
Marwah memandangi sejenak lembaran cek kosong itu, ia mampu merasakan bagaimana kekuatan uang menyusup dalam kehidupannya. Apakah semua orang kaya begini... mengendalikan segalanya dengan uang?
Suasana tak sedap seakan menguasai seluruh sudut di ruangan itu. Keberadaan Ibu Amy saja sudah sangat kuat dan mengintimidasi. Namun meskipun harta berada di tangan Marwah, seberapa banyak uang pun yang ia inginkan bisa langsung ia tulis di kertas itu, tapi tidak semua yang diberikan uang memiliki 'kebahagiaan' seperti yang selalu Marwah rasakan setiap kali Rambo berasa di dekatnya.
"Terima kasih bu, tapi Kak Rambo---tidak setara dengan uang berapa pun." Kata Marwah, mengawasi Ibu Rambo itu dengan gelisah sambil bergerak menyerahkan kembali selembaran cek bank itu.
Ibu Amy mengernyitkan dahi, kemudian berdesis, "Kamu ini tidak usah naif begitu, kamu mau dengan anak saya itu karena uangnya kan? Makanya kamu tulis saja mau berapa, 100 juta juga silahkan. Saya tidak masalah." Lalu ia mengeluarkan satu benda lagi dari dalam tasnya. Sebuah kotak kecil bewarna merah.
"Itu cincin berlian, harganya bisa beli rumah 2 kali lebih besar dari rumah anak saya ini. Pasti sangat cukup kan? Kamu kan tinggal di jalanan, pasti belum pernah lihat barang-barang mahal seperti ini, belum pernah juga kan lihat uang segepok? Makanya sekarang saya kasih, kamu boleh ambil itu semua." Lanjutnya.
Bibir Marwah langsung bergetar hebat, entah ini sebuah penghinaan yang teramat dalam atau mungkin juga sebagai bentuk penolakan mentah-mentah dan pelecehan harga dirinya.
Namun sekali lagi, seberapa kali pun ia dihina bayangan tentang perjuangan Rambo selama ini tak bisa di sampingkan. Ia akan menjadi perempuan paling jahat jika kembali meninggalkan Rambo karena pertemuan ini.
Yang aku takutkan selama ini, ternyata sungguh terjadi... dan aku sudah memilih pergi waktu itu karena ketakutan ini, aku menghempas perasaan sendiri sampai Om terpaksa menerima perjodohan. Tapi sekarang, aku tak boleh mundur, Om sudah membuktikan bagaimana perasaannya, perjuangannya tidak main-main sampai kami berada di titik ini. Aku yakin, sebelum aku merasakan ini, Om telah lebih dulu ditentang ibunya tapi dia masih terus berjuang. Karena itu, seperti apa pun keadaan dan intimidasi yang ku terima, aku juga akan memperjuangkan cinta kami, seperti Om. Marwah menggumam dalam hati.
"Maaf bu, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ibu, saya sangat mencintai anak laki-laki Ibu, tanpa memandang apa pun yang ada pada dirinya. Saya sadar kemampuan ekonomi dan kualitas diri saya sangat jauh dan tidak sebanding dengan Kak Rambo dan keluarga. Tapi, demi Tuhan saya mencintai dia tulus dari hati, bukan karena harta dan takhta yang dimilikinya. Saya siap mundur jika memang Kak Rambo sendiri yang meminta saya pergi." Marwah menghela napas berat dan mengangkat kepala untuk kembali menatap sorot mata tajam Ibu Amy.
__ADS_1
"Dan sekali lagi saya katakan... Anak Ibu sudah berjuang mati-matian untuk sampai di titik ini bersama saya, dan saya sangat menghormati perjuangan dan perasaannya. Karena itu uang sebanyak apa pun, benda semahal apa pun tidak akan sepadan dengan dirinya. Tidak akan mampu membayar segala pengorbanan dan perjuangannya. Sampai sini saya rasa Ibu sudah mengerti." Lanjutnya.
Tatapan mata yang menyala-nyala dari Marwah tak kalah hebat untuk meredamkan sorot membara Ibu Amy yang menatapnya menyipit. Perdebatan batin yang siap bertempur antar sesama perempuan, sama-sama tak ingin mengalah. Sungguh hidup Marwah sudah berubah menjadi film fiksi.
"Munafik! Tulus apa nya?! buktinya kamu malah tinggal di rumah milik anak saya, bilang tidak butuh harta tapi kamu hidup dari anak saya, tempat tinggal, makan, kebutuhan, saya yakin Rambo yang penuhi itu semua untuk kamu. Kamu kan tidak kerja, belum menikah saja kamu sudah bergantung dan pakai harta anak saya kok. Sekarang malah berlagak tidak butuh apa-apa."
Suara Ibu Amy bergemuruh di ruangan tersebut dan pikiran Marwah berputar pada suara yang keluar dari mulut Ibu kandung dari lelaki yang ia cintai. Udara bergetar, berputar dan sekonyong-konyong, tidak ada Rambo di sana bersama mereka.
Bayangan senyum dan genggaman kuat tangan Rambo, seolah-olah ingin meyakinkan Marwah lewat telepati hati bahwa wanita itu akan baik-baik saja. Kemudian Marwah kembali melihat pada Ibu Amy sambil menghela napas.
"Saya sudah paham dengan pemikiran perempuan-perempuan modelan kamu. Kamu mau pertahankan anak saya, karena itu investasi jangka panjang. Kamu sudah menghancurkan rumah tangga anak saya, memangnya masih tidak cukup dengan merebut masa depannya?" tanya Ibu Amy dengan angkuh selagi mendongakkan dagu.
Ibu Amy menarik tas mewahnya ke pertengahan lengan. Kemudian berdiri dengan bibir mengerut selagi merapikan roknya. Sementara Marwah hanya membalasnya dengan senyum seraya ikut berdiri.
"Cincin berlian dan cek banknya bu---" Katanya.
Lagi-lagi Ibu Amy mendengus kesal, seakan Marwah benar-benar tak mengidahkan peringatan darinya. Sungguh tak tahu malu, mungkin pikirnya.
__ADS_1
"Kamu ternyata sama saja dengan anak saya." Katanya seraya mengambil cincin dan cek yang tadi diletakkannya di atas meja. Kemudian pergi meninggalkan rumah Rambo yang ditinggali Marwah.
Demikianlah hari yang mengejutkan dari tamu yang tak terduga itu. Napas Marwah menuruni kerongkongan dalam des4h penuh kelegaan. Ia menaruh tangan kanannya ke sisi pintu dan bersandar. Lututnya masih lemas tapi untungnua jantungnya lebih pelan dari yang tadi. Perasaan gemetar dan takut telah menyingkir, meninggalkan tubuhnya dengan perlahan. Seperti Mobil Ibu Amy yang pergi meninggalkan halaman rumah.
Sementara dari tempat yang jauh sana, Rambo duduk di kursi tamu ruang kerja sahabatnya Anta Reza.
"Bagaimana persiapan pernikahan dengan Marwah?" Tanya Anta Reza sambil menandatangani berkas, sesekali pula mencuri pandang pada Rambo.
"Lancar. Cuma entahlah, hatiku masih sangat---"
"Ragu?"
"Bukan," jawab Rambo pelan. "Ibu, sampai sekarang tidak berikan restu untuk kami. Reza bagaimana aku mengatakannya, Ibu dan keluargaku enggan menerima Marwah karena menganggapnya kurang pantas untukku, soal pendidikan, soal keuangan, Ibu malu menerima Marwah jadi menantunya. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan mereka, Reza. Tapi, sampai kapan pun juga aku tidak mau lagi kehilangan Marwah, aku tak akan mundur dari pernikahan kami. Kalau kamu jadi aku, bagaimana caramu menghadapi ini Reza? ---"
Anta Reza bangkit dari kursi dan meninggalkan pekerjaannya sementara, seraya berjalan ke arah Rambo.
"Kalau mereka menolaknya karena menganggap Marwah tak pantas,---" kata Anta Reza senyum, menggantung kata-katanya. "Maka tugasmu adalah menjadikan dia pantas."
__ADS_1
Rambo tertegun, bola mata hitamnya memandang Anta Reza dengan bulat sempurna. "Aku akan melanjutkan pendidikan Marwah, dan memberikan dia modal usaha." Balasnya.