
Rangga mengetuk pintu kamar Fery. Tidak lama kemudian Fery membukakan pintu, Fery sangat terkejut saat melihat kalau yang datang ke kamarnya adalah kakaknya Rangga. Fery masih terdiam, dia masih belum percaya kalau yang ada di didepannya sekarang benar-benar kakaknya Rangga, kakak yang selama ini dia rindukan, yang tidak pernah menyapanya, apalagi menemuinya.
"Boleh kakak masuk?" tanya Rangga.
"I...iya kak, boleh," terdengar suara Fery yang sedikit gemetar. Sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Mereka masih sama-sama terdiam, mereka tidak tau mau mulai dari mana. Apalagi Fery, yang masih tidak percaya kakaknya mau datang ke kamarnya. Dia benar-benar dibuat bingung oleh Rangga.
"Aku sudah datang menemui mu dan kamu masih ingin tetap berdiri disitu? kamu tidak ingin memelukku? aku ingin memelukmu, tapi aku tidak bisa berdiri," ucap Rangga yang langsung membuat Fery menangis dan langsung memeluk Rangga.
__ADS_1
Mereka berdua pun saling memeluk dengan sangat erat. Pelukan yang sudah lama mereka rindukan, terutama Fery. Dia sangat merindukan saat-saat seperti ini dan selama ini dia hanya bisa menahannya yang membuatnya sangat tersiksa.
"Jangan tinggalin Fery lagi kak, Fery mohon. Fery sangat kehilangan kak Rangga, Fery sangat merindukan kak Rangga. Jangan marah-marah lagi ya kak, kita semua sayang sama kak Rangga. Fery, ayah dan ibu. Kita semua sangat menyayangi kak Rangga. Kita ingin kak Rangga seperti yang dulu lagi, yang juga menyayangi kami dengan sepenuh hati kak Rangga yang selalu memberikan kebahagiaan dalam keluarga ini," ucap Fery yang tidak bisa menahan air matanya menetes.
"Iya, kak Rangga janji. Kak Rangga gak akan mengulangi kebodohan kak Rangga lagi, kak Rangga sadar, kalau selama ini kak Rangga salah. Maafkan kak Rangga ya, kak Rangga janji gak akan marah-marah lagi dan gak akan meninggalkanmu sendirian lagi, kakak janji,"
"Sudah jangan nangis, kamu sekarang sudah besar, masak masih cengeng seperti dulu," ejek Rangga, sambil melepaskan pelukannya.
"Kak Rangga juga menangis kan, gak malu apa sama kak Mawar," ucap Fery balas mengejek.
__ADS_1
"Kenapa sebut-sebut nama Mawar, kamu suka ya sama Mawar?"
"Kalau iya kenapa? kita bisa bersaing sehat kan kak?"
"Oke... tidak masalah," jawab Rangga sambil memeluk Fery lagi, seperti mereka tidak ingin melepas pelukan mereka lagi.
Sementara masalah Mawar, mereka sudah sama-sama tau, bagaimana perasaan masing-masing, yang sudah jelas berbeda. Perasaan sayang Fery pada Mawar hanya sebatas rasa sayang pada seorang kakak. Sementara perasaan Rangga, jelas bukan antara kakak dan adik, tapi pastinya lebih dari itu. Yang jelas mereka sama-sama menyayangi Mawar, gadis desa yang mampu menciptakan perubahan drastis dalam keluarga ini, seorang gadis desa yang memberi kebahagiaan tersendiri dalam keluarga ini yang tidak pernah mereka duga sama sekali.
Mereka semua sangat bersyukur atas kehadiran Mawar ditengah-tengah mereka yang memberikan suasana berbeda didalam rumah itu dan memberikan kebahagiaan yang nyata, yang bisa dirasakan oleh mereka semua.
__ADS_1