dia juga selalu menantikan kabar darimu." Sekali lagi, Rambo melakukan cara yang sama, mengunci pundak Marwah di kedua sisi. "Sabar ya, setelah kita pantas bersatu nanti, pasti ku bawa kamu temui Kania. Ku selesaikan dulu semua satu persatu, dari Erin, lalu suami kamu."
"Terima kasih banyak, Om."
Malam yang kelabu, dingin terus menyerbu masuk. Menghempaskan rambo dalam rasa sejuk yang menusuk, setelah semua yang berlalu termasuk pengetahuan Anta Reza yang tidak terdeteksi olehnya. Ia merenung di dalam mobil, hanya sebatang sigaret yang menemani, menyusuri jalanan yang panjang.
"Tuhan... Aku memang bersalah," katanya di dalam mobil.
Seperti orang gila, Rambo bicara sendirian sepanjang jalan. Segala jenis pikiran datang menemaninya dalam perasaan suntuk.
__ADS_1
Sampai di rumah, ia segera siapkan semua berkas untuk dibawa ke pengadilan besok pagi.
Penantian 5 tahun itu, sulit sekali ya?!
Kata-kata itu kembali terngiang, membuatnya tersanjung.
"Jelas sulit, kamu belum tahu rasanya hidup berkelana seperti orang hilang, hanya demi orang yang kita cintai. Tapi percayalah---Tuhan itu tidak tidur. Apapun yang kamu harapkan pasti suatu saat akan datang." Kata Rambo dalam hati.
Besok paginya, Rambo berangkat sedikit lebih siang dari biasanya. Ia harus menyiapkan diri ke Pengadilan dan ini benar-benar penantian yang luar biasa.
"Baik Pak, data sudah saya terima, jadwal akan kami hubungi kembali." Kata petugas pengadilan seusai Rambo mendaftar.
Selamat memulai langkah baru, bagi pasangan yang sesaat lagi akan kandas...
...****************...
__ADS_1
Author sanskeh di sini, jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya ya! Sayang kalian semua 😙😘💍