Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 06 - Selamat Datang di Rumah


__ADS_3

"Asisten Rumah Tangganya bakal datang hari ini, kemarin dia sudah menghubungiku."


Rambo membuka obrolan pagi ini di meja makan, semua datar penuh kehampaan dan kekosongan. Mereka hanya makan makanan jadi, semacam roti tawar di oles selai juga susu cair kalengan.


"Baguslah, suruh langsung kerja dari sekarang. Suruh dia menginap di sini untuk hari-hari tertentu, karena kamu kan kalau patroli atau ada tugas seperti waktu itu, pulangnya malam sekali. Minta kopi lah, minta itu lah, aku tidak mau ada keributan karena begituan lagi, kamu bisa suruh asisten rumah tangga itu nanti." Jawab Erin ketus.


Rambo mengambil susu bagiannya di kulkas, tiap hari, tiap pagi minum susu dingin.... Erin tak pernah siapkan segala kebutuhannya.


Hingga selang beberapa waktu, bahkan sebelum Rambo menghabiskan susu kalengnya. Lonceng yang tergantung di depan pintu rumah berbunyi, seseorang datang untuk menemui mereka.


Tentu Rambo langsung meninggalkan minumannya cepat-cepat, ia sudah menduga bahwa yang datang itu adalah Marwah.


"Ini Cantika Marwah, yang mau kerja di sini." Ucap Rambo pada Erin di ruang makan, begitu Marwah di persilahkan masuk.


"Selamat pagi, bu." Seru Marwah berusaha ramah, meskipun uluran tangannya hanya dibalas senyum tipis dari Erin.


"Dapat info kerja di sini dari siapa?"


"Oh, itu bu saya dapat info dari keluarga kalau ada orang butuh asisten rumah tangga. Jadi saya coba daftar."


Rambo mengagumi ketenangan Marwah yang luar biasa, bahkan dengan pertanyaan tiba-tiba semacam itu, ia mampu berkelak tanpa menimbulkan gerak-gerik mencurigakan sedikit pun.


"Baiklah, kamu bisa kerja di sini mulai hari ini. Biar ku jelaskan sebentar aturannya. Pertama: pekerjaan kamu jelas melingkupi seluruh pekerjaan rumah tangga di rumah ini. Kedua : Harus menginap, kalau bapak (Rambo) kerja pulang malam. Dia polisi, jadi bisa dapat piket patroli atau bisa juga tugas lain. Selain dari hari itu bebas, mau pulang atau tetap menginap, yang pasti kalau pulang, besok paginya harus ada di rumah ini sebelum kami berangkat kerja, karena kamu harus masak sarapan." Erin menjelaskan cukup detail, sampai Marwah sendiri terkejut dengan aturan yang pertama.


"Baik bu."

__ADS_1


"Ya sudah aku mau pergi kerja sekarang. Bapak belum selesai sarapan mungkin, kamu bisa mulai beres-beres sekarang ya! sapu ada di situ!"


Cepat-cepat Erin mengambil tas kerjanya di kursi makan, sementara piring dan gelasnya dibiarkan begitu saja karena biasa Rambo yang bereskan.


"Aku lanjut sarapan dulu. Kamu sudah makan sebelum ke sini tadi?" Ucap Rambo sambil menarik lagi susu kalengnya di atas meja.


"Sudah om."


"Oh, ku kira bakal panggil aku 'Pak', ku kira kamu sudah sombong padaku sampai bisa bertingkah asing begitu." Ujar Rambo dengan nada kesal yang cukup mengesankan dan gampang dikenali.


"Kalau depan ibu, aku bakal panggil Om dengan sebutan 'Pak' kok." Jawab Marwah, sambil melirik makanan Rambo di meja. Matanya kini berfokus pada bintik-bintik air di luar Kaleng susu yang dipegang Rambo. "Om, itu dingin. Minum susu dingin pagi-pagi tidak baik. Bisa buat sakit perut nanti."


"Jangan menatap ku begitu. Ini sudah kebiasaan dan aku sudah terbiasa kok," Rambo berkata sekedar untuk memenangkan diri, meski jauh di dalam hatinya; ia sendiri juga kacau balau, siapa yang kuat minum susu kalengan dingin setiap pagi. Tapi Erin terlalu apatis untuk sekadar mengharap sedikit perhatian darinya. "Istriku terlalu sibuk di pekerjaannya sampai sulit untuk sedikit saja melayaniku, buatkan sarapan atau beres-beres."


Bila di perhatikan dari aura tubuh, cara menatap, cara berpakaian barusan untuk pertama kali pertemuan. Marwah cukup memahami sedikit karakter pribadi Erin.


"Terima kasih sudah mau menerima pekerjaan di sini Marwah... "


"Om, cukup... jangan di lanjutkan lagi. Lagi pula kamu tidak perlu berterima kasih begitu aku yang terima kasih karena harusnya aku lah yang mengatakan itu, aku butuh pekerjaan ini." Jawab Marwah, sambil membereskan piring makan Erin di meja tadi. "Atau mau ku buatkan sarapan yang baru Om? nasi goreng dan kopi mungkin?"


"Boleh," Rambo mengangguk kegirangan.


Berdua dalam rumah dan jarak yang terbilang sangat dekat, sedekat malaikat maut saat Rambo tertumbur truk, sungguh di luar khayalan Rambo selama ini, berulang kali bahkan seakan masih tak menyangka kini Marwah, wanita yang selalu dicari dan ditunggu selama bertahun-tahun ini, ada di depannya sekarang, bahkan sedang siapkan nasi goreng untuknya.


Matanya tak pernah lepas dari memandang tubuh kecil molek Marwah dari belakang. Seakan tak ada yang berubah, mungkin kah Marwah gadis, belum tersentuh sama sekali meski sudah menikah, seperti dirinya yang masih perjaka awet, sampai sekarang. Ah, mana mungkin! dia sudah 1 tahun menikah. Tapi aku tak masalah... pikirnya, nampaknya Rambo sekarang makin gila.

__ADS_1


Dia terus berandai-andai, melanjutkan fantasinya sambil memandangi Marwah dari kursi makan. Jikalau saja waktu tak salah tempat, anda saja Marwah yang menjadi istrinya, mungkin Rambo tak perlu minum susu kaleng dingin, dan cuci piring bekas makan Erin setiap pagi. Malah ia yang bakal dilayani dengan baik.


"Rambut kamu mulai panjang ya? dulu tidak sepanjang ini. Kalau sudah panjang begini harus selalu di kuncir terus dong?" Bisik Rambo sambil memainkan lembut ujung Rambut Marwah dari belakang.


Marwah langsung menyingkir begitu mendengar dengusan napas dari majikannya Rambo. "A-aku tahu Om!!"


"Oh maaf. Aku tak bermaksud macam-macam."


"Maaf aku teriak. Tapi aku sungguh terkejut, maaf Om, tapi ada baiknya jangan terlalu dekat denganku. Nanti ibu lihat, aku di sini cuma mau kerja cari uang."


Rambo hening beberapa saat, meski kini ia sedikit kecewa dengan ucapan Marwah.


"Maaf, aku sungguh tak bermaksud buat kamu risih." Jawab Rambo sambil mengambil posisi bersandar pada meja masak dekat kompor. "Aku sedikit kecewa, karena nampaknya kita akan sangat asing. Bahkan setelah perjuanganku untuk cari kamu setelah bertahun-tahun."


"Maaf Om, keadaan kita sudah jauh berbeda dari yang dulu. Dekat seperti dulu hanya mengundang masalah, apa lagi masih ada yang mengganjal di hati." Ucap Marwah kemudian.


"Maksud kamu?"


"Bukan apa Om, lupakan saja. Aku sambil masak tak apa kan?"


Rambo menghela napas kemudian bicara, "Lanjutkan saja."


Sejenak hening, matahari makin tinggi sinarnya masuk menembus dalam rumah melalu ventilasi di atas jendela dapur.


"Omong-omong suami kamu orang yang seperti apa?"

__ADS_1


__ADS_2