Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 42 - Kini Giliran Marwah


__ADS_3

Entah sudah berapa lama mobil Rambo berjalan, roda-roda itu berputar menemani tuannya di atas aspal. Dia terus hilir mudik, seakan-akan tubuhnya sedang berpacu dengan pikirannya, terasa sakit dan udara dingin menusuk-nusuk dadanya meski Rambo sudah menggunakan jaket tebal.


Saat ini, tak ada dukungan moral dari siapa pun yang akan ia dapatkan, selain hanya pada seorang wanita yang ia sembunyikan di sebuah rumah ujung kota. Dia pun memutuskan untuk ke situ sekarang.


"Om?"


Marwah mendongak agar dapat menatap Rambo yang baru sampai di bibir pintu, kemudian bertanya, "Ada apa Om? Apa terjadi masalah?"


Wajah Rambo semakin pasi meski ia mencoba untuk tersenyum. Dia tahu, tak perlu bicara apa pun, sebab yang ia butuhkan sekarang hanyalah dukungan walau dari seorang saja. Mengatakan kejadian yang dialaminya barusan pada Marwah hanya akan kembali mengingatkan ia pada sumpah sang ibu.


Rambo mengulurkan tangan, walau sempat ragu-ragu sebelum akhirnya memeluk Marwah. Marwah tahu alasannya. Ia tahu kalau Rambo sedang berusaha menguatkan mental untuk hubungan mereka. Ia dapat merasakan keengganan Rambo memperdalam kontak mereka tersebut. Meskipun pikiran Rambo si gondrong dapat ia rasakan dengan jelas. Namun, sikap Rambo saat ini, menghantam keinginan Marwah untuk menanyakannya.


Dan Marwah tidak tahu bagaimana menghadapinya, bukan berarti ia tak perduli. Tapi, kenyataan yang telah terjadi sekarang membuat Marwah makin bulat ingin mengambil langkah yang sama seperti yang dilakukan Rambo.


"Tidak apa-apa Om, tenanglah, keluarkan semua apa yang kamu rasakan. Aku di sini..." Bisiknya di telinga Rambo.


Lalu dekapan itu lepas oleh Rambo, dan ia menjawab. "Terima kasih."


"Duduklah di sana, biar aku ambilkan air minum."


Saat duduk di sofa rumah itu, Rambo seperti dilepaskan dari beban yang sangat berat dan udara di sekitarnya terasa begitu nyaman. Ia menarik nafas yang dalam, seakan menghirup semua kekuatan dari semesta dan menghembuskannya dengan perlahan, memberikan kelegaan yang luas di dalam dadanya yang tadi sesak. Ya, dia adalah manusia bebas dan tidak akan ada yang bisa merebut kebebasannya itu. Tidak ada.  Perempuan, sangat pengobat luka hatinya itu datang dua menit kemudian dari ruang tengah.

__ADS_1


Dengan senyum, Marwah menyambut dia dan Rambo jadi sedikit bingung. Dia langsung bangkit dari kursi dan mendekat.


"Om, ini air minum mu."


Namun dahi Rambo langsung mengkerut, perhatiannya bukal lagi pada sosok Marwah atau air putih yang dibawakan olehnya, melainkan pada benda besar yang ia bawa di tangan kiri. "Kamu mau kemana? Bawa tas besar itu, kamu mau pergi?"


"Iya." Jawab Marwah singkat.


"Kenapa? Kamu berubah pikiran denganku, atau bagaimana? Semua orang terdekat ku pergi dan benci padaku, lalu kamu juga mau begitu?"


Marwah tersenyum hangat, kemudian meletakkan tas pakaiannya ke lantai. Tangannya begitu lembut menyentuh jemari Rambo yang besarnya hampir dua kali lipat dari tangannya sendiri.


"Tidak Om," Katanya sambil melirik Rambo kemudian. "Aku tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu. Justru aku pergi, agar bisa bersatu denganmu. Kamu sudah mengambil langkah untuk berpisah dari ibu Erin, agar kita bisa bersama-sama. Karena itu, sekarang adalah giliranku untuk menyelesaikan hubungan dengan suamiku. Aku harus kembali ke rumah, aku harus kembali dan menemui dia, atau menunggunya pulang di sana."


"Om, justru kalau aku tunggu dia pulang baru kembali ke rumah, dia bakal curiga. Aku tidak berani---"


"Kamu takut dipukuli lagi olehnya kan?" Sela Rambo. "Lalu bagaimana kamu mau minta cerai? Sebelum kamu mengatakan keinginan itu sudah pasti kamu bakal dihantam habis-habisan kan!"


Dan lagi-lagi Marwah tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana cara menghadapi Rambo sekarang. Yang dikatakan oleh Rambo benar, tapi ini harus dihadapi jika ia ingin keluar dari penjara takdir dan menjemput asanya bersama Rambo.


Marwah sempat terdiam sejenak, dan bayangan-bayangan yang telah ia dan Rambo lalui, langkah yang telah Rambo tempuh untuk bisa bersama dengannya. Akhirnya menguatkan tekad Marwah lagi, kalaupun harus dihantam, kenapa tidak? Malah ini alasan yang bagus untuk bercerai. Bukankah demi membantu rencana perceraian Rambo dulu, ia juga harus dipukul oleh Erin? Ah, memang seharusnya jangan mundur.

__ADS_1


"Makanya aku harus kembali ke rumah, sebelum dia pulang." Kata Marwah. "Jangan khawatir Om, kamu mau kita segera bersama kan? menyatukan hubungan kita dalam ikatan yang benar. Karena itu, biarkan aku pergi sebelum akhirnya kembali lagi padamu."


"Tapi aku tidak bisa," Rambo mengalihkan pandangan, menatap pada ubin yang putih dan cemerlang. "Aku tidak bisa jika berpisah denganmu, walau sekejap. Aku trauma. Aku takut kamu pergi lagi untuk waktu yang lama, seperti 5 tahun yang lalu. Aku tidak sanggup kalau harus mengulang proses yang sama, menunggu dan mencari mu bertahun-tahun. Tapi dari dasar hatiku, yang paling aku takutkan adalah kalau laki-laki itu main tangan lagi di badanmu. Membayangkan hal itu saja sudah membuat hatiku sakit.... "


"Aku tak akan pergi lagi. Aku janji. Tapi untuk saat ini, aku ingin bertanya lagi, kamu masih ingin menungguku kan Om?" Jawab Marwah, sorot matanya yang berbinar menatap Rambo penuh kehangatan. "Kamu mengatakan padaku, tak ada hasil tanpa pengorbanan. Aku sendiri sudah tak tahan hidup penuh kesakitan, sampai satu tahun menikah yang ku dapat hanyalah hantaman. Aku merasa dibohongi, ditipu, bahkan sepanjang 365 hari aku hidup bersamanya, aku gagal menumbuhkan cinta. Karena itu Om, izinkan aku pergi untuk menyelesaikan urusanku dengannya."


"Baiklah, aku akan menunggumu." Kata Rambo sambil menghela napas. "Tapi sebelum itu, jangan pernah hapus nomor ponselku. Segera hubungi aku, jika laki-laki itu melakukan kekasaran lagi di badanmu. Tolong jangan diam, aku janji bakal datang secepatnya."


"Aku mengerti."


"Kalau kamu dipukul lagi, lapor padaku. Biar aku yang pukul dia."


Marwah tersenyum, "Iya Om, aku pasti hubungi kamu kalau terjadi sesuatu."


Demikianlah, sebelum Marwah benar-benar pergi, Rambo menyempatkan untuk memeluk wanita yang dicintainya itu. Memeluknya dengan berat hati. "Aku antar ya?" dan Marwah hanya menggeleng sebagai tanda penolakan.


...****************...


Sekian menit berlalu di perjalanan, Marwah akhirnya tiba di perkampungan tempatnya tinggal. Di rumah reot yang ia sebut neraka dunia. Sayangnya ada hal mengejutkan yang terjadi saat gagang pintu itu dipegang.


"Tidak terkunci?" Katanya pelan.

__ADS_1


Dan jantung itu semakin berdebar, saat sorot matanya membeku mendapati bayang lelaki dengan kaus tanpa lengan itu duduk di atas kursi kayu, tepat di depannya.


"Darimana kau? Masih ingat dengan rumah?" Sambut lelaki itu dengan wajah datar, tapi tatap mata itu seram penuh geram.


__ADS_2