BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 33


__ADS_3

Pak Wiryo, Bu Wiryo dan Fery sedang makan malam di meja makan. Sebenarnya mereka merasa, makan malam mereka kurang lengkap, karena tidak ada Rangga ditengah-tengah mereka. Terlihat jelas wajah Bu Wiryo yang selalu muram saat mereka sedang berkumpul.


Fery yang sudah melihat sendiri perubahan kakaknya, langsung menceritakan semuanya pada mama, papanya kalau kakaknya Rangga, benar-benar sudah berubah. Bu Wiryo yang mendengar penjelasan Fery pun tidak sabar ingin langsung bertemu anaknya Rangga. Dia langsung berdiri dan akan segera menuju kamar Rangga. Namun pak Wiryo mencegahnya.


"Lho, kenapa papa melarang mama menemui Rangga?"


"Papa tidak melarang ma, tapi mending habisin dulu makannya, baru menemui Rangga. Rangga juga sekarang lagi makan juga kan?"


"Tapi pa, mama sudah tidak sabar pengen ketemu Rangga. Mama pengen memeluknya pa,"


"Iya papa tau, sudahlah habisin dulu makannya baru menemui Rangga, nanti papa juga ikut menemui Rangga,"


Bu Wiryo tidak bisa menolak lagi permintaan suaminya, dia pun akhirnya menyelesaikan dulu makan malamnya. Sementara Fery hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua orang tuanya itu, yang kadang-kadang seperti anak kecil. Kadang berantem, kadang bercanda dan begitu seterusnya.


Sementara di kamar Rangga, Mawar sengaja menunggu sampai Rangga selesai makan, karena dia tidak mau harus bolak balik mengambil piring yang dipakai Rangga. Sambil menunggu Rangga makan, dia merapikan lemari baju milik Rangga.


Tidak sengaja, dia menemukan foto di lipatan baju Rangga. Di foto itu terlihat Rangga dengan seorang gadis, Mawar pun bisa menebak kalau gadis itu pastilah Rena, mantan pacar Rangga yang telah meninggalkan Rangga pasca kecelakaan itu. Mawar meletakkan kembali foto itu ditempat semula, dia juga tidak membahasnya dengan Rangga. Karena dia takut, itu akan membuat Rangga mengingat kembali luka lamanya.


Namun di hati Mawar yang paling dalam, tersimpan rasa cemburu. Karena sampai sekarang, Rangga masih tetap menyimpan foto Rena. Mawar berpikir, mungkinkah kalau Rangga sesungguhnya masih menyimpan rasa cintanya untuk Rena. Mawar buru-buru menutup lemari itu, karena mendengar Rangga memanggilnya.


"Iya mas, sudah selesai ya makannya. Ya udah, aku keluar dulu ya mas,"


"Iya, makasih ya. Kamu juga jangan lupa makan, aku gak mau kamu sakit. Karena kalau kamu sakit, terus siapa yang ngurusin aku,"


"Ada mas, kang Usep," ucap Mawar yang langsung pergi dengan meninggalkan tawa kecil di bibirnya.


Sementara itu, Fery dan kedua orang tuanya juga baru selesai makan. Melihat Mawar baru keluar dari kamar Rangga, Fery langsung mendatanginya.

__ADS_1


"Tugas kak Mawar udah selesai kan, sekarang temani aku belajar ya kak, please..."rengek Fery pada Mawar.


"Iya... tapi aku makan dulu ya,"


"Oke..."


Pak Wiryo dan Bu Wiryo hanya tersenyum dari kejauhan, melihat tingkah Fery yang sangat manja pada Mawar. Pak Wiryo dan Bu Wiryo pun langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menemui Rangga.


Sesampainya di kamar Rangga, mereka langsung mendekati Rangga yang sedang berbaring di atas ranjang. Rangga pun terkejut, karena jarang sekali dia melihat papanya menemuinya.


"Pa, ma," sapa Rangga.


"Bagaimana keadaanmu Rangga?" tanya pak Wiryo.


"Seperti yang papa lihat, aku hanya anak yang tidak berguna. Pa,ma,"


"Rangga anak mama, jangan bicara seperti itu nak. Bagaimana pun keadaan mu, kita semua akan selalu menyayangimu,"


"Iya pa, Rangga akan semangat untuk bisa sembuh. Demi papa, demi mama dan demi Fery,"


"Dan yang paling penting, demi dirimu sendiri," timbal pak Wiryo.


"Iya pa, Rangga juga mau minta maaf atas sikap Rangga selama ini, yang sering menyakiti kalian. Maafkan Rangga pa,ma,"


"Iya nak, kami semua memaafkan mu,"


Mereka pun saling berpelukan, dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Sementara Fery dan Mawar sedang asyik belajar sambil ngobrol di ruang tengah. Mereka bercerita tentang banyak hal, dan sampailah mereka membahas tentang pasangan. Kebetulan mereka juga sama-sama tidak mempunyai pasangan. Alasan Mawar kenapa belum punya pacar sudah jelas karena dia terlalu sibuk mencari nafkah sebagai tulang punggung selama Bapaknya sakit, sehingga dia tidak sempat lagi memikirkan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.


Sementara Fery, dia terlihat muram saat Mawar menanyakan soal pacarnya. Karena dia pun sama, belum mempunyai pacar. Tapi Mawar paham, wajah Fery yang muram itu bukan karena dia belum punya pacar, tapi ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya. Mawar pun berusaha menanyakan langsung pada Fery, siapa tau dia mau cerita masalahnya.


"Kamu kenapa jadi sedih gitu Fery, ada apa? kamu ada masalah?"


"Gak papa kak Mawar, Fery gak kenapa-kenapa,"


"Jadi beneran gak mau cerita nih, rugi lho kalau gak mau cerita, karena kalau dipendam bisa jadi jerawat lho," gurau Mawar.


Fery terdiam sejenak, sepertinya dia sedang mempertimbangkan apakah dia harus bercerita atau tidak, karena dia sendiri ragu untuk bercerita pada Mawar.


Setelah terdiam sejenak, akhirnya Fery pun memberanikan diri bercerita pada Mawar. Dia menceritakan semua kisah cintanya dan semua perasaannya yang dia pendam selama ini, pada seorang gadis yang sangat dia cintai, sementara dia hanya memendam perasaannya itu, tanpa mengungkapkannya pada gadis itu, semua itu karena sikap gadis itu yang acuh tak acuh padanya, sehingga dia ragu untuk menyatakan cinta nya.


Sedangkan yang membuat dia bertahan mencintai gadis itu, karena dia sudah sangat bahagia meski hanya dengan melihatnya saja, meski tidak bisa memilikinya.


"Menurut kak Mawar, apa ini ya kak yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Fery yang membuat Mawar tersenyum.


"Kok kak Mawar malah senyum sih, kak Mawar ngejek Fery ya?"


"Abisnya kamu lucu, belum juga nyatain, dah bilang cinta bertepuk sebelah tangan. Bukan itu Fery, tepatnya kisah cinta Fery tu cinta dalam diam, cinta tapi gak mau mengungkapkan. Terus mau sampai kapan kamu diam kayak gini? sampai nunggu dia diambil orang dulu, iya?"


"Jadi aku harus apa kak?"


"Pake' nanya lagi, ya kamu harus berani dong nyatain cinta kamu sama dia. Masalah diterima atau enggak, itu urusan belakangan, yang penting dia tau dulu kalau kamu mencintainya, itu yang terpenting,"


Fery terdiam lagi, sepertinya dia masih ragu dan bimbang untuk menyatakan cinta pada gadis itu. Tanpa malu-malu dia pun bicara lagi pada Mawar.

__ADS_1


"Tapi dia cuek kak orangnya. Maksudku, sepertinya dia tidak mencintaiku,"


"Setiap orang itu memiliki kepribadian yang berbeda Fery dan gak selalu yang kita lihat itu sama dengan kenyataannya. Buktinya kakak kamu, selama ini dia bersikap buruk, tapi kenyataannya dia seorang yang penyayang. Begitu juga dengan gadis yang kau idamkan itu, mungkin dia cuek, tapi siapa tau dia juga menyukaimu, mungkin dia kesal harus menunggu lama kamu menyatakan cinta padanya. Ayo dong, Fery pasti berani kok," ucap Mawar yang memberi nasehat pada Fery.


__ADS_2