
Rambo menarik kursi yang akan menjadi sandarannya, dan jatuh duduk di atasnya. Anta Reza, sahabatnya juga duduk di ujung meja, tidak jauh dari posisi Rambo sendiri, sementara seorang pria tua sudah berada di hadapannya.
"Apa masih deg-deg an?" Tanya Pak tua itu sambil tertawa selagi mengulurkan tangan pada Rambo.
"Lumayan Pak," Rambo malu-malu, dan menyambut tangan pria itu dengan genggaman erat dan tersenyum. "Tapi saya sudah siap."
"Kalau begitu bisa ya kita mulai?"
Rambo mengangguk pelan sekaligus mengatur napas.
"Sebelum saya mulai, mau ingatkan dulu ini sama mempelai prianya. Dengar, kalau sudah sah nanti jangan ada yang berubah, perempuan itu bukan cuma disayang waktu pacaran saja tapi kalau sudah nikah rasa sayang dan cintanya harus semakin besar. Karena masih banyak saja kasus laki-laki sayang waktu jadi kekasih, ngotot ngajak nikah, meyakinkan perempuannya bakal hidup bahagia dan tanggung jawab tapi waktu sudah sah tahu-tahu langsung berubah 180°, yang waktu pacaran, diperhatikan terus sudah makan belum, sudah mandi belum, tapi waktu sudah nikah mau sudah istirahat pun tidak peduli lagi. Yang waktu pacaran, semua yang perempuan mau, dihajar dibelikan mahal murah hantam. Tapi waktu sudah menikah, uang buat belanja buat kamu makan pun diiritkan minta ampun! Pelit, kalau minta lebih dikit langsung dibilang boros---"
Rambo mengangguk, menyimak petuah yang disampaikan oleh wali hakim Marwah.
"Jangan ngangguk-ngangguk saja, ini saya serius. Saya nikahkan orang bukan cuma satu dua orang saja. Sudah banyak, dan sudah banyak juga mengurus orang yang mau cerai alasannya macam-macam. Nah, jadi kamu Anakku, saudara Rama Bobby, jagalah calon istrimu ini nanti. Setelah saya jabat tanganmu, maka kamu sudah menanggung perempuan itu hidup dan mati. Ini saya lihat, calon istrimu ini sudah tak punya orang tua, tidak punya keluarga, maka cuma kamu dan keluarga mu lah yang menjadi bagian hidupnya. Jaga baik-baik." Kata wali hakim yang diketahui namanya adalah pak Mamat. Beliau menepuk-nepuk tangan Rambo dalam jabatan tangannya.
"Keluargamu mana? hadir?" Tanyanya kemudian.
Dan detik itu pula Rambo langsung tiba-tiba hilang rasa, sesekali ia menunduk untuk menutupi raut wajahnya. Di hari yang berbahagia ini, meski akhirnya telah tiba hari pernikahan bersama Marwah dan telah meyakinkan keluarganya selama satu minggu berturut-turut, nampaknya tak ada hasil yang bisa merubah pikiran ibu Amy dan kakaknya untuk datang dan menghadiri acara pernikahan ini.
"Mereka sedang berhalangan hadir Pak," jawab Rambo pelan. "Saya harap bisa dimaklumi," tambah Rambo, tatapannya menyapu pada wajah Pak Mamat yang memandangnya dalam.
"Ya sudah, yang saya sampaikan tadi harus kamu ingat baik-baik." Balas Pak Mamat, dan selaku wali hakim beliau bersiap ambil posisi tegap dan mengambil microphone lebih dekat ke bibirnya. "Mari kita mulai saja. Sudah siap?"
__ADS_1
Rambo kembali mengangguk, seraya memasang sikap siap yang sama seperti Pak Mamat.
"Jawab uluran tangan saya ini dalam satu tarikan napas," Wali hakim Marwah tersebut kembali menggenggam erat tangan Rambo, kemudian Rambo menyambutnya dengan sama kuat. "Saudara Rama Bobby Suhendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan seorang perempuan bernama Cantika Marwah dengan mas kawin yang tersebut tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya----"
Tapi, sebelum Rambo menyelesaikan ucapannya, suara tak asing menyahut dari depan pintu masuk.
"Tunggu sebentar,"
Semua langsung diam, dan menoleh ke arah sumber suara. Rambo menjauhkan micnya dan memutar badannya untuk melihat orang yang berbicara tak terduga itu.
"Ibu," katanya pelan, sebelah alisnya terangkat. Dan bisa dipikirkan bagaimana debar jantungnya saat itu, perasaan takut tiba-tiba menyerbu dadanya. Ibu Amy tanpa terduga hadir dan menginjakkan kaki di rumah Rambo. Meski tanpa didampingi siapa pun, dia, Ibu Amy datang dengan riasan lengkap seperti ingin berpesta ke acara formal.
"Bu, Ibu mau apa?" Bisiknya pada Bu Amy, namun tak dihiraukan.
Saat Rambo berbisik itu, Ibu Amy langsung berjalan dengan gaya anggunnya ke dekat kursi akad nikah. Dan ini makin membuat Rambo cemas, langkahnya pun acak kali mengikuti kecepatan Ibu Amy, sambil terus berbisik.
"Bu, tolong jangan kacaukan acara ini. Aku sudah menyiapkan dan menantikan pernikahan ini bu."
Namun tetap, ia tak dihiraukan Ibunya sama sekali. Hingga selesailah sudah, saat langkah Ibu Amy berhenti di depan meja akad. Rambo langsung lemas dan mengusap wajahnya kasar, sementara mempelai perempuannya, Marwah menyimak dari layar monitor dalam kamar bersama Karunia, sahabatnya.
"Kania, Ibu Om gondrong datang. Sepertinya dia mau membatalkan pernikahan kami... " Ujar Marwah gelisah.
__ADS_1
Kania tak bisa menjawab apa pun, selain menemani dan mengusap punggung Marwah untuk menenangkan. Di balik wajah masygul nya, ia sendiri tak bisa menyembunyikan rasa takut dan gelisah yang sama adanya. Hanya, sebisa mungkin Kania tak bicara apa pun tentang itu.
"Maaf saya terlambat. Saya ibu kandung mempelai laki-laki." Kata ibu Amy pada Pak Mamat, wali hakim pernikahan Rambo dan Marwah.
"Oh ini Ibu sudah hadir. Tidak masalah, malah syukur Ibu datang di saat yang tepat, jadi masih bisa melihat akad nikahnya." Pak Mamat tersenyum ramah, kemudian berkata; "Bagaimana bu, bisa kita lanjutkan sekarang acaranya?"
"Silahkan Pak," Ibu Amy memejamkan mata sejenak, dan menarik kursi di belakangnya. Ia memandang meja pernikahan Rambo dalam-dalam, sebagai respon.
Dan dengan itu, Rambo membisu, diam bagai patung yang kaku. Matanya membulat memandang semua dengan kekaburan, seakan ia tak percaya dengan yang terjadi barusan, dengan kata yang baru saja lolos dari mulut ibunya.
Memang wajar jika Rambo bereaksi demikian, sebab ini cukup mengagetkan bukan hanya dari kehadiran ibu Amy yang tak terduga, tapi dari ucapannya juga barusan. Sebuah restu kah? atau apa?
"Saudara Rama, jangan melamun begitu! ayo kembali ke tempat duduk. Kita lanjutkan akadnya."
Rambo langsung menggeleng-gelengkan kepala untuk kembali mendapatkan kesadaran. Entahlah, kalaupun ini hanyalah mimpi, tidak salahnya bila dilanjutkan. Dan kalau memang ini sungguh kenyataan, maka ini adalah hari yang paling ia syukuri pada Tuhan.
Rambo menarik kursinya dan kembali berjabat tangan dengan Pak Mamat.
"Saudara Rama Bobby Suhendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan seorang perempuan bernama cantika Marwah dengan mas kawin yang tersebut, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Cantika Marwah, dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai!"
"Saksi? Bagaimana sah?" Pak Mamat menoleh pada Anta Reza, dan dijawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Sah.... "