
Keesokan harinya, pagi-pagi Mawar sudah berada di kamar Rangga. Dia sengaja bangun lebih awal untuk membantu menyiapkan segala keperluan Rangga yang akan dibawa ke rumah sakit.
Setelah selesai mandi, Rangga langsung mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Mawar. Sementara Mawar mengambil sarapan untuk Rangga.
Tidak lama kemudian, Mawar kembali.
"Makanlah yang banyak mas, biar badanmu gak lemas nanti. Aku do'akan semoga mas Rangga bisa cepat sembuh dan bisa berjalan lagi seperti semula,"
"Iya, tapi kamu temani aku juga kan ke rumah sakit?"
"Kayaknya untuk sementara enggak deh mas, soalnya aku sudah tanya langsung sama ibu, katanya selama dia masih cuti, biarlah dia yang menjagamu. Nanti kalau dia sudah masuk kerja lagi, barulah aku yang akan menemanimu,"
"O...gitu, terus gimana dong?"
"Gimana apanya?"
__ADS_1
"Ya gimana kalau aku kangen sama kamu?"
"Lebay..." jawab Mawar yang langsung keluar dari kamar Rangga.
Setelah semuanya siap, Rangga pun berangkat ke rumah sakit dengan ditemani papa dan mamanya dan juga supir pribadi pak Wiryo, mang Hamid. Sementara Fery sudah berangkat ke sekolah.
Mawar, bi Odah dan kang Usep hanya mengantar kepergian Rangga sampai depan pintu. Mereka merasa terharu, karena setelah sekian lama Rangga terpuruk dan putus asa, akhirnya sekarang dia bangkit lagi dan mau berjuang untuk sembuh.
Tidak terasa, bi Odah dan Mawar meneteskan air mata bahagia, karena mereka pun ikut bahagia dengan perubahan Rangga yang membuatnya semangat lagi menjalani hidupnya.
"Iya kang, terimakasih. Kalau begitu kita masuk dulu ya kang,"
"Iya neng, mangga',"
Setelah masuk kedalam rumah, bi Odah dan Mawar ngobrol sebentar, sebelum mereka melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
"Semoga mas Rangga bisa sembuh ya bi,"
"Iya, bibi juga berharap begitu. Kasian den Rangga kalau harus seperti itu terus. Ngomong-ngomong, kamu beneran suka ya sama den Rangga? Bibi sangat mendukung, kalau kamu memang benar-benar menyukai den Rangga. Dia laki-laki yang baik, keluarganya pun semua baik, Bibi rasa tidak akan ada masalah dengan hubungan kalian ke depan,"
"Entahlah bi, sebenarnya Mawar ragu dengan perasaan Mawar. Mawar kan cuma seorang Art, Mawar merasa tidak pantas mendapatkan cinta mas Rangga. Sementara diluar sana, masih banyak wanita yang lebih segala-galanya dari Mawar dan yang lebih pantas mendapatkan cinta mas Rangga,"
"Kamu jangan bicara seperti itu Mawar. Jodoh, rezeki, maut, semua ada ditangan Tuhan. Kalau dia sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, semua bisa terjadi,"
Mawar hanya tersenyum dan mengangguk, mendengar ucapan bi Odah. Mereka kemudian melanjutkan lagi pekerjaan mereka yang tadi sempat tertunda.
Bi Odah pergi ke dapur, sementara Mawar pergi ke kamar Rangga, untuk membersihkan dan merapikan kamar Rangga.
Sesampainya dikamar Rangga, Mawar duduk di tepi ranjang. Dia mengambil bantal yang dipakai Rangga, dia peluk bantal itu seolah-olah dia sedang memeluk Rangga.
"Mas Rangga, aku sangat mencintaimu mas, aku benar-benar sangat mencintaimu. Tapi aku takut, aku takut kamu meninggalkanku, aku takut kamu berpaling dari ku, karena aku bukan siapa-siapa, aku tidak pantas untukmu. Aku sangat senang seandainya kamu bisa sembuh, tapi aku juga takut, kamu akan meninggalkan aku, karena kamu sudah tidak butuh aku lagi di sampingmu," ucap Mawar lirih, sambil tetap memeluk bantal Rangga dengan air matanya yang terus berlinang.
__ADS_1