BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 20


__ADS_3

Mawar pun kembali ke kamarnya dengan hati yang tenang dan gembira, karena akhirnya dia bisa terlepas dari bayang-bayang menyeramkan Juragan Dahlan yang akan menjadikannya istri keempatnya. Dan dia pun langsung tertidur nyenyak di kamarnya.


Paginya, bangun tidur dia menceritakan semua kepada bi Odah. Bi Odah pun ikut senang mendengarnya. Mereka pun saling berpelukan, sambil menangis terharu.


Selanjutnya seperti biasa, sebelum jam tujuh Mawar membantu bi Odah menyiapkan sarapan untuk keluarga pak Wiryo. Setelah semua selesai sarapan, Mawar langsung membantu bi Odah mencuci piring. Sesudah itu, barulah dia pergi ke kamar Rangga.


Dia membuka pintu kamar Rangga, dan dilihatnya Rangga sudah bangun. Namun meski dia sudah bangun, tetap saja dia hanya bisa duduk di ranjangnya, karena dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu dari mana saja kok lama?" tanya Rangga sedikit kesal.


"Maaf den, aku kira den Rangga belum bangun. Jadi aku bantuin bibi dulu di dapur,"


"Mulai besok, kamu harus lebih pagi ke kamar ku, karena aku tidak mau menunggu lama,"

__ADS_1


"Kira-kira jam berapa ya den, biar saya gak telat lagi?"


"Jam enam, jam enam kamu sudah harus membangunkan aku. Kamu mengerti kan?"


"Iya den, Mawar mengerti,"


Mawar memapah tubuh Rangga, ini benar-benar membuat posisi mereka sangat dekat. Dan Rangga bisa melihat dengan jelas wajah cantik Mawar, yang membuat cowok manapun akan berdebar hatinya jika ada diposisi seperti Rangga saat ini. Rangga tidak berhenti menatap wajah Mawar, sehingga dia tidak sadar kalau dia sudah harus duduk di kursi rodanya.


"Den Rangga, buruan duduk dong. berat tau," gerutu Mawar yang sudah terasa pegal menahan tubuh Rangga.


Selesai dari kamar mandi, mereka pergi ke luar. Mawar baru saja akan melangkah meninggalkan Rangga, karena dia tau, Rangga tidak akan suka dia berada didekatnya. Dia berniat pergi ke bawah pohon tempat dia kemaren menunggu Rangga. Namun kali ini berbeda, Rangga justru melarangnya pergi, dan malah ingin Mawar menemaninya.


Dan Mawar yang takut dimarahi, membuatnya terlihat tidak tenang dan serba salah. Dan Rangga pun tau, kalau Mawar masih merasa takut padanya.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu gak perlu takut lagi padaku. Aku tidak akan memakan mu. Kan aku sudah bilang, aku akan berusaha mengubah sikapku selama ini. Jadi aku justru ingin kamu membantuku melakukan itu, karena itu tidak mudah untukku,"


"Tapi kan panas den,"


Ucapan Mawar yang polos membuat Rangga merasa gemas dengan Mawar. Inilah yang disukai Rangga dari Mawar, sederhana, polos, dan apa adanya. Namun Rangga berusaha menyembunyikan perasaan kagumnya itu.


"Memang kenapa kalau panas, kamu takut hitam. Art aja kebanyakan tingkah, kamu gak lihat tuh kebanyakan orang-orang kaya, artis, turis, mereka justru sengaja berjemur dipinggir pantai. Panas-panasan kayak gitu. La kamu, kena panas dikit aja gak mau. Inikan panas matahari pagi, baik untuk kesehatan dan kulit," gerutu Rangga.


Dan Mawar hanya bisa meringis menahan malu, mendengar ucapan Rangga. Dia pun berlari mengambil kursi lalu duduk di dekat Rangga. Rangga memperhatikan Mawar sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, yang membuat Mawar kesal, karena itu seolah-olah Rangga sedang mengejeknya.


"Kenapa den senyum-senyum? ada yang lucu?"


"Aku lagi membayangkan, seandainya kamu beneran jadi istri Juragan yg tua itu, kalian pasti akan sama-sama merepotkan. Yang satu sudah tua, yang satunya lagi banyak tingkah. Benar-benar pasangan yang serasi," ejek Rangga yang membuat Mawar sangat kesal.

__ADS_1


Mawar tidak menjawab apa-apa, dia hanya diam dan cemberut. Yang membuat Rangga tidak bisa menahan tawanya. Dan kang usep yang melihat Rangga tertawa dari jauh. sangat terkejut dan keheranan. Karena baru ini dia melihat Rangga bisa tertawa seperti itu.


__ADS_2